Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Ungkapan Kekesalan untuk Mereka yang Gelar Hajatan On the Road

Afif Assariy oleh Afif Assariy
23 Februari 2020
A A
Ungkapan Kekesalan untuk yang Menggelar Hajatan On the Road
Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai masyarakat Indonesia, kita tentu tidak asing lagi dengan adanya hajatan yang digelar di tengah jalan. Yap, benar sekali, di tengah jalan. Banyak penduduk negeri nan ramah ini menggunakan jalan yang notabene adalah fasilitas umum strategis untuk melangsungkan urusan pribadinya, meskipun dengan mengganggu kepentingan publik.

Silakan saja jika ada yang tersinggung, toh tersinggung emang hak setiap anak cucu Adam (juga ciri khas bangsa kita). Namun budaya hajatan yang memakan badan jalan bahkan menggunakan jalan itu sendiri, sebenarnya sangat mengganggu kepentingan publik. Dan luar biasanya, hal ini sudah menjadi bad but accepted habits. Dan jika dibiarkan begitu saja, tak ada yang dapat kita lakukan selain menghela nafas panjang, dan bersabar setiap kali menjumpai hal ini.

Memang benar, setiap orang berhak mempublikasikan momen bahagianya, termasuk salah satunya dengan mengadakan hajatan. Namun dalam pandangan pribadi saya, untuk Anda yang melakukan hal tersebut benar memang Anda berbahagia, tapi apa yang terjadi dengan orang-orang yang terganggu dengan kebahagiaan Anda? Bukan mantan pacar Anda yang bersedih karena ditinggal nikah, tapi pengguna jalan, orang yang buru-buru untuk hal penting yang tidak ada hubungan apa-apa dengan urusan Anda harus terkena imbasnya.

Hajatan di tengah jalan, bukan hal yang tabu lagi di masyarakat kita. Saya pribadi tidak begitu mengerti bagaimana hukum dan aturannya. Akan tetapi saya meyakini jika hal semacam ini harus dilarang. Bukan berarti saya tidak memiliki rasa kemanusiaan atau empati. Bukan pula saya iri dengan mereka yang sudah menikah, apalagi kecewa dengan mantan saya yang kini sudah mengandung anak ketiga.

Masalahnya adalah hajatan-hajatan yang digelar di tengah jalan ini acapkali bahkan hampir selalu membuat pengguna jalan berkeluh kesah. Tak ada rasa iri ataupun dengki, hanya kesal dengan si pemilik hajatan yang agaknya semena-mena dalam menggunakan fasilitas publik. Benar memang, bagi orang yang sedang jatuh cinta dunia hanya milik berdua, kita yang lain mah cuma numpang aja.

Sebagian masyarakat mungkin mengamini hal ini dan menganggap hajatan on the road sebagai suatu kewajaran. Orang yang berbahagia mendapat toleransi, bisa menggunakan fasilitas publik seenaknya. Pengguna jalan? Ya bodo amatlah, yang penting bisa party. Agaknya hal itulah yang dipikirkan kedua mempelai beserta panitianya.

Namun saya tak ingin begitu sinis memandang fenomena alam ini, takutnya saya melukai hati sebagian masyarakat, terutama jamaah mojokiah yang tercinta. Mungkin juga si pemilik hajatan juga nggak sejahat itu, hanya minim empati. Apa tak pernah terpikirkan jika hari bahagia bagi mereka justru adalah bencana bagi masyarakat umum?

Saya mengerti jika hajatan-hajatan ini mendapatkan izin untuk menggelar acara. Namun saya bingung kenapa hal semacam ini diperbolehkan, semestinya kebijakan-kebijakan yang ada dibuat untuk kepentingan masyarakat umum. Bukan untuk orang yang tengah bahagia saja. Pengguna jalan bukan hanya mereka yang sedang dalam masa good vibes, di luar sana banyak orang-orang yang tengah kesal, suntuk, capek, dan lelah. Ditambah dengan hajatan yang menghalang perjalanan, bikin orang makin stres.

Baca Juga:

5 Ide Souvenir Pernikahan Bermanfaat yang Nggak Bakal Dibuang Tamu Undangan

Realitas Pahit di Balik Hajatan: Meriah di Depan, Menumpuk Utang dan Derita di Belakang

Soal setiap orang punya hak untuk mempublikasikan kesenangan yang mereka miliki, saya meyakini hal ini merupakan hak asasi manusia. Namun sejauh yang saya ketahui, hak setiap individu dibatasi oleh hak individu lainnya. Mungkin kita sudah lupa dengan pelajaran PPKn yang didapat sewaktu mengenyam bangku sekolah dasar.

Saya yakin banyak yang akan tersinggung dengan tulisan ini. Bahkan saya pernah membicarakan ini sewaktu nongki bersama teman-teman. Alhasil, salah satu teman saya tersinggung, karena ia juga salah satu pelaku hajatan on the road. Dengan pembelaan hajatan atau kenduri ini kan sudah budaya kita, dan juga salah satu bentuk syukur, buktinya hajatan mengundang orang-orang untuk makan gratis. Ya itu bener sih, tapi kalau yang dirugikan lebih banyak dibanding orang-orang yang diundang. Yang enak 100 orang, yang kesel 1000 orang. Kalau itung-itung pahala sama dosa, kita rugi dong.

Ada juga yang berpendapat bahwa hajatan adalah cara untuk menginformasikan bahwa kedua mempelai sudah menikah dan halal untuk you know what (plis jangan piktor). Jadi kalau misalnya terjadi sesuatu di rumah, Akamsi (Anak Kampung Sini) tidak akan salah menggerebek. Tapi di dunia yang sudah modern ini, memberitahu pernikahan sudah tidak serumit itu lagi.

Saya yakin tidak ada agama apa pun di dunia ini yang mewajibkan umatnya untuk menggelar hajatan pernikahan. Tapi hajatan pernikahan di Indonesia bak sebuah keharusan yang wajib dilaksaanakan.

Sebenarnya yang membuat hajatan hukumnya fardhu ain adalah perangai dari masyarakat kita sendiri. Di mata masyarakat kita, pernikahan dinilai belum sah jika tidak ada acara rame-ramean. Dan pernikahan yang tidak melangsungkan hajatan biasanya jadi perbincangan ibu-ibu berdaster di simpang kompleks.

Takut jadi perbincangan tetangga mungkin faktor utama yang mendorong masyarakat mati-matian melangsungkan hajatan. Tak mampu sewa gedung, ya pakai jalan raya saja, udah biasa kok. Hal semacam inilah yang meracuni kehidupan masyarakat kita, hal buruk yang diwajarkan inilah yang membuat kita sulit berkembang. Menolerir kegiatan yang mengganggu kepentingan publik. Masyarakat kita terlalu luar biasa, memberi toleransi tidak pada tempatnya, giliran ada ruang toleransi malah diskriminasi, kan anjay.

Saya kira sudah saatnya kita mengakhiri kebiasaan menjadi masyarakat yang terlalu simbolis. Hajatan yang fungsinya untuk memberi kabar kepada masyarakat hanyalah sebuah kegiatan seremonial sarat akan simbol. Hajatan adalah bentuk rasa syukur secara simbolis, tak harus begitu dan masih banyak cara lain. Tidak menggelar hajatan bukan berarti hina. Jika memang ngebet bikin hajatan, ya silahkan sewa gedung saja. Kalau tidak mampu, ya tak usah dipaksakan. Akan tetapi jika memiliki rumah dengan halaman seluas parkiran Transmart, ya silahkan saja.

Tak ada yang salah dengan menggelar hajatan, tapi yang menjadi persoalan adalah ketika hajatan, atau apa pun kegiatannya yang mengganggu kepentingan publik. Saya sarankan jika hanya akan mengganggu, sebaiknya tak usah bikin hajatan. Dan jika memang tujuannya memberi kabar baik, bisa melalui media lain. Jika ingin bersyukur, silahkan bersyukur. Dan jika ingin berbagi, kiranya lebih baik bagi-bagi berkah kepada yang membutuhkan, seperti yang dilakukan banyak YouTuber.

BACA JUGA Pengalaman Ngurusin Nikahan yang Super Simpel atau tulisan Afif Assariy lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2021 oleh

Tags: HajatanKondanganNikahan
Afif Assariy

Afif Assariy

Penulis adalah seorang fresh graduated unemployment, lulusan jurusan Manajemen, Universitas Andalas.

ArtikelTerkait

Mempertanyakan Relevansi Karang Taruna di Masa Kini

Organisasi Karang Taruna Nyatanya Tak Lebih dari Pelengkap Acara Hajatan dan Ladang Cari Suara Politik

22 Februari 2025
Pengalaman Masa Kecil Bikin Saya Gugup Datang ke Hajatan Mewakili Orang Tua

Pengalaman Masa Kecil Bikin Saya Gugup Datang ke Hajatan Mewakili Orang Tua

4 Februari 2021
Jadi Dewasa Itu Menyeramkan, Harus Bayar Cicilan, Mikirin Harga Sembako, Juga Harus Menghadapi Orang Nyanyi di Kondangan tapi Suaranya Fals

Jadi Dewasa Itu Menyeramkan, Harus Bayar Cicilan, Mikirin Harga Sembako, Juga Harus Menghadapi Orang Nyanyi di Kondangan tapi Suaranya Fals

27 November 2024
10 Istilah Job Desc Rewang Saat Hajatan di Gunungkidul Terminal Mojok.co

10 Istilah Job Desc Rewang Saat Hajatan di Gunungkidul

23 Maret 2022
4 Skill Karang Taruna di Desa yang Sulit Disaingi oleh Warga Kota Mojok.co

4 Skill Karang Taruna di Desa yang Sulit Disaingi oleh Warga Kota

25 Maret 2024
kambing guling

Serba Serbi Perilaku Para Tamu Kondangan dan Kambing Guling yang Selalu Menjadi Primadona

24 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

10 April 2026
Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

9 April 2026
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM
  • Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung
  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.