Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Nggak Semua Undangan Nikah Harus Kita Datangi, Kedekatan Sosial dan Isi Dompet Berpengaruh

Naufalul Ihya Ulumuddin oleh Naufalul Ihya Ulumuddin
2 Februari 2024
A A
Nggak Semua Undangan Nikah Harus Kita Datangi, Kedekatan Sosial dan Isi Dompet Berpengaruh

Nggak Semua Undangan Nikah Harus Kita Datangi, Kedekatan Sosial dan Isi Dompet Berpengaruh (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tiga bulan belakangan ini saya merasa sudah masuk musim nikah. Di bulan ini saja saya sudah mendapat 4 undangan nikah. Sementara dua sampai tiga bulan lalu, terhitung sudah ada 7-10 undangan. Bukannya saya nggak bahagia melihat orang lain menikah, tapi kok ya harus serentak begini. Bisa jebol dompet ini buat kasih amplop.

Banyaknya undangan nikah ini membuat saya mempertanyakan ulang tentang suatu hal. Apa iya semua undangan nikah harus kita datangi? Setelah saya pikir-pikir, kayaknya nggak harus gitu, deh.

Undangan nikah yang menyesuaikan kedekatan sosial

Dari 7 sampai 10 undangan nikah yang saya terima, paling hanya 4 undangan yang benar-benar dari teman dekat. Sisanya adalah teman lama, teman jauh, atau sekadar kenalan yang kebetulan saling save nomor WA. Hal inilah yang saya rasa perlu dipertimbangkan untuk nggak datang, kalau memang nggak mau. Tapi kalau sedang gabut atau ada waktu, datang sebagai tamu undangan akan terlihat lebih bijak.

Akan tetapi kalau saya pribadi, dengan berbagai aktivitas yang cukup padat, biasanya saya memilih untuk menyeleksi undangan nikah yang datang. Seleksi pertama tentu berdasarkan kedekatan sosial. Saya akan datang ke acara nikahan teman yang paling dekat. Kalau nggak terlalu dekat, mohon maaf saja.

Lho, berarti nggak menghargai yang mengundang, dong? Bukannya gitu, Gaes. Bukannya saya nggak menghargai, saya berterima kasih kalau diingat dan diundang. Saya memang nggak menyangka saja kalau diundang karena saya merasa nggak terlalu akrab. Pernah kan merasa kaget tiba-tiba dapat undangan nikah padahal nama mempelainya agak asing di telinga kita? Yah, perasaan semacam itu lah yang saya rasakan ketika mendapat undangan dari orang yang nggak akrab-akrab banget.

Lagi pula, kalau teman dekat biasanya lebih effort ketika memberikan undangan nikah mereka. Misalnya, dulu teman sekelas saya saat SMA mau menikah, dia memberikan undangannya sendiri ke rumah saya bersama calon suaminya. Padahal rumah saya lumayan jauh dari tempat dia, tapi dia memberikan usaha lebih untuk mengantar sendiri undangannya karena merasa memiliki kedekatan sosial dengan saya.

Nah, yang kayak gini biasanya nggak akan saya lewatkan acara pernikahannya. Hujan badai pun pasti akan saya terjang.

Beda dengan teman yang memang nggak terlalu dekat yang sering kali menyebarkan undangan nikah lewat WA grup menggunakan link. Undangannya dalam bentuk link yang sepertinya disebar ke semua kontaknya. Mungkin karena nggak akrab juga, ya. Tapi mohon maaf, undangan semacam ini nggak akan saya datangi.

Baca Juga:

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok 

Menyesuaikan isi dompet juga

Selain pertimbangan kedekatan sosial, isi dompet juga perlu dipertimbangkan. Misalnya di bulan ini saya dapat 4 undangan nikah dan sisa uang saya tinggal Rp400 ribu untuk sebulan. Kalau saya datang ke semua undangan tersebut, bisa-bisa saya nggak jajan sebulan, dong.

Akhirnya, saya menyeleksi keempat undangan tersebut menjadi 2 undangan yang akan saya datangi dengan isi amplop standar, masing-masing Rp100 ribu. Sebab, kalau saya datangi semua dengan isi amplop sedikit pasti lebih malu lagi. Jadi, lebih baik nggak usah datang sekalian. Memang terkesan kurang bijak, tapi sesekali harus dilakukan.

Kadang saya heran, kenapa orang-orang menikah di waktu yang sering kali bersamaan. Kan bikin repot yang mau kasih amplop. Kalau kata orang tua saya sih karena bulannya bagus, jadi harapannya pernikahan mempelai bisa langgeng dan rumah tangga bahagia.

Untuk persoalan uang amplop, banyak teman saya yang menjadikan ajang datang ke nikahan sekalian menabung. Sebab, mereka berharap ketika nanti mereka menikah, amplop-amplop itu akan kembali. Nah, saya pribadi nggak memaknai amplop-amplop itu sebagai tabungan, melainkan sebagai sedekah. Jadi, kalau saya memang sedang nggak punya uang, ya saya memilih untuk nggak datang.

Selain itu, saya ingin mempertegas kalau tamu undangan nikah kalian nggak datang, ada 3 kemungkinan yang terjadi, yakni kurang akrab dengan kalian, dia lagi bokek, atau malah keduanya: karena dia kurang akrab dan lagi bokek. Wqwqwq. Jadi, buat teman-teman yang mengundang saya ke acara pernikahan kalian tapi saya nggak datang, semoga tulisan ini membuat kalian mengerti ya, Gaes. Hehehe.

Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Minta Tolong Mantan Pacar buat Nyebarin Undangan Nikah Itu Otaknya di Mana?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2024 oleh

Tags: acara pernikahanPernikahantamu undanganundanganundangan nikahundangan pernikahan
Naufalul Ihya Ulumuddin

Naufalul Ihya Ulumuddin

Pegiat sosiologi asal Madura. Tertarik isu pendidikan, kebijakan sosial, dan keluarga. Cita-cita tertinggi jadi anak yang berbakti dan suami ideal untuk istri.

ArtikelTerkait

Menghitung Biaya Lamaran Kekinian Butuh Berapa Duit, ya Terminal Mojok

Menghitung Biaya Lamaran Kekinian: Butuh Berapa Duit, ya?

8 September 2022
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Gara-gara Pantangan Menikah Ngalor-Ngulon, Calon Suami Saya Dibuang

Gara-gara Pantangan Menikah Ngalor-Ngulon, Calon Suami Saya Dibuang

26 Februari 2022
3 Hal Sederhana yang Dilakukan Tamu Undangan, tapi Bikin Sinoman Marah

3 Hal Sederhana yang Dilakukan Tamu Undangan, tapi Bikin Sinoman Marah

28 November 2023
Batas Usia Menikah, Aturan Negara yang Benar-benar Ada Gunanya

Batas Usia Menikah, Aturan Negara yang Benar-benar Ada Gunanya

11 November 2023
anak sulung

Anak Sulung yang Berkuasa di Rumah

20 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.