Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

UCL Bukanlah Tolok Ukur Kesuksesan Klub dan Pemain

Daniel Osckardo oleh Daniel Osckardo
12 November 2020
A A
UCL bukan tolok ukur mojok

UCL bukan tolok ukur mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau tongkrongan sudah mulai ngobrol soal UCL, fans klub semacam Arsenal atau Manchester City harus bertelinga tebal atau bahkan mengambil jarak dari tongkrongan. Pasalnya klub dari London Utara dan kota Manchester itu belum sekalipun pernah mengangkat si kuping besar. Pertanyaan “sudah pernah juara UCL belum?” terasa menjengkelkan. 

Meskipun klub Meriam London itu mencatatkan rekor main di liga kasta tertinggi Eropa selama 21 tahun berturut-turut dan pernah menginjakkan kaki di partai puncak pada 2006 silam, tetap saja Arsenal dianggap sebagai tim badut UCL karena belum sekali pun juara dan kerap jadi bulan-bulanan raksasa Jerman, Bayern Munchen. Biasanya fans Arsenal akan melakukan pembelaan diri dengan status satu-satunya tim yang memiliki trofi emas di daratan Britania Raya. 

Orang-orang seakan tidak peduli Arsenal adalah klub tersukses ketiga di Inggris dengan 13 gelar liga. Ya iyalah ini Eropa, bukan domestik. Dan selama tiga tahun terakhir, penggemar Meriam London harus makin menebalkan telinga karena tiga musim terakhir mereka absen dari UCL dan harus rela mentas di liga malam Jumat. 

Kiprah Manchester City di Eropa bisa dikatakan lebih tragis. Bisa dikatakan Manchester City bukanlah apa-apa sebelum datang dana minyak dari Arab. Manchester City tidak masuk dalam hitungan dalam big four tradisional Inggris: Manchester United, Arsenal, Chelsea, Liverpool. 

Semenjak 2009, Manchester City menjelma menjadi salah satu tim raksasa di Liga Premier Inggris, namun tidak pada level UCL. Pencapaian terbaik mereka hanyalah masuk semi final pada musim 2015/2016. Fakta ini menambah ejekan pada para pendukungnya. Biasanya netizen bilang, “money can’t buy UCL.”

Kebarbaran yang tidak kenal ampun dari fans-fans layar kaca itu harus memaksa pendukung tim yang tidak pernah juara UCL itu menjadi orang-orang berkuping tebal. Siapa sih yang tidak kenal bagaimana barbarnya netizen Indonesia. Bahkan ada anekdot jika dalam sebuah kejuaraan ada cabang lomba bacot bisa dipastikan Indonesia akan mendulang medali emas.

Biasanya adalah netizen-netizen “jama’ah trolliyyah” yang jiwa mereka memang kebal bully dan sangat jago dalam membully. Namun, saya ingin katakan kepada netizen yang budiman, UCL tidaklah semenakjubkan itu. Ia memang bergengsi, tapi bukan tolok ukur. 

Tidak ada yang menafikan gengsi dari kompetisi UCL. Ibaratnya, kompetisi tersebut adalah “piala dunianya” sepak bola level klub. Walaupun pesertanya hanyalah tim-tim Eropa, tapi pamornya mengalahkan Piala Dunia Antar Klub. Tapi, terlalu berlebihan ketika kompetisi tersebut menjadi tolok ukur kebesaran sebuah klub atau pemain. Ayolah, kita harus realistis, tidak mungkin kita akan mengatakan bahwa Aston Villa atau Nottingham Forest lebih besar dari Chelsea hanya karena memiliki gelar UCL lebih banyak.

Baca Juga:

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

Selama Real Madrid Tidak Percaya dengan Strikernya, Lupakan Meraih Gelar UCL ke-16

Atau apakah kita akan mengatakan bahwa Karim Benzema lebih hebat dari Ronaldo Nazario da Lima hanya karena Benzema pernah memenangkan tiga UCL ketika yang satunya lagi nirgelar? Tidak ada yang akan sepakat dengan itu. Saya berani bertaruh pemain Prancis itu belum mendekati separuh level Ronaldo asal Brazil tersebut. 

UCL hanyalah sebuah kompetisi yang kebetulan diatur sebagai kompetisi bertemunya klub-klub elit Liga-liga top Eropa. Toh, peserta UCL tidak selalu soal tim-tim besar, sering juga tim-tim kuda hitam berlaga di sana, semacam Leicester City atau Fiorentina. Klub-klub seperti ini pun seringkali mengejutkan, melaju sampai ke fase yang tidak dikira-kira oleh semua orang,  mengalahkan raksasa-raksasa Eropa yang materi pemainnya bertabur bintang. Jadi UCL sebagai tolok ukur kebesaran sebuah klub atau pemain sebenarnya kurang tepat. Cukup nikmati saja dan kurangin bacotannya. 

UCL itu bersifat kolektif. Kita berbicara tentang tim mana yang konsisten dan memperagakan pertandingan yang menarik di atas lapangan, serta seimbang dalam soal menyerang dan bertahan. UCL juga tidak adil untuk membanding-bandingkan pemain. Yang paling sial soal ini adalah Zlatan Ibrahimovic. Ketika Lord Ibra mengeluarkan sebuah pernyataan yang terkesan arogan, netizen akan berkata, “halah, Ibra bacotannya doang yang besar. Belum pernah juara UCL jangan sok keras.” Nggak nyambung, Bro, serius.

Terakhir kepada netizen yang budiman, jika tim kalian pernah juara, nikmatilah. Tetapi, bagi mereka yang timnya belum merasakan hal itu, nggak usah dibacotin. Apa banget coba. 

BACA JUGA Kenapa Kita Butuh Membaca Buku Kiri? dan tulisan Daniel Osckardo lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 November 2020 oleh

Tags: arsenaleropaibrahimovicmanchester cityreal madridUCL
Daniel Osckardo

Daniel Osckardo

Mahasiswa hukum tata negara di UIN Imam Bonjol Padang. Pencinta filsafat, sastra, dan kopi.

ArtikelTerkait

3 Fakta yang Seharusnya Membuat Arsenal Bahagia Meski Gagal Juara Liga Inggris (Unsplash)

3 Fakta yang Seharusnya Membuat Fans Arsenal Tetap Bahagia Meski Gagal Juara Liga Inggris

21 April 2023
Surat Kecil untuk Cristiano Ronaldo: Pergilah Kasih, Kejarlah Keinginanmu messi

Surat Kecil untuk Cristiano Ronaldo: Pergilah Kasih, Kejarlah Keinginanmu

7 Juli 2022
Cinta Palsu Eden Hazard

Cinta Palsu Eden Hazard

6 Juni 2023
eden hazard carlo ancelotti luis enrique david alaba vinicius junior real madrid vs chelsea mojok

Carlo Ancelotti dan Rasa Tidak Bahagia yang Diperlukan

24 September 2021
arsenal guendouzi arteta liga inggris MOJOK.CO

Arsenal Seperti Dipaksa Menjual Guendouzi, oleh Guendouzi Sendiri

10 Juli 2020
Feodalisme Pondok Pesantren Mirip Kontroversi di Liga Inggris (Unsplash)

Persamaan Kontroversi Feodalisme Pondok Pesantren dan Liverpool yang Dibantu Wasit ketika Menjadi Juara Liga Inggris

18 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Tiket Pesawat Sudah Terlalu Mahal, Ini Hitungan yang Lebih Logis (Unsplash)

Tiket Pesawat di Indonesia Sudah Terlalu Mahal dan Tidak Masuk Akal, Berikut Saya Membuat Hitungan yang Lebih Logis

9 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
13 Kosakata Bahasa Madura yang "Menjebak” dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar Mojok.co

13 Kosakata Bahasa Madura Paling “Menjebak” dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar

9 Februari 2026
3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura

4 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.