Uchiha Roy Adalah Jawaban atas Praktik Playing Victim Good Looking – Terminal Mojok

Uchiha Roy Adalah Jawaban atas Praktik Playing Victim Good Looking

Artikel

Avatar

Kawula-kawula muda belakangan mengeluhkan prinsip good looking. Perbuatan banal seketika dimaafkan bila pelakunya memiliki tampang tampan atau cantik. Penyematan good looking  menjamur dan menjadi respons atas ketidakadilan masyarakat. Kita yang tak good looking merasa disingkirkan dari peradaban manusia. Kita senyata-nyatanya korban, apakah benar? Setuju atau tidak, membicarakan Uchiha Roy hanya memunculkan kejelekan semata. Entah itu konten-konten sampahnya, gaya rambutnya, bahkan kepedean yang dimilikinya atas “Uchiha” yang kita tahu lelakinya good looking semua.

Alih-alih menyematkan hal-hal buruk, saya lebih setuju Uchiha Roy dinobatkan sebagai Raja Parodi yang tak lekang oleh cibiran yang datang dari kelas proletar.

Parodi-parodi itu bisa disaksikan ketika merujuk ke konten-kontennya yang faktual, dipadukan visual ala kadarnya—mungkin membuat penonton sendiri merasa malu menonton. Tetapi, bagi saya, visual buruk itu sengaja dipertahankan semata bukan lantaran tak mampu menyewa editor agar hasil visual sebanding dengan garapan VNGNC atau paling tidak opening video-video Froyonion, melainkan menegaskan posisi Uchiha Roy sebagai proletar kawakan yang mampu mendobrak kancah konten kreator yang serba good looking dan penuh kepalsuan efek visual.

Juga bagaimana kehadiran gaya rambutnya sebagai angin segar untuk kaum emo pascamodern—alih-alih menyebutnya sebagai jamet—yang kerap dipersekusi norak lantaran selera musik dan gaya berpakaian.

Masih ingatkah sala satu video Uchiha Roy yang menyatakan cinta kepada Wulan di hamparan luas ilalang yang berakhir kandas itu? Ya, video itu dinamakan “Dari Jendela Mana?” dan menjadi video dengan episode yang paling banyak digarapi. Video itu memang membuat kita terpingkal-pingkal, namun bukan pada sisi gelapnya.

Kita terlalu sibuk meratapi Uchiha Roy mencontohkan gaya berlari ala ninja-ninja di serial Naruto dan semilir angin membuat rambutnya tersibak. Padahal esensi video tersebut terletak pada dialog dalam hati Uchiha Roy dan Wulan, yang menyindir tipikal film azab yang tak bermutu didikan Indosiar; film-film yang memarjinalkan perempuan.

Uchiha Roy semakin tronjal-tronjol memasarkan jokes-jokes gelapnya. Setelah menyindir Suara Hati Istri ala Indosiar, dia menyerang konten kreator yang mempermainkan harga diri seseorang dan menamakan konten itu sebagai prank. Dengan perkataan, “Kamera aku letakkan di sini.” untuk menunjukkan anekdot angle kamera telah terstruktur. Awal hingga akhir telah ditempatkan sebagaimana dikehendaki.

Namun, “kamera aku letakkan di sini” malangnya tak mampu diterima dengan cerdas. Kita kemudian melihat tandingan “kamera aku letakkan di sini” oleh dua aparatur sipil negara. Tandingan bikinan dua aparatur sipil negara itu menekankan kualitas prank Uchiha Roy buruknya telah kafah dan harga mati, tidak menghadirkan ledakan di akhir sebagaimana prank jamaknya.

Melihat tandingan itu, Uchiha Roy merasa terpanggil mencerahkan, sehingga membuat versi kedua “kamera aku letakkan di sini” yang lebih gelap.

Bila kamera yang sebelumnya berseberangan kepadanya, di versi kedua kamera diletakkan di belakang rambutnya. Hasil videonya malah memperlihatkan dari sudut tak berbeda dari versi perdana.

Dan yang teranyar, Uchiha Roy merespons quotes Squidward Tentacles, “Kenapa berita lokal selalu membicarakan hal bodoh?” atas berita semacam Lesti memasang behel yang muncul di Insert dan Selebrita. Meski, berita-berita infotainment di Indonesia memang cenderung penuh kebodohan.

Video tersebut dinamakan “BERTARING: Berita Sangat Penting”. Uchiha Roy tidak memotong rambutnya di akhir tahun, tidak sebagaimana Adam Suseno yang mencukur kumisnya lantaran akhir tahun. Disajikan seperti liputan dan ditutupi jokes anak-anak FB, “Setelah melihat postingan ini, saya akan memukul orang yang lewat di depan rumah.”

Beberapa konten tersebut menunjukkan bahwa Uchiha Roy bukan sembarang konten kreator. Kejeliannya yang dipadukan dengan kesederhanaan membuatnya menjadi pembeda di gelanggang konten kreator yang busung berdagingnya menyuguhkan konten.

Malangnya, stigma kejelekannya adalah infinite regress (kemunduran tak terbatas) selama kita masih mengurusi hal-hal fundamental. Kejelekan rupanya menjadi batu yang menjulang untuk diterima.

Dan, benarkah kita disingkirkan dari peradaban manusia karena tak good looking? Seperti bagaimana kita saat masih mencemooh konten Uchiha Roy yang tampak “bersalah” dari perspektif kita sendiri. Padahal, kita hanya tak bisa menangkap esensi yang dibangunnya.

Jangan-jangan, selama ini, kita hanya praktik playing victim good looking. Sekaligus, kita tak mawas diri dengan betapa bobroknya selera humor kita.

Sumber gambar: Cincant TV

BACA JUGA Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Good Looking

Baca Juga:  Andihiyat Adalah Basnya Lini Masa Twitter Indonesia
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
12


Komentar

Comments are closed.