Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Tunjangan Kinerja buat ASN, Beban Kerja buat Honorer, di Mana Adabmu?

Yulfani Akhmad Rizky oleh Yulfani Akhmad Rizky
30 Oktober 2025
A A
Tunjangan Kinerja buat ASN, Beban Kerja buat Honorer, di Mana Adabmu?

Tunjangan Kinerja buat ASN, Beban Kerja buat Honorer, di Mana Adabmu?

Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah pemandangan memuakkan yang sudah jadi rahasia umum di banyak kantor pemerintahan: seorang rekan tenaga honorer yang pontang-panting mengerjakan tumpukan tugas inti, sementara ASN (ya, kalian para PNS dan PPPK yang terhormat) yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas tugas itu, justru lebih santai seolah tak punya beban.

Sebelum kita mengupas lebih dalam fenomena “ASN rasa bos, honorer rasa babu” ini, saya ingin tegaskan: fokus tulisan ini murni soal empati dan etika kerja, bukan soal seluk-beluk bagaimana rekan honorer bisa masuk atau apakah mereka “titipan” orang dalam.

Saya tidak sedang menggeneralisasi, tentu banyak rekan ASN yang berintegritas. Tapi fenomena ini terlalu sering terlihat untuk bisa diabaikan. Dan sebagai sesama ASN, setiap kali melihatnya, saya cuma mau bertanya: Kita ini masih punya malu?

Kasta tak terlihat, kerja paling keras

Kita semua tahu, tenaga honorer adalah tulang punggung operasional di banyak instansi. Mereka sering kali mengerjakan tugas-tugas vital. Tapi, status mereka jelas berada di posisi paling rentan: penghasilan yang sering kali pas-pasan (bahkan di bawah UMR), tanpa tunjangan layaknya kita (ASN), dan hidup dalam kecemasan abadi soal perpanjangan kontrak.

Di tengah kondisi inilah, ironisnya, mereka justru sering menjadi “tempat sampah” pekerjaan. Tugas-tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab utama kita sebagai ASN—menjadi Person In Charge (PIC) sebuah kegiatan, menyusun laporan strategis, bahkan membuat bahan paparan pimpinan—dengan entengnya kita limpahkan ke meja mereka.

Dalihnya pun klasik: “Kamu kan lebih ngerti komputernya,” “Biar kamu sekalian belajar,” atau alasan paling jujur (tapi tak terucap): “Karena saya ASN dan kamu bukan siapa-siapa.”

Eksploitasi terselubung berbalut empati palsu

Mari kita bicara terus terang. Ini bukan sekadar soal beban kerja. Ini soal eksploitasi dan nol empati.

Bagaimana bisa kita tega membebani seseorang yang mungkin sedang berjuang dengan penghasilan terbatas dan ketidakpastian masa depan—apalagi di tengah menggantungnya status sebagian honorer yang nasibnya di-PHP soal pengangkatan PPPK—dengan tanggung jawab besar yang seharusnya kita pikul?

Baca Juga:

Daripada ASN Day, Kami para ASN Lebih Butuh Serikat Pekerja!

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

Bagaimana bisa kita tenang, sementara kita menyuruh mereka lembur menyelesaikan pekerjaan kita?

Kita, para ASN, digaji oleh negara (dari uang rakyat) untuk memegang tanggung jawab itu. Kita punya NIP atau nomor induk PPPK, punya jabatan, punya tunjangan kinerja yang jelas. Sementara rekan honorer? Mereka dibayar untuk membantu, bukan untuk mengambil alih pekerjaan inti kita.

Melimpahkan tugas inti kepada tenaga honorer bukan sekadar soal etika kerja yang buruk. Ini adalah pelarian dari tanggung jawab. Ini adalah cerminan kemalasan kita yang berlindung di balik struktur kekuasaan. Menyebut posisi mereka “rentan” bukan bermaksud merendahkan, tapi itulah realitas yang kita manfaatkan.

Tentu, akan selalu ada yang berdalih, “Kan itu pilihan mereka sendiri untuk bekerja di situ?” Ya, benar, itu pilihan mereka. Tapi kita juga harus jujur. Di tengah realita cari kerja yang susahnya minta ampun seperti sekarang, “pilihan” sering kali hanyalah ilusi. Banyak dari mereka yang bertahan bukan karena cinta mati pada pekerjaan ini, tapi karena pilihan lain belum tentu ada. Ini murni penyalahgunaan kekuasaan, memanfaatkan kerentanan mereka yang tidak bisa menolak karena takut kontraknya tidak diperpanjang. Dan mereka takut kontraknya tidak diperpanjang, karena mereka tahu betul mencari pekerjaan baru di luar sana tidaklah mudah.

Profesionalisme ASN hanya sebatas absen pagi?

Menugaskan honorer di luar job description-nya, apalagi tugas yang merupakan tanggung jawab inti ASN, itu jelas-jelas tidak profesional. Titik. Ini bukan lagi soal “belum mampu mengelola pekerjaan”, ini soal mentalitas “tuan” yang sudah mendarah daging.

Di mana letak integritas kita? Bukankah seharusnya kita malu? Malu karena digaji penuh oleh negara, tapi pekerjaannya dilempar ke orang lain yang gajinya jauh di bawah kita. Malu karena kita punya kepastian karier, tapi tega membebani mereka yang masa depannya abu-abu. Dan, malu karena kita menuntut mereka profesional, padahal kita sendiri berkhianat pada amanah.

Jangan berlindung di balik kata “delegasi”. Ada perbedaan besar antara delegasi yang sehat (memberikan tugas pendukung sesuai kapasitas) dengan eksploitasi (melepar tanggung jawab inti).

Sudah saatnya kita, para ASN, berhenti berkaca dan mulai bertindak. Perlakukan rekan-rekan honorer kita sebagai mitra kerja yang setara, dengan lebih manusiawi dan profesional. Hargai kontribusi mereka, pahami posisi mereka yang tidak mudah, dan yang terpenting: kerjakan sendiri tugas inti kita.

Ingatlah, status ASN bukanlah lisensi untuk jadi “tuan” dan lepas tangan. Kalau kita masih hobi “nyuruh” padahal itu tugas kita, kita tidak lebih baik dari mandor zaman kolonial. Mari tunjukkan kita layak digaji rakyat, bukan cuma pandai cari babu.

Penulis: Yulfani Akhmad Rizky
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Cerita Honorer yang Terancam Di-PHK Imbas UU ASN: “Capek-capek Usaha Membahagiakan Orang Tua, Malah Dikhianati Negara”

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2025 oleh

Tags: asnbeban kerja ASNhonorernasib pekerja honorerpnstunjangan kerja ASN
Yulfani Akhmad Rizky

Yulfani Akhmad Rizky

Pelayan rakyat sekaligus mahasiswa bujangan, lebih hafal jadwal flash sale panci mini daripada jadwal dinas luar kota.

ArtikelTerkait

Bersama Universitas Terbuka, Semua Mimpi Bisa Terwujud, lho!

Bersama Universitas Terbuka, Semua Mimpi Bisa Terwujud, lho!

31 Agustus 2023
Jalur 'PNS Titipan' Sudah Mulai Punah dan Semoga Saja Tetap Begitu terminal mojok.co

Selain Terpapar Radikalisme, Pemerintah Perlu Sediakan Situs Pelaporan bagi PNS yang Malas dan Ketus

13 November 2019
Persentase Kenaikan Gaji ASN Memang Lebih Besar, tapi Jangan Dipakai untuk Mengadu ASN dan Pekerja Swasta dong!

Persentase Kenaikan Gaji ASN Memang Lebih Besar, tapi Jangan Dipakai untuk Mengadu ASN dan Pekerja Swasta dong!

26 November 2023
3 Alasan PNS Seharusnya Nggak Usah Lembur terminal mojok

3 Alasan PNS Seharusnya Nggak Usah Lembur

4 Oktober 2021
Kasta Jabatan PNS Dilihat dari Posisinya Saat Foto Bersama Terminal Mojok

4 Alasan PNS Ogah Menggadaikan SK ke Bank

19 Maret 2022
WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

27 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup Mojok.co

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

12 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

12 Mei 2026
Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns cat asn

Terima Kasih untuk Siapa pun yang Mencetuskan dan Melaksanakan Ide CAT CPNS, Tes yang Tak Pandang Bulu, Tak Pandang Siapa Dirimu

13 Mei 2026
Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokal Mojok.co

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya

11 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.