Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Tukang Sayur di Tengah Keterasingan dan Ketakutan Virus Corona

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
25 Maret 2020
A A
Tukang Sayur di Tengah Keterasingan dan Ketakutan Virus Corona

Tukang Sayur di Tengah Keterasingan dan Ketakutan Virus Corona

Share on FacebookShare on Twitter

Ada yang pernah mengalami betapa sulitnya mengingatkan orang tua untuk stay home saja di tengah pandemi virus corona? Susahnya minta ampun. Kalau besok saya meninggal dan masuk neraka, mungkin bukan karena terpapar virus corona, tapi marah-marah sama ibu dan bapak. Hampir tiap hari. Apakah yang kayak gini masuk kategori durhaka?

Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa. Beliau suka sekali memasak. Setiap hari, beliau harus pergi ke pasar. Beliau menganut paham “kesegaran adalah raja” seperti yang diajarkan oleh Gordon Ramsey lewat acara televisi Gordon’s Great Escape. Acara televisi yang cuma tayang satu tahun saja lalu gulung tikar itu.

Menjadi dilema ketika anjuran “di rumah saja” menggema. Beberapa hari yang lalu Pak Sultan HB X menganjurkan untuk slowdown. Sebagai orang Jawa yang berusaha untuk mengikuti “sabda pandita ratu”, ibu saya jadi galau. Kalau nggak ke pasar, nggak dapat bahan-bahan segar untuk memasak. Kalau ke pasar, nggak mengikuti anjuran Pak Sultan.

Untung saja, di saat seperti ini, tukang sayur keliling langganan ibu saya menjadi penyelamat. Tukang sayur langganan ibu saya namanya Mbak Asih. Sudah punya dua anak. Mbak Asih ini sosok tukang sayur yang disiplin waktu. Beliau datang ke kampung saya di antara pukul 09.00 sampai 10.00 pagi. Tidak kurang, tidak pernah lebih.

Sayur, daging-dagingan, dan bumbu masak yang dibawa memang sudah tidak lengkap. Namun, setidaknya, bisa menjadi penyelamat ketika ibu saya nggak sempat ke pasar. Menjadi penyelamat juga untuk ibu-ibu kampung yang berusaha untuk manut kepada anjuran Pak Sultan.

Mbak Asih biasa ngetem di samping rumah saya. Sepeda onthel dengan dua keranjang besar itu disandarkan ke pagar tanaman di samping rumah saya. Ibu-ibu langsung berkumpul untuk berebut bahan-bahan untuk memasak. Suatu kali saya mencuri dengar obrolan ibu-ibu itu. bukan, bukan hobi saya menguping. Kebetulan, kantor Mojok sudah work from home.

Ibu saya, yang sudah saya “cekoki” dengan pentingnya cuci tangan sesering mungkin itu mencoba menjelaskan kepada Mbak Asih, si tukang sayur, soal virus corona.

“Nggak takut po kamu sama virus corona?” Tanya ibu saya sambil mengambil seikat kacang panjang.

Baca Juga:

4 Kelakuan Pembeli yang Bikin Tukang Sayur Keliling Ingin Ganti Kerjaan

Tukang Sayur di Pasar Kebayoran Lama Lebih Makmur dari Pekerja SCBD: Nggak Perlu Lembur untuk Hasilkan Jutaan Rupiah Tiap Hari

“Ya takut to, Bu. Katanya gampang menular,” jawab mbak tukang sayur itu.

“Nanti sampai rumah jangan cuma cuci tangan tapi mandi, Mbak Asih,” kata Ibu saya memberi petunjuk. Kalimat itu terasa akrab di telinga saya. Lha wong itu kalimat yang selalu saya dengungkan tepat setelah Ibu sampai rumah dari pasar.

“Lho, sampai mandi segala?”

“Iyo, biar bersih sekalian.”

Saya berhenti mendengarkan perbincangan ibu-ibu itu. Yang lalu ada di dalam pikiran saya adalah banyak orang kecil yang menjadi “penyelamat” di tengah pandemi virus corona ini. Selain petugas medis; tukang sayur, pengayuh becak, ojek online, tukang londri, sampai tukang buah menjadi orang-orang yang menanggung risiko tinggi.

Mereka tahu betul, kok, soal risiko yang akan dihadapi ketika memutuskan keluar dari rumah. Namun, dapur mereka harus tetap mengepul. Satu hal yang tidak mereka pahami adalah pikiran sederhana itu menjadi penyelamat bagi orang lain. Membantu orang lain supaya tidak perlu keluar rumah dan menanggung risiko yang sama.

Mbak Asih, dan Mbak-Mbak tukang sayur keliling lainnya seperti orang yang terasing. Belum pernah disentuh oleh kebaikan orang lain yang buru-buru menyumbang untuk petugas medis, misalnya.

Baru-baru ini saja Presiden Jokowi mencanangkan Bantuan Langsung Tunai. Kenapa nggak dari kemarin, Pak? Biar orang kecil seperti tukang sayur keliling seperti ini tidak perlu terasing di tengah kebaikan. Terlupakan dan menanggung risiko yang tinggi. Ketika perhatian kita tersita kepada kerja luar biasa petugas medis, keberadaan orang kecil lainnya seperti lesap tanpa bekas.

Oh, jangan salah. Mereka ini merasakan takut yang luar biasa. Pedagang koran di lampur merah, penjaja susu murni, tukang siomay, sales bubuk abate, sampai tukang tambal panci hilang dari sisi-sisi pikiran kita. Keberadaan mereka baru terasa penting ketika “mereka hadir secara fisik” di depan kita. Setelah kita menikmati jasa mereka, keberadaan mereka menjadi “lesap lagi”.

Saya tidak bisa melakukan banyak hal selain mendoakan Mbak Asih dan orang-orang kecil lainnya terhindar dari mara bahaya.

Mereka yang menanggung risiko tinggi karena perut lapar. Mereka yang hanya ingin bekerja tetapi malah berjasa besar untuk orang lain. Semoga mereka mendapatkan perhatian sama besarnya seperti petugas medis dan wakil rakyat yang hebat di singgasana itu.

BACA JUGA Petugas Medis Boleh Dianggap Pahlawan, tapi Jangan Lupa Mereka Juga Korban atau tulisan Yamadipati Seno lainnya. Follow Twitter Yamadipati Seno.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2020 oleh

Tags: pademi coronatukang sayurvirus corona
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

ArtikelTerkait

irasional wabah covid-19 Kenapa Sih Pemerintah Hobi Pakai Istilah Njelimet Buat Komunikasi sama Rakyat?

Kenapa Sih Pemerintah Hobi Pakai Istilah Njelimet Buat Komunikasi sama Rakyat?

21 Maret 2020
Sisi Gelap di Balik Semakin Banyaknya Pedagang Sayur Keliling (Unsplash)

Sisi Gelap di Balik Semakin Banyaknya Tukang Sayur Keliling

24 Juni 2023
mahasiswa selesai kompre, pengangguran

Nasib Pengangguran: Cari Kerja Susah, Dagang Nggak Bisa, di Rumah Aja Nyusahin Orang Tua

12 April 2020
Lockdown Mandiri di Desa Bikin Sadar kalau Cuma Ketua RT yang Bisa Nyelametin Kita

Lockdown Mandiri di Desa Bikin Sadar kalau Cuma Ketua RT yang Bisa Nyelametin Kita

30 Maret 2020
orang desa, anak kuliahan

Orang Desa Nggak Takut Corona Bukan Karena Agama

23 Maret 2020
Panic Buying, Orang Miskin Cuma Bisa Nontonin

Orang Kaya Sibuk Panic Buying, Orang Miskin Cuma Bisa Nontonin

5 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

8 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.