Trik Merespons Collector Menyebalkan dan Sok Galak yang Tagih Pinjaman via Telepon – Terminal Mojok

Trik Merespons Collector Menyebalkan dan Sok Galak yang Tagih Pinjaman via Telepon

Artikel

Seto Wicaksono

Bagi saya, penagih atau collector pinjaman online yang suka menagih dengan menghalalkan berbagai cara itu menyebalkan. Lantaran sering kali mengganggu kenyamanan orang lain yang, bahkan tidak ada hubungannya dengan si peminjam.

Bermodalkan nomor hape kita ada di hape si peminjam, kita langsung di SMS, bahkan tak jarang ditelepon untuk mengingatkan si peminjam agar membayar kewajibannya.

Hal tersebut juga saya alami sebagai HRD. Serius. Hampir selalu saya mendapat telepon dari para collector berulang kali. Tujuan mereka menelepon kepada saya sebagai salah satu HRD perusahaan, tentu saja bukan untuk menanyakan lowongan kerja yang tersedia atau tahap lanjutan dari suatu proses perekrutan karyawan. Melainkan untuk menagih pinjaman yang kata collector-nya, dilakukan oleh karyawan.

Ada yang bertanya secara baik-baik. Ada juga yang sejak awal sudah ngegas. Malesin. Bahkan, nggak sedikit juga collector yang menggunakan kata-kata atau ungkapan merendahkan. Beberapa kata template yang sering saya terima, di antaranya:

“Hey, babu. Saya mau minta data si Yanto (nama samaran). Cepat! Dia punya utang sudah menumpuk!”

“Hey, jongos. Kasih tahu ke si Mamat (nama samaran) karyawan kau yang goblok itu, segera bayar pinjamannya! Ditelepon, malah kabur-kaburan melulu.”

Mau bagaimanapun respons yang saya berikan, selalu salah bagi para collector.

Saat saya jawab, “Iya, nanti akan diinfokan ke yang bersangkutan”. Jawaban dari collector selalu saja, “Halah, kau jangan iya-iya aja. Cepat infokan sekarang juga. Saya tunggu. Kalau perlu, telepon ini nggak usah ditutup!”

Pada kesempatan lain, ketika saya menjawab, “Karyawan tersebut sudah resign, jadi sudah di luar kuasa kami.” Si collector malah merespons, “Nggak usah lah kau sembunyikan dia. Dibayar berapa kau sama dia? Jadi jongos aja belagu kali kau!”

Setelah kejadian ini saya alami berkali-kali, ada beberapa hal yang saya soroti.

Pertama, sebagai sesama karyawan, mohon sekali, jika melakukan pinjaman, apalagi secara online, sebisa mungkin bayar tepat waktu untuk meminimalisir hal-hal yang tidak menyenangkan. Kalaupun belum bisa, selesaikan secara personal. Jangan bawa-bawa perusahaan. Kalau seisi kantor tahu, berpotensi jadi bahan gibah. Tentu akan menjadi sesuatu yang tidak nyaman.

Kedua, ini collector pinjaman online yang menagih via telepon kenapa selalu ngegas dan marah-marah, sih? Serius, nggak bikin saya takut sama sekali. Saya malah keheranan sekaligus merasa lucu. “Ini orang kenapa ujug-ujug marah begini, sih?” itu yang selalu saya pikirkan selama ini.

Para collector yang menghubungi saya, hampir semuanya memiliki ciri serupa dengan logat tertentu. Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk menyamakan logat dengan mereka. Pikir saya, barangkali jika menggunakan logat yang sama, rasa saling memiliki karena merasa dari satu daerah pun jadi semakin kental gitu.

Suatu ketika, lagi-lagi saya mendapat telepon dari seorang collector yang menagih utang dengan cara kurang menyenangkan.

“Bodat! Cepat kasih tahu si Lambe (nama samaran), suruh bayar utangnya! Ku tunggu, ya. Nggak usah banyak cakap. Ku tumbuk nanti kepala kau, ya.”

Dengan ketenangan yang mumpuni dan karena sudah belajar dari istri saya yang memiliki logat serupa, saya memberanikan diri merespons collector tersebut.

“Heh! Lantam kali mulut kau, ya. Dari mana kau rupanya? Baik-baik kau kalau mau nelepon aku!”

Tanpa saya duga, nada bicara si collector pun berubah drastis. Dari yang sebelumnya ngegas, jadi sedikit lebih sopan.

“Eh, Abang dari mana rupanya? Tinggal di mana Abang di Jakarta? Berkawan lah kita, Bang.”

Setelah itu, saya langsung menjawab dengan lugas, “Nggak perlu kau tahu asalku dari mana. Jangan laju kali mulut kau lain kali, ya. Buat malu aja kau.” Tidak lama kemudian, teleponnya ditutup.

Hmmm. Saya pikir, boleh juga cara ini digunakan. Bukan untuk melindungi seseorang yang memiliki kewajiban bayar utang, melainkan untuk mengakhiri percakapan yang nggak penting-penting amat dengan para penagih pinjaman online yang menyebalkan dan sering kali galak.

Kali lain, saya dihubungi kembali oleh collector yang awalnya sok-sok ngegas sekaligus mengancam.

“Heh, budak perusahaan! Aku nggak peduli kali jabatan kau apa. Cok kabari temanmu di kantor itu, suruh si Jumadi (nama samaran) bayar tunggakan. Dah berapa bulan ini!”

Tentu saja saya sudah memiliki cukup pengalaman menghadapi lagu lama ini dan betul-betul siap merespons dengan cara serupa.

“Ku dengarkan dari awal lantam kali mulut kau, ya? Nggak bisa sopan sikit kau?” jawab saya sambil menahan tawa. Di luar dugaan, kemudian ia langsung menjawab,

“Nggak gitu lah, Bang. Awak lagi kerja, Bang. Kan kita sama-sama dari daerah, bantu lah adek sikit, Bang. Dah berapa lama Abang di Jakarta, Bang?”

Spontan saya langsung menjawab, “Nggak perlu tahu kau dah berapa lama aku di Jakarta. Yang sopan sikit, lah.”

Tidak lama kemudian, lagi-lagi teleponnya ditutup. Rasanya nggak berlebihan jika pada akhirnya saya berpikir bahwa cara yang sudah dilakukan terbilang ampuh untuk meredam collector yang nyebelinnya naudzubillah setan itu.

Barangkali, dalam waktu mendatang, ada cara lain yang lebih baik dalam menagih utang secara online. Selain yang melakukan pinjaman pun harus memiliki kesadaran diri untuk melakukan tanggung jawabnya masing-masing.

BACA JUGA Dua Sisi Pinjaman Online: Antara Pencairan Mudah dan Data Pribadi yang Dikorbankan dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Baca Juga:  Tutorial Menagih Utang yang Baik dan Benar
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
4


Komentar

Comments are closed.