Transportasi Publik di Surabaya Dibuat Sekadar untuk Gimik Politik

Transportasi Publik di Surabaya Dibuat Sekadar untuk Gimik Politik Terminal Mojok

Transportasi Publik di Surabaya Dibuat Sekadar untuk Gimik Politik (Cornelius Krishna Tedjo/Shutterstock.com)

Selama tujuh belas tahun tinggal di Surabaya, saya melihat banyak perubahan di Kota Pahlawan, utamanya soal ruang terbuka hijau dan pelebaran jalan. Harus diakui, Surabaya kini punya jalan raya yang amat lebar yang mana dalam satu jalur bisa terdapat sampai enam lajur. Kalau dihitung dengan arah sebaliknya, berarti ada dua belas lajur dalam satu jalan. Namun, kondisi tersebut tak lantas membuat Surabaya terbebas dari kemacetan. Global Traffic Scorecard justru menempatkan Surabaya sebagai kota termacet di Indonesia.

Melebarkan jalan bukan solusi untuk mengurai kemacetan di Kota Pahlawan. Mau dibuat selebar apa pun jalannya, kalau jumlah mobil dan motor terus meningkat, ya percuma saja. Meski begitu, bukan berarti kemacetan di Surabaya disebabkan rakyat yang konsumtif dalam membeli kendaraan bermotor. Salah satu alasan warga Surabaya tetap mengendarai mobil dan motor pribadi tentu saja karena Surabaya nggak punya alternatif transportasi publik yang memadai.

Sek, sabar, jangan marah dulu. Iya, saya tahu, Surabaya sudah mulai berbenah dan membangun transportasi umum yang diharapkan bisa membantu mengurangi kemacetan di jalan. Sayangnya, semua program yang dibuat Pemerintah Kota Surabaya kesannya gimik politik doang. Gigantik saat dipresentasikan, tapi nothing ketika dipraktikkan.

Masih ingat, kan, gimana kerennya media mengulas tentang Suroboyo Bus? Bus berwarna merah yang diklaim modern dan ramah lingkungan. Untuk bisa naik Suroboyo Bus, warga Surabaya nggak membutuhkan uang, melainkan hanya perlu botol plastik. Keren nggak tuh? Mana ada kota lain yang punya bus umum sevisioner Suroboyo Bus?

Dulu, naik Suroboyo Bus bayar pakai botol plastik (Shutterstock.com)

Sayangnya, Suroboyo Bus hanya keren saat dibuat presentasi dan topik berita. Begitu resmi diluncurkan dari 2018 sampai sekarang, bus yang digadang-gadang sebagai transportasi publik masa depan ini sepi penumpang. Suroboyo Bus lebih sering terlihat mengangkut lelembut ketimbang orang.

Selama tiga tahun beroperasi, Suroboyo Bus hanya berhasil mengangkut 3 juta penumpang. Jauh banget bila dibandingkan dengan TransJakarta yang penumpang hariannya mencapai 1 juta. Boro-boro dibandingkan dengan Jakarta, dibandingkan Trans Semarang saja kalah, Rek. Suram.

Kalau ada yang ngomong, “Lah, arek Suroboyo manja, nggak mau naik bus umum!” Sini, tak selotip dulu mulutnya.

Orang Surabaya nggak beralih dari transportasi pribadi ke Suroboyo Bus ya karena busnya nggak bisa digunakan untuk daily life transportation. Bus ini hanya cocok untuk orang yang ingin berwisata sambil jalan-jalan cantik di Kota Pahlawan.

Lah piye, masa orang Surabaya harus mungutin sampah botol plastik dulu setiap malam agar besok paginya bisa naik Suroboyo Bus ketika mau berangkat kerja? Kan ngelawak banget. Bukannya jadi ramah lingkungan, orang malah rajin beli botol plastik di minimarket biar bisa naik bus.

Masalah pembayaran ini kemudian memang diperbaiki, sih. Terhitung sejak 2021, warga sudah bisa naik Suroboyo Bus pakai uang, nggak perlu botol plastik lagi. Meskipun begitu, Suroboyo Bus tetap saja sepi penumpang, padahal busnya bagus dan bersih.

“Fix, ini sih sudah jelas masalahnya karena arek-arek Suroboyo males naik bus!” Hmmm, males dengkulmu.

Begini, lho, Suroboyo Bus itu nggak bisa menjawab kebutuhan transportasi harian warga Surabaya. Apa sih yang paling diinginkan seseorang ketika naik transportasi publik? Jawabannya pasti nggak jauh dari soal kemudahan akses, rute yang luas (menjangkau seluruh sudut kota), efisien, hemat, dan nyaman. Sialnya, semua itu nggak dimiliki oleh Suroboyo Bus, kecuali soal kursinya yang nyaman.

Suroboyo Bus nggak punya jalur khusus (EftiYunita/Shutterstock.com)

Rute Suroboyo Bus juga sangat terbatas. Jangankan menjangkau seluruh sudut kota Surabaya, setengahnya saja belum. Selain itu, headway Suroboyo Bus tuh lama banget, bisa lebih dari 20 menit. Ditambah lagi busnya lelet, merayap seperti siput. Lagian gimana mau cepat, ha wong nggak punya jalur khusus, kok. Kalau sama-sama nggak punya jalur khusus, apa bedanya Suroboyo Bus dengan bus kota DAMRI? Bahkan kedua bus tersebut rutenya ada yang sama atau mirip-mirip, lho.

Lantas, apa sebenarnya yang hendak ditawarkan oleh Suroboyo Bus agar orang mau berpindah dari naik motor dan mobil ke bus? Ya nggak ada, makanya busnya sepi.

Warga Surabaya kalau mengandalkan transportasi publik jatuhnya malah tua di jalan, nggak efisien dan boros. Iya, boros, kan busnya nggak menjangkau semua kawasan, jadi kalau ada rute yang nggak dilewati bus, kita musti naik ojek online lagi. Ribet banget, sumpah. Saya beri contoh, ya, biar kesannya nggak membual atau sambat doang.

Misalnya saya dari Terminal Bungurasih mau nonton bola di Stadion Gelora Bung Tomo naik transportasi publik di Surabaya. Maka prosesnya akan seperti ini: pertama naik bus DAMRI turun di Margomulyo (ongkosnya Rp10 ribu), kemudian lanjut naik bemo turun di Pasar Benowo (ongkosnya Rp6 ribu). Dari Pasar Benowo ke stadion nggak ada transportasi publik lagi. Jadi, saya harus naik ojek (ongkosnya sekitar Rp10 ribu). Total ongkosnya jadi Rp 26 ribu.

Gimana? Ribet dan mahal, kan? Sudah waktunya lama lantaran harus oper ke beberapa moda transportasi, eh, ongkosnya juga mahal. Dibandingkan dengan naik motor sendiri, beli bensin nggak sampai Rp20 ribu sudah sampai stadion, bahkan pulang-pergi.

Masalah efisiensi dan ketersedian rute inilah yang harus dijawab oleh Pemerintah Kota Surabaya jika ingin mengajak warganya berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Selama warga nggak merasa kalau bus lebih efisien—baik secara waktu maupun biaya—selama itu pula transportasi publik di Surabaya nggak cukup berguna.

Kalau mau diingat-ingat, sebenarnya pada tahun 2005, wali kota Surabaya waktu itu juga pernah mewacanakan akan membangun MRT yang diberi nama SMART (Surabaya Mass Rapid Transportation). Desain pembangunan SMART bahkan sudah tersebar di media. Namun, sekali lagi, program tersebut hanya santer terdengar saat kampanye atau acara-acara politik. Sampai masa jabatan wali kota berakhir dari 2005 sampai 2010, nggak ada pembangunan apa-apa tuh.

Kemudian ketika wali kota berganti, warga Surabaya kembali diberi angin segar. Kabarnya wali kota terpilih, Ibu Risma, akan membangun transportasi massal berbasis trem. Jika kalian bertanya, “Kenapa nggak bikin BRT/busway seperti TransJakarta saja?” Menurut Bu Risma, busway hanya akan menghabiskan kapasitas jalan dan nggak akan menyelesaikan masalah kemacetan di Surabaya. Makanya, Surabaya kekeuh ingin membangun trem dan monorel. Sayangnya, sampai masa jabatan Bu Risma berakhir, trem hanya ada di alam mimpi.

Ilustrasi monorel (Shutterstock.com)

Kalau kalian bertanya lagi, “Kenapa akhirnya Bu Risma meluncurkan Suroboyo Bus? Kan itu bus menghabiskan kapasitas jalan juga?” Nah, saya juga belum menemukan jawabannya…

Yang lebih lucu lagi, pada akhir tahun 2021, ketika wali kotanya berganti lagi. Pemkot Surabaya gencar mengiklankan BRT yang diberi nama Trans Semanggi. Lah, dulu ngapain ditolak? Sekali lagi, kita  nggak boleh negative thinking, lho, ya. Semua itu pastinya dilakukan demi Surabaya yang lebih baik.

Meski cukup aneh, sih, apalagi Trans Semanggi juga nggak punya jalur khusus bus. Lantas, apa bedanya dengan bus kota yang sudah ada? Kabarnya, Pemkot Surabaya akan membuat rekayasa lalu lintas. Jadi, Trans Semanggi nantinya akan diprioritaskan saat melewati jalanan Kota Pahlawan. Dengan begitu, Trans Semanggi diharapkan memiliki waktu tempuh yang lebih cepat bila dibandingkan moda transportasi lain.

Masalahnya, mau direkayasa seperti apa pun, kalau Trans Semanggi masih melewati jalan yang sama dengan kendaraan lain, ya percuma saja. Trans Semanggi akan tetap terjebak kemacetan dan bertumpuk dengan kendaraan lainnya. Kecuali kalau Trans Semanggi punya sayap dan bisa terbang, baru deh ceritanya akan berbeda.

Lagi pula, menambahkan jumlah armada bus dengan berbagai macam nama tanpa membangun jalur khusus justru terlihat seperti gimik politik belaka. Sekadar biar para pemimpin di Kota Pahlawan ini punya program baru di bidang transportasi. Tanpa jalur khusus, jumlah bus yang banyak justru memperparah kemacetan. Kenapa? Ya karena bodi Suroboyo Bus dan Trans Semanggi itu besar, sehingga memakan banyak area jalan, sementara isinya hanya segelintir orang. Jadinya malah nggak efektif, dong?

Kesimpulannya, sih, kalau masalah transportasi publik di Surabaya hanya dilihat sependek masa jabatan wali kota yang 5 atau 10 tahun saja, sampai kapan pun Surabaya nggak bakal memiliki transportasi publik yang memadai. Sebagai rakyat jelata yang hanya bisa sambat kemudian berdoa, saya berharap semoga warga Surabaya segera memiliki transportasi publik yang bisa diandalkan untuk kebutuhan mobilitas harian warganya. Aamiin.

Penulis: Tiara Uci
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 4 Hal Nggak Enaknya Naik Bus Surabaya-Jember.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version