Di dunia ini, posisi yang paling tidak enak adalah menjadi sesuatu yang tanggung. Salah satunya punya rumah yang jaraknya nanggung ke kampus. Misal, jarak Mojokerto ke Surabaya yang cuma satu jam sukses menjebak saya dalam takdir menjadi mahasiswa PP bersama TransJatim.
Mau sewa kosan kok rasanya mubazir karena tiap akhir pekan pulang. Tapi, mau nekat naik motor sendiri ke Surabaya, mental saya juga ciut karena belum jago-jago amat naik motor. Alhasil, TransJatim menjadi penyelamat.
Banyak artikel di Terminal Mojok yang mengkritik dan menguliti habis-habisan kelakuan sopir TransJatim. Mulai dari yang ugal-ugalan bikin mabuk darat, bikin penumpang hampir terjungkal, terhentak di kursi akibat rem dadakan, dan 1001 umpatan lainnya.
Tapi jujur, justru gaspo sopir inilah yang menjadi favorit saya ketika terburu-buru ke Surabaya karena kesiangan.
Ugal-ugalan TransJatim yang menyelamatkan
Normalnya, durasi perjalanan TransJatim Koridor II rute Mojokerto-Surabaya memakan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Namun, berkat gaspolan maut yang bikin mabuk itu, waktu tiba di Surabaya bisa lebih cepat! Kadang 1 jam 10 menit sudah sampai.
Bahkan, tak jarang cuma butuh waktu satu jam untuk sampai. Kecepatan ini jelas menandingi motor yang digeber pol-polan dari rumah dan baru direm persis di depan gerbang kampus.
Padahal, TransJatim Koridor II ini harus berhenti di 17 halte sepanjang rute Bumi Majapahit sampai Bumi Bonek yang seharusnya memakan waktu lebih lama daripada motor. Jan jos jis, Pak Supir! Alias mantap sekali!
Hemat di ongkos
Berkat kecepatan kilat TransJatim, mahasiswa PP seperti saya merasa sangat dimuliakan. Cukup bermodal ongkos Rp2.500 saja untuk tarif pelajar, saya bisa melintasi tiga daerah (Mojokerto, Sidoarjo, dan Surabaya) dengan selamat sentosa hingga mendarat sempurna di Halte Dukuh Menanggal, Surabaya.
Pilihan transportasi umum lain sebenarnya ada, yaitu kereta api Commuter Line Jenggala atau Dhoho. Tarifnya berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000.
Tapi, kalau naik kereta, saya harus turun di Stasiun Wonokromo lalu oper ojek online sekitar Rp6.000. Total pengeluaran bisa mencapai Rp11.000 sampai Rp16.000.
Sebagai kaum pelajar yang belum berpenghasilan dan bermodal uang saku pas-pasan, naik TransJatim jelas lebih hemat. Hematnya bahkan lebih dari 50%!
Kami hanya perlu membayar tiket bus Rp2.500, lalu turun di Halte Dukuh Menanggal yang sudah terintegrasi dengan feeder Wira-Wiri Suroboyo FD 9 Jurusan Terminal Menanggal-Terminal Manukan. Dengan tarif pelajar Wira-Wiri yang juga cuma Rp2.500, saya bisa langsung turun di depan gerbang kampus Unesa Ketintang (Halte Telkom University).
Alhasil, saya hanya merogoh kocek total Rp5.000 dari Mojokerto untuk sampai di kampus tercinta. Selisihnya lumayan banget. Lumayan, sisa Rp10.000 bisa saya pakai untuk beli ayam geprek di food court kampus.
BACA JUGA: Trans Jatim Koridor 7, Seburuk-buruknya Transportasi Publik. Masih Perlu Banyak Belajar dan Berbenah
Jadwal TransJatim yang memuliakan penumpang
Selain dari segi ongkos yang jauh lebih murah, kelemahan transportasi umum kereta api adalah jadwalnya terbatas jam tertentu. Kita juga harus melakukan booking tiket minimal satu jam sebelum keberangkatan.
Masalahnya, jika ada kelas dadakan dari dosen, mahasiswa PP seperti saya sering kehabisan tiket kereta. Berbeda cerita dengan TransJatim.
Bus hijau ini melakukan pemberangkatan setiap 10 menit pada jam sibuk, serta 15 hingga 20 menit pada jam normal. Layanan TransJatim juga beroperasi setiap hari dari pukul 04:00 hingga 21:00 WIB. Kita tinggal datang ke halte tanpa perlu memesan tiket terlebih dahulu dan pasti langsung dapat.
Di mata orang lain, sopir TransJatim adalah alat uji nyali. Namun di mata mahasiswa PP yang dikejar waktu, mereka adalah pahlawan jalanan tanpa tanda jasa. Salam hangat, dari pejuang gelar sarjana.
Penulis: Adila Dwi Rahmadhani
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Sopir Trans Jatim yang Ngebut Ini Ngapain Sih, Mau Cari Apa? Kan Sistemnya Bukan Kejar Setoran!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
