Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Mengusut Kasus Pencurian dengan Bantuan Dukun Adalah Tradisi di Pondok Pesantren Paling Konyol, Nggak Masuk Akal, dan Rawan Fitnah

Ifana Dewi oleh Ifana Dewi
22 September 2025
A A
Mengusut Kasus Pencurian dengan Bantuan Dukun Adalah Tradisi di Pondok Pesantren Paling Konyol, Nggak Masuk Akal, dan Rawan Fitnah

Mengusut Kasus Pencurian dengan Bantuan Dukun Adalah Tradisi di Pondok Pesantren Paling Konyol, Nggak Masuk Akal, dan Rawan Fitnah (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada kasus pencurian di pondok pesantren kok buru-buru ke dukun, sih?

Di setiap tempat, tak terkecuali di pondok pesantren, tindak kriminal pasti ada saja. Termasuk pencurian. Sanksi dan hukumannya pun tak jauh berbeda. Tapi yang bikin beda sekaligus buat geleng-geleng kepala, ada di proses pengusutannya.

Tindak pencurian di masyarakat biasanya menggunakan bantuan polisi untuk mengusut pelakunya. Umumnya para polisi menggunakan bantuan CCTV, atau kalau kasusnya lebih berat, pakai sidik jari dan dilanjut dengan interogasi.

Berbeda dengan di pondok saya, belakangan ini saya ketahui juga terjadi di beberapa pondok lainnya, yang terjadi malah agak unik. Pasalnya, dalam mengusut kasus pencurian, alih-alih sibuk mencari bukti nyata, para santri justru buru-buru pergi ke orang pintar atau dukun hanya untuk berburu bukti tak kasat mata.

CCTV di pondok pesantren 

Sebelumnya, perlu diketahui dulu biasanya di kebanyakan pondok pesantren besar, CCTV tidak dipasang di setiap sudut kamar santri. CCTV ini hanya dipasang di tempat-tempat dengan mobilitas tinggi seperti halaman parkir dan pintu gerbang. Padahal seharusnya CCTV juga perlu dipasang di tiap sudut kamar, atau paling tidak di setiap lorong.

Bukan apa-apa. Kehadiran CCTV ini selain memudahkan pengurus pondok memantau kegiatan keseharian santri, juga memudahkan pengurus mengusut berbagai tindak kriminal. Salah satunya kasus pencurian.

Kalau tidak, ya akibatnya jadi seperti ini. Pengurus pesantren kesulitan mengusut kasus pencurian yang datang silih berganti. Laporan kehilangan pun jadi membludak sebab pelaku tak kunjung ditemukan. Dan pada akhirnya, setelah pengurus dinilai tak mampu menemukan pelaku, para santri lebih memilih pergi ke dukun untuk mendapatkan secercah jawaban.

Bukan hanya kemusyrikan, tapi juga kebodohan

Jujur, kejadian ini adalah hal yang sangat saya sayangkan. Sebab di pondok pesantren, kami selalu diajarkan untuk hanya percaya pada Tuhan. Di berbagai pelajaran akidah, kami diwanti-wanti untuk tidak bersekutu dengan jin maupun setan lantaran hal itu memicu kemusyrikan.

Baca Juga:

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

Persamaan Kontroversi Feodalisme Pondok Pesantren dan Liverpool yang Dibantu Wasit ketika Menjadi Juara Liga Inggris

Tetapi ironisnya, “mencari jawaban” dukun ini malah menjadi suatu hal yang biasa di tengah para santri, bahkan hingga membentuk sebuah tradisi. Tentu saja ini adalah tindakan konyol dan nggak masuk akal. Soalnya tiap kali meminta bantuan kepada dukun, para santri sebenarnya nggak pernah benar-benar mendapatkan jawaban yang gamblang. Jawaban yang didapat selalu samar dan penuh teka-teki.

Alih-alih mendapatkan jawaban, para santri di pondok pesantren seringnya disuruh berpikir keras untuk menemukan jawaban dari clue yang diberikan. Sudah gitu konon katanya seorang dukun nggak bisa “mencari” kalau sudah melebihi 3 hari dari kejadian. Seperti ada expired-nya, gitu katanya. Rasanya makin nggak masuk akal.

Tuduhan tanpa bukti itu ngawur

Segala lini kehidupan kita sebenarnya telah diatur sedemikian rupa oleh hukum undang-undang. Tujuannya jelas. Sebagai upaya dalam menjaga dan melindungi hak setiap orang.

Oleh negara, tindak pidana pencurian telah diatur dalam KUHP. Di dalamnya, secara detail dipaparkan terkait hukuman dan penanganannya. Mulai dari pelaporan, yang dilanjut dengan penyidikan, penuntutan, lalu berakhir di persidangan. Dalam penyidikan pun harus melalui banyak tahap. Diperlukan barang bukti seperti memeriksa CCTV, saksi, bahkan sidik jari.

Pun dalam agama. Islam juga telah mengatur tindak pidana pencurian dalam kitab-kitab fiqh. Misalnya, harus menghadirkan minimal dua orang saksi yang adil, atau paling tidak sumpahnya orang yang tertuduh.

Dari sini, kita bisa melihat. Baik negara maupun agama, keduanya cenderung memberi syarat yang ketat untuk menjatuhkan sebuah hukuman. Tidak asal. Dan yang terpenting, keduanya sama sekali tidak memakai bantuan orang pintar atau dukun. Lalu sejak kapan para santri di pondok pesantren jadi lebih percaya jawaban dukun?

Menimbulkan banyak kerusakan di pondok pesantren kalau tetap percaya dukun

Kalau semata untuk mencari barang hilang, okelah, silakan datang ke dukun. Paling tidak, dosanya sekadar kebodohan. Tetapi dalam menentukan pelaku pencurian di pondok pesantren misalnya, para santri harus stop menormalisasikan datang ke dukun kalau tidak mau dosanya berlipat ganda.

Soalnya kalau sudah begini, tentu akan menimbulkan fitnah. Sebab jawaban dari dukun pun tak bisa dipertanggungjawabkan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, jawaban yang didapatkan hanya samar. Akhirnya hal ini bisa menimbulkan kecurigaan satu sama lain dan berujung merusak tali silaturahmi antarsantri.

Daripada bayar dukun, mending buat pasang CCTV

Menurut saya, daripada sibuk memilih dukun mana yang lebih pintar atau manjur, lebih baik para pengurus dan santri di pondok pesantren sibuk menanam karakter kejujuran dan mawas diri. Di samping itu, tindakan preventif yang bisa dilakukan untuk kasus kehilangan di dalam pondok adalah memperkuat pengamanan berupa kunci gembok dan melengkapi CCTV.

Kalau sudah telanjur terjadi kasus pencurian, ya sudahlah terjadi. Biarlah itu menjadi pelajaran keikhlasan akan kehilangan.

Sekali lagi, di sini, saya bukan ingin menjatuhkan tradisi pondok pesantren, apalagi menghilangkan mata pencaharian para orang pintar alias dukun. Saya hanya berharap ke depannya tidak terjadi fitnah karena kekeliruan menafsirkan sebuah jawaban dari dunia supranatural.

Meminjam istilah Rocky Gerung, “Salam akal sehat!”

Penulis: Ifana Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Pernah Bayangin Rasanya Jadi Anak Dukun? Sini, Saya Kasih Tahu

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2025 oleh

Tags: Dukunkehidupan santriOrang PintarpencurianPondok Pesantrensantritradisi pondok pesantren
Ifana Dewi

Ifana Dewi

Seorang hamba amatir yang sedang menekuni seni kehidupan. Satu-satunya hal yang ia kuasai dengan baik hanyalah cara menikmati secangkir kopi

ArtikelTerkait

Tempat Duduk Saat Tahlilan Bisa Digunakan untuk Memetakan Status Sosial Seseorang terminal mojok.co

3 Misteri Besar Kitab Alfiyah, Kitab yang Konon Susah Dihafalkan Santri Pondok

5 Februari 2021
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

30 November 2025
dokter hewan peliharaan sakit mojok

Dokter Hewan Bukanlah Dukun, Jadi Biarkan Mereka Melakukan Tugasnya sebagaimana Mestinya

25 September 2021
Tempat Menyimpan Uang Ala Santri Saat Keluar, selain Dompet dan Saku terminal mojok

Tempat Menyimpan Uang ala Santri Saat Keluar, selain Dompet dan Saku

2 Februari 2021
Saya Pernah Ngutil Pomade di Indomaret dan Saya Menyesal terminal mojok.co

Saya Pernah Ngutil Pomade di Indomaret dan Saya Menyesal

15 Oktober 2020
Persatuan Dukun Nusantara yang Bikin Bingung Cuma dari Namanya terminal mojok.co

Persatuan Dukun Nusantara yang Bikin Bingung Cuma dari Namanya

15 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

ASN Rajin Adalah Tempat Sampah Buat Atasan (Shutterstock)

Kalau Kalian Masih Ingin Jadi ASN di Era Ini, Sebaiknya Pikir 2 Kali. Tidak, 3, 4, bahkan 100 Kali kalau Perlu

28 Maret 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.