Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Saya Pernah Ngutil Pomade di Indomaret dan Saya Menyesal

Harvest Walukow oleh Harvest Walukow
15 Oktober 2020
A A
Saya Pernah Ngutil Pomade di Indomaret dan Saya Menyesal terminal mojok.co

Saya Pernah Ngutil Pomade di Indomaret dan Saya Menyesal terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Kejadian ini masih begitu awet dalam ingatan saya. Terjadi kelas 6 SD, saat itu, sedang marak-maraknya sebuah benda penambah ketampanan bernama pomade. Ya, namanya juga anak SD, pakai pomade apalagi tujuannya kalau bukan untuk memikat hati perempuan sebangkunya?

Saking terobsesinya dengan benda satu ini, saya pernah menjalankan sebuah aksi yang tidak terpuji. Sebuah aksi pencurian bersejarah yang digadang-gadang menjadi aksi pencurian terbesar sejak Perang Dunia II. Konon, dalam sebuah catatan sejarah, kejadian ini bersandingan dengan kasus perampokan Bank Sentral Irak. Inilah peristiwa yang dikenal dengan “Tragedi Pencurian Pomade di Indomaret oleh Bocah SD”.

ADVERTISEMENT

Jadi begini kronologinya~

Sepulang sekolah, masih dengan pakaian putih-merah lengkap, saya bersama teman-teman lainnya langsung berangkat menuju lokasi target pencurian, yakni sebuah Indomaret yang jaraknya tidak jauh dari sekolah.

Di jam istirahat tadi, sebuah rencana sudah kami siapkan untuk membobol brankas uang rak pomade Indomaret. Jadi, tinggal eksekusi!

Sesampainya di sana, satu per satu dari kami mulai masuk. Dengan gugup saya menyusuri seluruh rak Indomaret. Hingga akhirnya langkah saya terhenti tepat di depan rak pomade.

Tanpa terlihat mencurigakan, tangan saya perlahan meraih pomade tersebut sembari berusaha menghindar dari jangkauan CCTV.

Dan… berhasil!

Baca Juga:

Mengusut Kasus Pencurian dengan Bantuan Dukun Adalah Tradisi di Pondok Pesantren Paling Konyol, Nggak Masuk Akal, dan Rawan Fitnah

Susu Tunggal, Susu yang Bikin Nostalgia Masa Kecil Warga Blitar

Selain berhasil mengambil barang curian, satu hal penting  yang berhasil saya lalui adalah keluar dengan selamat. Sebab, berdasarkan riset dari badan antariksa Amerika Serikat (NASA), sebagian besar pencuri berhasil mendapat barang curian, namun gagal membawanya keluar—tolong jangan bertanya mengapa NASA melakukan penelitian semacam ini.

Intinya, saya lega, teman-teman saya pun demikian, berhasil dengan barang curiannya masing-masing. Jadi bukan hanya pomade yang dicuri, mungkin karena kalap, beberapa teman ada yang bawa mi instan, cokelat batangan, sampai yang paling nggak jelas seperti popok bayi. Sementara saya, sudah berhasil mengangkut dua buah pomade yang masing-masing beratnya 75 gram dengan total harga kira-kira Rp50 ribu.

Semua berjalan mulus tanpa ada kendala sedikit pun. Hingga akhirnya, beberapa hari kemudian, aksi pencurian bersejarah itu terendus oleh pihak sekolah. Hingga detik ini saya tidak tahu apakah ada orang yang melapor atau pihak Indomaret mengadu ke sekolah karena curiga rak pomade tiba-tiba kosong. Satu hal yang pasti, kami, sindikat pencuri pomade Indomaret digiring menghadap ke guru wali kelas.

Kami terus diwanti-wanti untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. Yang paling parah, kami terancam tidak bisa mengikuti Ujian Nasional. Untung saja ini hanya sebatas ancaman. Ijazah SD masih aman.

Saya menyesal. Penyesalan selalu datang di akhir, bukan? Klise.

Tapi, untungnya saya tidak sampai harus berhadapan dengan pihak kepolisian, apalagi sampai masuk penjara. Lagi pula, kasus saya ini terlalu remeh untuk masuk ruang tahanan. Bukannya apa-apa, siapa tahu di dalam sel ada semacam tukar pengalaman antar tahanan. Jadi masing-masing tahanan ditembaki dengan pertanyaan, “Kenapa bisa masuk penjara? Memang habis ngapain?”

“Sebab kesal, saya bunuh dua orang tua saya,” kata Adit tanpa ragu, masih dengan wajah sangarnya yang bikin ngeri. “Kalau saya, tabrak nenek-nenek yang lagi nyebrang secara sengaja.” timpal Luis, yang buat jantung berdegup 350 km/jam.

Hingga tibalah giliran saya. Menjawab dengan nada ciut, serta raut muka yang lugu, “Saya curi dua kaleng pomade, Bang.” Persis kayak orang goblok.

Tapi, setelah dipikir-pikir, sebenarnya saya ini tidak miskin-miskin amat, apalagi sampai harus nyolong pomade di Indomaret. Kalaupun dipenjara, orang tua saya siap menyuap anggota kepolisian membayar ganti rugi tujuh kali lipat. Eh, saya juga kurang tahu sih, barangkali malah orang tua saya request, “Udah Pak Hakim, hukum aja dia tujuh abad. Anak ini emang hobi nyolong. Nyolong remote TV pas saya lagi tegang-tegangnya nonton Azab.”

Karena ketidakpastian ini—orang tua saya siap ganti rugi atau tidak, saya ingin mengajukan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak Indomaret. Saya berjanji akan lebih sering belanja ke Indomaret ketimbang Alfamart, serta bersumpah bahwa Indomaret adalah tempat berbelanja terbaik sejagat raya. Aneh banget sih kalau ada orang yang belanja di toko lain selain Indomaret. Maaf, agak hard selling.

Oh ya, saya juga akan mengubah arah pandangan hidup saya sesuai dengan asas-asas budaya Indomaret: menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan, kerja sama kelompok, kemajuan melalui inovasi yang ekonomis serta mengutamakan kepuasan konsumen.

Tidak lupa juga saya titipkan salam hangat kepada mbak-mbak kasir Indomaret. Masa kecil kita mungkin penuh kenaifan. Banyak yang menjalankan aksi mengutil bukan karena butuh, tapi cuma buat menguji adrenalin. Sebenarnya masa yang penuh trial and error itu bisa termaafkan ketika kita sadar di usia dewasa. Namun, tetap saja, jangan ditiru ya, Mylov. Takutnya jadi bibit korupsi, duh amit-amit. Masa gara-gara kebiasaan mengutil, waktu besar jadi refleks ngutilin uang negara. Yang dikutil bukan pomade lagi, tapi anggaran dan proyek miliaran. Hadeeeh.

BACA JUGA Cuci Piring Sambil Dengerin Podcast Adalah Gagasan Brilian dan tulisan Harvest Walukow lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2020 oleh

Tags: nostalgiapencurian
Harvest Walukow

Harvest Walukow

Suka menyeberangkan orang tua.

ArtikelTerkait

7 Benda Masa Lalu yang Baunya Khas Banget, Bikin Nostalgia Terminal Mojok

7 Benda Masa Lalu yang Baunya Khas Banget, Bikin Nostalgia!

24 Januari 2023
Kirim Salam Lewat Program Radio Adalah Cara Mbribik Paling Romantis pada Masanya terminal mojok.co

Kirim Salam Lewat Program Radio Adalah Cara Mbribik Paling Romantis pada Masanya

22 November 2020
wartel telpon umum nostalgia mojok

Mengenang Wartel, Penyelamat Anak Sekolah yang Telat Dijemput Zaman Dahulu

13 Juli 2021
Nasib Pramugari di Tengah Pandemi: Terjebak di Negeri Asing dan Bermain Bersama Kucing pesawat terbang

Mengenang Masa Kecil Bersama Pesawat Terbang

7 Juli 2019
pencurian musim maling pandemi wabah corona cerita mistis hantu horor mojok

Kisah Mistis Para Maling yang Pernah Dijumpai Peronda

7 Mei 2020
Saya Akui, Saya Masuk Jurusan IPS demi Terlihat Edgy terminal mojok.co

Saya Akui, Saya Masuk Jurusan IPS demi Terlihat Edgy

5 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati! perpusnas

3 Kelakuan Lulusan Ilmu Perpustakaan yang Membuat Saya Malu

2 Juli 2026
Dear Warga, Petugas Sensus Cuma Kerja Cari Duit, Jangan Jahat-Jahat sama Mereka Mojok.co

Dear Warga, Petugas Sensus Cuma Kerja Cari Nafkah, Jangan Jahat-Jahat sama Mereka

2 Juli 2026
Sekolah Negeri yang Seharusnya Gratis Ternyata Menyimpan Biaya Tersembunyi yang Perlu Ditanggung Ortu Mojok.co

Sekolah Negeri yang Seharusnya Gratis Ternyata Menyimpan Biaya Tersembunyi yang Perlu Ditanggung Ortu

3 Juli 2026
Layanan Perpusda Kota Malang Payah, Bikin Pengunjung Kecewa dan Nggak Nyaman Mojok.co

Layanan Perpustakaan Kota Malang Payah, Bikin Pengunjung Kecewa dan Nggak Nyaman

3 Juli 2026
Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak Terminal

Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak

6 Juli 2026
Unpopular Opinion: Skripsi Adalah Matkul Favorit Saya Sampai Rela Kuliah 7 Tahun Mojok.co jurnal

Tugas Akhir Jurnal sebagai Pengganti Skripsi Bukan Solusi kalau Budaya Riset Kampus Masih Setengah Hati

1 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.