Saya Pernah Ngutil Pomade di Indomaret dan Saya Menyesal – Terminal Mojok

Saya Pernah Ngutil Pomade di Indomaret dan Saya Menyesal

Artikel

Kejadian ini masih begitu awet dalam ingatan saya. Terjadi kelas 6 SD, saat itu, sedang marak-maraknya sebuah benda penambah ketampanan bernama pomade. Ya, namanya juga anak SD, pakai pomade apalagi tujuannya kalau bukan untuk memikat hati perempuan sebangkunya?

Saking terobsesinya dengan benda satu ini, saya pernah menjalankan sebuah aksi yang tidak terpuji. Sebuah aksi pencurian bersejarah yang digadang-gadang menjadi aksi pencurian terbesar sejak Perang Dunia II. Konon, dalam sebuah catatan sejarah, kejadian ini bersandingan dengan kasus perampokan Bank Sentral Irak. Inilah peristiwa yang dikenal dengan “Tragedi Pencurian Pomade di Indomaret oleh Bocah SD”.

Jadi begini kronologinya~

Sepulang sekolah, masih dengan pakaian putih-merah lengkap, saya bersama teman-teman lainnya langsung berangkat menuju lokasi target pencurian, yakni sebuah Indomaret yang jaraknya tidak jauh dari sekolah.

Di jam istirahat tadi, sebuah rencana sudah kami siapkan untuk membobol brankas uang rak pomade Indomaret. Jadi, tinggal eksekusi!

Sesampainya di sana, satu per satu dari kami mulai masuk. Dengan gugup saya menyusuri seluruh rak Indomaret. Hingga akhirnya langkah saya terhenti tepat di depan rak pomade.

Tanpa terlihat mencurigakan, tangan saya perlahan meraih pomade tersebut sembari berusaha menghindar dari jangkauan CCTV.

Dan… berhasil!

Selain berhasil mengambil barang curian, satu hal penting  yang berhasil saya lalui adalah keluar dengan selamat. Sebab, berdasarkan riset dari badan antariksa Amerika Serikat (NASA), sebagian besar pencuri berhasil mendapat barang curian, namun gagal membawanya keluar—tolong jangan bertanya mengapa NASA melakukan penelitian semacam ini.

Intinya, saya lega, teman-teman saya pun demikian, berhasil dengan barang curiannya masing-masing. Jadi bukan hanya pomade yang dicuri, mungkin karena kalap, beberapa teman ada yang bawa mi instan, cokelat batangan, sampai yang paling nggak jelas seperti popok bayi. Sementara saya, sudah berhasil mengangkut dua buah pomade yang masing-masing beratnya 75 gram dengan total harga kira-kira Rp50 ribu.

Semua berjalan mulus tanpa ada kendala sedikit pun. Hingga akhirnya, beberapa hari kemudian, aksi pencurian bersejarah itu terendus oleh pihak sekolah. Hingga detik ini saya tidak tahu apakah ada orang yang melapor atau pihak Indomaret mengadu ke sekolah karena curiga rak pomade tiba-tiba kosong. Satu hal yang pasti, kami, sindikat pencuri pomade Indomaret digiring menghadap ke guru wali kelas.

Kami terus diwanti-wanti untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. Yang paling parah, kami terancam tidak bisa mengikuti Ujian Nasional. Untung saja ini hanya sebatas ancaman. Ijazah SD masih aman.

Saya menyesal. Penyesalan selalu datang di akhir, bukan? Klise.

Tapi, untungnya saya tidak sampai harus berhadapan dengan pihak kepolisian, apalagi sampai masuk penjara. Lagi pula, kasus saya ini terlalu remeh untuk masuk ruang tahanan. Bukannya apa-apa, siapa tahu di dalam sel ada semacam tukar pengalaman antar tahanan. Jadi masing-masing tahanan ditembaki dengan pertanyaan, “Kenapa bisa masuk penjara? Memang habis ngapain?”

“Sebab kesal, saya bunuh dua orang tua saya,” kata Adit tanpa ragu, masih dengan wajah sangarnya yang bikin ngeri. “Kalau saya, tabrak nenek-nenek yang lagi nyebrang secara sengaja.” timpal Luis, yang buat jantung berdegup 350 km/jam.

Hingga tibalah giliran saya. Menjawab dengan nada ciut, serta raut muka yang lugu, “Saya curi dua kaleng pomade, Bang.” Persis kayak orang goblok.

Tapi, setelah dipikir-pikir, sebenarnya saya ini tidak miskin-miskin amat, apalagi sampai harus nyolong pomade di Indomaret. Kalaupun dipenjara, orang tua saya siap menyuap anggota kepolisian membayar ganti rugi tujuh kali lipat. Eh, saya juga kurang tahu sih, barangkali malah orang tua saya request, “Udah Pak Hakim, hukum aja dia tujuh abad. Anak ini emang hobi nyolong. Nyolong remote TV pas saya lagi tegang-tegangnya nonton Azab.”

Karena ketidakpastian ini—orang tua saya siap ganti rugi atau tidak, saya ingin mengajukan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak Indomaret. Saya berjanji akan lebih sering belanja ke Indomaret ketimbang Alfamart, serta bersumpah bahwa Indomaret adalah tempat berbelanja terbaik sejagat raya. Aneh banget sih kalau ada orang yang belanja di toko lain selain Indomaret. Maaf, agak hard selling.

Oh ya, saya juga akan mengubah arah pandangan hidup saya sesuai dengan asas-asas budaya Indomaret: menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan, kerja sama kelompok, kemajuan melalui inovasi yang ekonomis serta mengutamakan kepuasan konsumen.

Tidak lupa juga saya titipkan salam hangat kepada mbak-mbak kasir Indomaret. Masa kecil kita mungkin penuh kenaifan. Banyak yang menjalankan aksi mengutil bukan karena butuh, tapi cuma buat menguji adrenalin. Sebenarnya masa yang penuh trial and error itu bisa termaafkan ketika kita sadar di usia dewasa. Namun, tetap saja, jangan ditiru ya, Mylov. Takutnya jadi bibit korupsi, duh amit-amit. Masa gara-gara kebiasaan mengutil, waktu besar jadi refleks ngutilin uang negara. Yang dikutil bukan pomade lagi, tapi anggaran dan proyek miliaran. Hadeeeh.

BACA JUGA Cuci Piring Sambil Dengerin Podcast Adalah Gagasan Brilian dan tulisan Harvest Walukow lainnya.

Baca Juga:  5 Benda Asing yang Sering Tak Sengaja Terkunyah Saat Makan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.