Waktu kuliah di Jogja pada 2022, saya menemukan toko kopi baru yang bikin penasaran. Warna dan logonya pun nyentrik, oranye dengan gambar logo kucing dan biji kopi. Apalagi kalau bukan Tomoro Coffee. Awalnya, saya pikir gerai ini adalah merek es krim karena terlalu menggemaskan untuk sebuah coffee shop.
Saya jadi penasaran karena salah satu cabangnya, Seturan, begitu ramai pengunjung. Tidak mau terlalu lama FOMO, saya langsung pesan kopi susu gula aren. Harganya standar sih, sekitar Rp20 ribu. Wangi kopi menguar begitu beans di-grind, wah mantap juga nih. Setelah saya coba, taste kopinya dominan asam, khas arabica. Enak dan bikin hati senang. Saya berpikir, boleh lah jadi salah satu andalan di Jogja.
Belum ada 6 bulan, Tomoro sudah melebarkan sayap di Jogja begitu pesat. Saya kaget karena cabangnya ada di setiap sudut Kota Pelajar ini. Wow, ini mah bakalan sukses menarik pecinta kopi di Jogja, pikir saya sambil duduk menikmati Tomoro. Kali ini pesan Americano dan langsung jatuh cinta. Selain perkopian, mereka ada menu noncoffee serta pastry. Lengkap deh.
Akan tetapi, sekitar setahunan saya di Jogja, Tomoro mulai sepi. Sudah tidak viral seperti saat pertama kali muncul. Padahal varian minuman dan makanannya beragam, bahkan dia punya menu Master S.O.E Series dari single-origin espresso Ethiopia. Setelah observasi kecil-kecilan, saya menyimpulkan beberapa hal mengapa Tomoro kurang peminat.
Lalu saya jadi teringat Kopi Kenangan. Sejak berdiri pada 2017, ia konsisten sampai sekarang malah tambah banyak pelanggannya. Termasuk saya. Apa sudah saatnya Tomoro belajar dari Kopi Kenangan? Ini bukan maksud membandingkan. Tidak ada salahnya mencontoh suhu. Hehehe.
Terlalu banyak membuka gerai di awal bikin euforia jadi mudah redup
Di awal kemunculannya, Tomoro memang membuka gerai secara masif di mana-mana. Setiap persimpangan pasti saya menemukan kedai ini, entah di Jogja, Jabodetabek, dan daerah lainnya. Ia selalu siap memenuhi kebutuhan kafein para warga setiap hari, apalagi jam 7 pagi sudah stand by.
Akan tetapi, ekspansi yang terlalu agresif ini justru menjadi bumerang bagi brand yang membuka toko pertamanya di Pluit ini. Rasa penasaran konsumen pun seakan hilang karena terlalu gampang dijumpai. Mungkin pondasinya belum terlalu kokoh, tapi pemiliknya sudah yakin bahwa strategi ini akan mempertahankan loyalitas konsumen.
Tomoro sempat saya jadikan tempat WFC favorit karena rasa kopinya yang khas. Saya kira dengan cabang menjamur, ia akan bertahan seperti Kopi Kenangan. Sayangnya, ia perlahan redup. Banyak gerai yang sepi pelanggan bahkan pemesanan via ojek online. Tomoro sudah membuat berbagai varian menu viral, tetap saja yang datang hanya segelintir orang.
Tidak semua cabang Tomoro Coffee memiliki konsep coworking space
Mohon maaf tapi saya harus kembali membandingkan Tomoro dengan Kopi Kenangan. Kenapa? Saya sering melihat lokasi Tomoro tidak jauh dari Kopi Kenangan, bahkan mereka bersebelahan. Jika disandingkan, terlihat Kopi Kenangan lebih penuh dan hampir tidak ada meja kosong. Di sisi lain, hanya segelintir orang yang memesan kopi di Tomoro.
Ternyata Tomoro belum sepenuhnya menerapkan konsep coworking space di setiap gerai mereka. Kebanyakan outlet ready-to-go atau ada area duduk dengan kursi dan meja yang kurang pas untuk laptopan. Cocoknya untuk duduk santai ngobrol sebentar karena nggak bisa nyender. Wifi dan colokan sih tersedia, cuma seringnya koneksi agak tersendat. Saya pernah WFC di Tomoro, tapi kurang nyaman untuk duduk lama.
Kafe dengan konsep coworking space saat ini paling banyak dicari. Kopi Kenangan sudah menerapkan ini, bahkan sudah memperbaharui nuansa gerai mereka yang lebih WFC-able. Salah satu pelopor kopi kekinian ini berkembang pesat dan cabangnya makin bertaburan sampai sudut negri. Tomoro boleh sih meniru strategi Kopi Kenangan.
Cita rasa kopi Tomoro Coffee enak dan kualitas beans cukup josjis, tapi masih sepi?
Padahal kalau mau jujur, tidak ada yang salah dengan kualitas rasa Tomoro Coffee. Racikan kopinya enak dan ramah pemula. Apalagi dengan tagline meyakinkan “100% Arabica Coffee”.
Kualitas beans cukup josjis untuk kopi di bawah Rp50 ribu. Tidak ada hanya itu, varian menu lain seperti aneka frappe atau refreshing series pun cocok jadi moodbooster yang ciamik.
Sayangnya, Tomoro yang dulu bukanlah yang sekarang. Pelanggannya mungkin sudah pindah brand, meski ada beberapa yang bertahan. Ada satu hal yang sepertinya menjadi alasan, yaitu rasa tidak konsisten. Saya pernah beli Americano di Tomoro dekat rumah, rasanya beda dengan cabang dekat kantor. Begitu pun dengan cabang di kota lain. Percuma saja kalau cabangnya banyak tapi rasanya tidak konsisten.
Tidak hanya masalah konsistensi, penyebab lain adalah promo. In this economy, nggak mungkin kalian tidak cari paket hemat atau bundling harga spesial. Atau, seperti saya ini, suka bergerilya cari voucher diskon di medsos atau aplikasi khusus. Nah, saya lihat Tomoro jarang ada promo seperti ini (atau saya yang nggak terinfo?). Tidak seperti Kopi Kenangan yang memberikan banyak diskon untuk pelanggan setianya.
Memang sudah saatnya berguru pada Kopi Kenangan
Sudah saatnya Tomoro Coffee belajar pada Kopi Kenangan. Mereka sudah melewati berbagai gelombang tren dan masih eksis sampai sekarang. Namun, hal tersebut tidak membuat semangatnya luntur untuk memuaskan pelanggan. Kopi Kenangan terkenal karena penamaan menunya yang agak nyeleneh, “Kenangan Mantan”. Ditambah rasa kopi yang light dan tidak neko-neko.
Sebenarnya tidak harus sama ya, Tomoro dapat meniru strategi kopi Kenangan agar bisa terus dicintai konsumennya. Misalnya, belajar bagaimana menjaga konsistensi rasa serta memastikan outlet-outlet mereka tetap bertahan di tengah gempuran ombak persaingan kopi kekinian. Tomoro sepertinya juga perlu menambah berbagai jenis promo atau memperbarui gerai agar lebih nyaman untuk WFC.
Saya yakin dengan begitu, Tomoro akan kembali bersinar, nggak kalah mantap dari Kopi Kenangan. Setiap brand pasti punya pelanggan setia, tergantung bagaimana treatment-nya agar tidak pindah ke lain hati.
Itulah fakta tentang Tomoro Coffee yang saat ini kalah saing dengan Kopi Kenangan. Tapi tenang, Tomoro masih bisa bangkit lagi, jangan sampai pada tutup ya. Menurut kalian gimana, Lur?
Penulis: Rachelia Methasary
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kedai Kopi Ramai tapi Penjualannya Minim, Kok Bisa? Ya Bisa dong dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.