Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tips Menjalankan Bisnis Keluarga Tanpa Harus Menjadi Beban

Muhammad Abdul Rahman oleh Muhammad Abdul Rahman
1 Oktober 2020
A A
Memahami 3 Langkah Penyelamatan Suatu Bisnis yang Terancam Pailit bisnis keluarga MOJOK.CO

Memahami 3 Langkah Penyelamatan Suatu Bisnis yang Terancam Pailit MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Menjalankan perusahaan merupakan suatu berkah dan beban tersendiri, khususnya bagi para generasi penerusnya. Sebut saja Bakrie Group atau Kalla Group yang tentu saja bukan lagi nama asing bagi masyarakat. Perusahaan tersebut sudah memiliki reputasi yang tidak main-main, bisnisnya menggeliat di berbagai sektor, penerusnya pun sudah dididik untuk meneruskan lini bisnis keluarga. Luar biasa bukan ?

Atau kalau pembaca sekalian hobi menonton MCU (Marvel Cinematic Universe) tentu Stark Industries atau Pym Tech bukan lagi nama asing. Yap, perusahaan-perusahaan tersebut merupakan perusahaan keluarga awalnya, sampai pada akhirnya terpaksa menjadi perusahaan publik karena tidak adanya minat dari generasi selanjutnya untuk meneruskan bisnis keluarga. Tony Stark yang awalnya mulai concern meneruskan peninggalan Howard Stark, namun memilih untuk menjadi pengabdi masyarakat menjadi Iron Man. Sedangkan Hope Pym, terpaksa tergeser dari dominasi Darren Cross yang lebih terobsesi menjadi Hank Pym.

Saya ambil kedua contoh tersebut, dengan alasan untuk menggambarkan bahwa menjalankan bisnis keluarga butuh niat, kemauan, dan kemampuan dari generasi selanjutnya. Kepala keluarga akan semaksimal mungkin mendidik generasi selanjutnya agar mau dan mampu melanjutkan bisnis keluarga, sebab bisnis keluarga akan lebih baik dikendalikan oleh keluarga sendiri tanpa harus adanya campur tangan dari pihak lain, meskipun mereka merupakan orang yang dapat dipercaya.

Tema ini menarik bagi saya, sebab memecahkan urusan keluarga bukan hanya mengandalkan otak saja, namun hati pun harus turut serta. Di beberapa kesempatan, saya pernah menangani kejadian di mana para generasinya enggan untuk meneruskan bisnis keluarga.

Jika Anda adalah klien saya, maka pertimbangkan hal berikut ini.

Pikirkan dengan matang

Menjalani bisnis keluarga, terkadang menjadi sebuah beban tersendiri bagi para generasi selanjutnya. Beberapa dari mereka, tidak memiliki kesamaan visi meskipun secara bisnis, menjalankan usaha keluarga sangatlah menguntungkan. Bayangkan, di luar sana banyak sekali orang-orang butuh pekerjaan, sementara Anda hanya cukup belajar, memperkuat relasi, lalu meneruskan. Tidak perlu melamar ke sana kemari, sibuk membuka situs pencari kerja, atau masuk ke grup WhatsApp pencari kerja. Anda hanya perlu ongkang-ongkang saja, uang akan mengalir ke rekening dengan sendirinya.

Hal tersebut yang harus Anda pikirkan matang-matang. Membangun bisnis bukanlah perkara mudah, sebut saja kakek atau ayah Anda sudah babat alas dari bawah, kerja keras membangun dari bawah, mendapatkan relasi sedikit demi sedikit, usaha sudah mulai maju dan dikenal, sampai akhirnya memiliki reputasi tinggi di mata masyarakat merupakan pencapaian yang sungguh luar biasa.

Tentu generasi awal, menginginkan adanya tongkat estafet. Usia yang menjadi alasan, memaksa mereka melakukan kaderisasi untuk mempersiapkan tongkat kepemimpinan selanjutnya. Mereka hanya ingin, agar apa yang sudah dicapai selama ini, memiliki penerus dan tidak mandek saat mereka sudah tidak lagi produktif. Hal tersebut, yang haruslah menjadi pertimbangan bagi generasi selanjutnya untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bisnis keluarga.

Baca Juga:

3 Tips Membeli Point Coffee dari Seorang Loyalis Indomaret, Salah Satunya Cari yang Ada Kursi di Depan Gerainya!

Hal yang Biasa Dijumpai di Temanggung, Daerah Lain Nggak Punya. Salah Satunya Pemandangan Jaran Kepang di Jalan

Terkadang, takdir sulit ditolak. Kalau belum dicoba, kenapa harus tergesa-gesa menolak. Pikirkan kembali secara masak.

Kaya inovasi

Alasan utama mengapa generasi selanjutnya enggan meneruskan bisnis keluarga adalah minat yang berbeda. Misal, ada sebuah keluarga membangun kerajaan bisnis fashion dengan reputasi yang mendunia, namun memiliki generasi penerus lulusan Teknik Sipil. Motif awal sudah jelas, perbedaan minat dan bakat. Generasi penerus ragu, bila dia memaksakan untuk melanjutkan bisnis tersebut, di samping riwayat akademiknya tidak cocok, dia tidak punya kemampuan untuk menjalankan bisnis tersebut yang dikarenakan tidak memahami dunia fashion. Please deh, hari gini masih idealis. Kebanyakan nonton Si Doel kamu.

Mempelajari dunia bisnis itu tidak seperti belajar seperti perkuliahan, yang harus tau apa definisinya, bagaimana implementasinya, dan bagaimana sejarahnya. Perlu diingat, kalau belajar bisnis, pelajari bagaimana ritme dan alurnya, target jangka panjang dan pendeknya, lalu perkaya inovasinya. Kalau teori–teori begitu cukup mahasiswa saja.

Kita hidup dalam era di mana semua orang harus jadi serba bisa. Saya termasuk golongan yang menentang bekerja harus sesuai passion. Tidak begitu, yang betul adalah bekerja sesuai dengan yang kita mampu. Pada dasarnya, kita semua mampu mengerjakan apa yang sebetulnya kita tidak mau. Sekali lagi, kita hidup di mana semua harus serba bisa dan serba cepat, yang penting menghasilkan. Saya jamin, mungkin para redaktur atau editor di Mojok pun tidak semua punya basic atau latar belakang perkuliahan di subjek yang sama dengan pekerjaannya. Saya yakin mereka punya kemauan dan kemampuan, ya selebihnya mungkin ada passion ya. Sedikit-sedikit.

Kalau Anda sudah mentok dan betul-betul tidak ingin menjalani lini bisnis sebelumnya, Anda bisa membuat lini bisnis baru sebut saja seperti kontraktor, pengembang real estate, atau bisnis lainnya yang merupakan bidang Anda di bawah kendali perusahaan yang sama. Tinggal Anda serahkan bisnis tersebut ke orang kepercayaan (terpaksanya) namun dengan kendali, keputusan, dan pengawasan di bawah titah Anda.

Inovasi itu tidak hanya perkara produk saja, tapi bisa dalam bentuk ide dan strategi.

Perkuat komunitas dan reputasi

Jika Anda merupakan generasi penerus dari bisnis dengan reputasi tingkat tinggi, maka pekerjaan Anda merupakan beban yang cukup besar. Relasi atau partner bisnis Anda, pasti tidak akan segan-segan membandingkan Anda dengan generasi sebelumnya, bisa ayah atau kakek anda. Mereka memiliki ekspektasi tinggi terhadap kemampuan Anda dalam berbisnis. Tapi, salah besar jika Anda berusaha untuk menyamai karakter generasi sebelumnya.

Jadilah diri Anda sendiri, dengan karakter yang menyenangkan di hadapan relasi bisnis lainnya, buat mereka nyaman dengan karakter yang Anda miliki tanpa berusaha untuk menyamakan peran ayah atau kakek Anda di hadapan mereka. Orang bisnis paham akan cara mereka berkomunikasi dan menjalin hubungan, mereka pasti paham Anda bukanlah ayah atau kakek anda, Anda ya anda. Selesai.

Dengan membangun koneksi yang luas, komunikasi yang menyenangkan, bergabung dengan komunitas yang sama, maka Anda memiliki jaringan yang luas sama halnya dengan ayah atau kakek Anda menjalin hubungan baru dengan relasi atau kawan bisnisnya.

Membangun relasi itu sebetulnya mudah kok, asal jangan berusaha untuk menjadi orang lain, menjadi diri sendiri merupakan salah satu pribadi dan karakter seorang pengusaha yang tangguh, beban pasti ada, tapi jangan jadikan beban itu sebagai sebuah tanggung jawab. Jadikan beban itu sebagai tolok ukur sebuah kesuksesan. Kalau Anda melampaui beban tersebut maka tujuan Anda sudah tercapai, lalu tugas selanjutnya adalah menjaga dan meningkatkan kesuksesan.

Pelajari kelemahan, perbaiki kesalahan, pertahankan keberhasilan

Keuntungan menjalani bisnis keluarga adalah Anda bisa mempelajari apa yang menjadi kelemahan dan kesalahan dari generasi sebelumnya. Dengan mempelajari hal-hal tersebut, Anda sudah belajar dari pengalaman tanpa harus bertanya langsung kepada guru Anda. Hubungan relasi berpotensi merenggang apabila budaya kesalahan dan kelemahan dari generasi sebelumnya masih diteruskan oleh generasi selanjutnya. Mitra bisnis akan senang tentunya apabila terjadi perubahan yang berdampak positif kepada hubungan kerja, dengan hal tersebut maka mempelajari kelemahan dan kesalahan adalah tugas generasi penerus untuk terus membina hubungan baik dengan mitra bisnis.

Selain mempelajari kelemahan dan memperbaiki kesalahan, Anda dituntut untuk terus mempertahankan prestasi dari generasi sebelumnya. Jangan jadikan hal ini beban, ingat. Jadikan hal tersebut sebagai tolok ukur dan pecutan untuk terus bekerja mencapai kesuksesan. Mitra bisnis akan senang jika reputasi dan hubungan yang dibina semakin dipererat dengan kualitas kerja yang sepadan. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan yang sudah disiapkan untuk masa depan Anda.

BACA 4 Persiapan saat Memulai Bisnis Baru JUGA dan tulisan Muhammad Abdul Rahman lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 September 2020 oleh

Muhammad Abdul Rahman

Muhammad Abdul Rahman

Dosen di Universitas Nasional, Praktisi Perpajakan dan Keuangan, serta Mahasiswa Doktoral di Universitas Brawijaya.

ArtikelTerkait

peyek mojok.co

Wawancara dengan Peyek, Remahan yang Dipinggirkan namun Sadar Diri

22 Juni 2020
Point Coffee Indomaret vs Bean Spot Alfamart, Manakah yang Menjadi Juaranya? Ya Jelas Point Coffee, lah! point coffee, starbucks, nescafe classic, indomaret

Jangan Bandingkan Starbucks dengan Point Coffee, Starbucks Melawan Nescafe Classic Saja Kalah Telak!

21 Februari 2024
4 Dosa yang Membuat PNS Lupa Diri (Unsplash)

4 Dosa yang Membuat PNS Lupa Diri

20 November 2022
Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

5 Januari 2026
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Pada Akhirnya, Jogja Lockdown Total Jauh Lebih Masuk Akal ketimbang Sayur Lodeh

19 Juni 2021
Selo Boyolali, Tempat Orang Tulus Bermukim kabupaten boyolali

Selo Boyolali, Tempat Orang Tulus Bermukim

21 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026
Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

19 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026
4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.