Aneh, tapi nyata. Sudah 10 tahun buka dengan berbagai cabang, Mie Gacoan masih saja ramai dikunjungi orang-orang, meskipun menunya itu-itu saja. Rasa pedas memang bisa menjadi kunci kesuksesan suatu kuliner di beberapa daerah Indonesia. Asal makanan itu di-branding dengan sebagai makanan yang “pedas gila”, banyak orang akan merasa tertantang untuk mencicipinya. Itulah yang menjadi daya tarik Mie Gacoan selain harganya yang murah.
Saya pun masih sering diajak teman-teman saya makan Mie Gacoan, biasanya setelah rapat organisasi kampus. Ketika makan pun rasanya biasa saja dan mungkin lebih banyak betenya. Butuh waktu cukup lama untuk menunggu makanan datang. Belum lagi kualitas makanannya yang nggak konsisten. Kadang mienya datang dengan sangat basah dan lembek, kadang terlalu kering. Kadang pesannya mie dengan tingkat kepedasan level dua, tapi pas dicoba, rasa pedasnya kayak level empat.
Namun, kemarin saya tiba-tiba kepengin makan Mie Gacoan. Entah kenapa alasannya, tiba-tiba pengen aja. Kebetulan dekat kantor magang saya ada cabang Mie Gacoan terdekat, yaitu di Ampera, Jakarta Selatan. Karena anak magang sering kali nganggur di kantor, saya cabut saja dari kantor pada pukul 11 untuk makan. Dan di situlah saya menemukan kalo Mie Gacoan memang enak, tapi ya pas waktu pagi aja.
Ketika baru pergi dari kantor saya baru sadar kalau saya nggak bawa uang kertas dan hanya ada e-money di Gopay. Saya jadi kepikiran bagaimana untuk membayar parkir nanti. Dengan harapan yang cukup tinggi, saya berharap tukang parkir itu belum ada karena masih jam 11. Namun, pas sampai ternyata tukang parkir itu sudah standby. Cuman saya enyahkan dulu permasalahan bagaimana saya membayar parkir dari pikiran. Saya mau makan dulu.
Lebih baik daripada biasanya
Sesampainya di tempat saya melihat meja dan kursi begitu kosong. Melihatnya sangat nyaman dibanding jika datang pada waktu sore dan malam yang penuh dengan orang serta riuh suara. Kali ini, suasananya sungguh tenang. Para koki yang memasak juga tidak terlihat grasak-grusuk. Masih terlihat lebih santai daripada biasanya.
Tanpa berlama-lama, saya langsung memilih meja terdekat dan memesan makanan. Yang saya pesan nggak banyak-banyak. Hanya seporsi Mie Gacoan dengan tingkat kepedasan level dua, seporsi udang keju, dan satu botol air mineral.
Tidak lama dari saya memesan, tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara yang begitu keras dan terdistorsi dari speaker, “NOMOR MEJA…4”. Ohh itu pesanan saya. Biar apa sih suaranya disetting keras-keras? Kan lagi sepi ini, nggak perlulah volumenya tinggi-tinggi sampai memekakkan telinga. Tapi, ya sudah, saya segera mengambil pesanan saya dan menaruhnya di meja.
Dan, voila. Ya dari penampilannya biasa aja sih, kayak Mie Gacoan biasa aja nggak ada yang spesial. Langsung saja saya robek plastik yang melindungi sumpit dan menggunakan sumpit tersebut untuk melayangkan suapan pertama. Yang biki heran, kok rasanya kok pas dan enak ya. Nggak seperti biasanya yang nggak konsisten.
Mienya dimasak dengan tingkat kematangan yang cukup sehingga cukup kenyal dan tidak terlalu lembek hingga mudah putus. Kecap yang ditambahkan juga pas dan memberikan manis yang nggak berlebihan serta warna kecoklatan pada mie. Saya jadi teringat pernah memesan Mie Gacoan di suatu waktu dan warnanya sangat pucat. Rasa pedasnya pun sesuai dengan ekspektasi saya ketika memilih tingkat kepedasan level dua.
Udang kejunya lebih nikmat ketimbang biasanya
Pas saya coba udang kejunya saya terkejut. Rasanya lebih nikmat daripada biasanya. Saat digigit masih panas dan keju di dalamnya lumer menyentuh lidah saya dan memberikan rasa asin khas keju. Nikmat mana lagi yang yang kau dustakan?
Biasanya ketika saya memesan udang keju di waktu lain, keju di dalamnya sudah begitu padat dan menggumpal sehingga tidak begitu terasa. Begitu juga dengan pangsit goreng yang disediakan. Rasanya masih renyah dengan isian ayam yang terasa. Dipadu dengan bawang gorengnya yang besar dan juga renyah.
Hujan pun turun kembali saat saya makan. Padahal, sudah mengguyur saya hingga basah saat tadi berangkat ke kantor dari rumah. Namun, ternyata makan Gacoan saat hujan sama enaknya dengan makan Indomie di kala hujan. Sama-sama romantis.
Setelah menghabiskan hidangan tersebut saya segera menghampiri motor saya dan mengenakan jas hujan sambil memikirkan bagaimana saya cara bayar parkir. Saya berusaha pergi dengan kecepatan yang cukup cepat agar bisa menghindari tukang parkir tersebut, tapi ternyata tetap saja motor saya ditahan.
Kemudian, saya jelaskan bahwa saya tidak bawa uang kertas, lalu tukang parkir tersebut mengeluarkan HP-nya dan menunjukkan QRIS pribadinya. Saya pun bisa bernapas lega dan segera membayar Rp2000,00 lalu kembali pergi ke kantor. Ternyata tukang parkir zaman sekarang juga sudah melek teknologi.
BACA JUGA: Mie Gacoan Jualan Mie, tapi Kebanyakan Orang Lebih Suka Pesan Dimsumnya
Meskipun terkesan aneh, cobalah makan Mie Gacoan di waktu pagi
Mie Gacoan itu masih enak. Tapi, pas waktu pagi aja. Kalau kalian sebelumnya nggak puas dengan kualitas makanan Mie Gacoan, coba deh makannya saat masih pagi. Mungkin memang terdengar agak aneh.
Namun, ini adalah waktu di mana para koki dan pelayan tidak sedang hectic. Mereka masih punya cukup ruang ketenangan agar menyediakan kualitas makanan yang terbaik. Tapi, saya sarankan jangan pesan dengan tingkat kepedasan level tinggi. Siapa sih yang mau sakit perut pagi-pagi, apalagi di waktu kerja? Sesuaikanlah tingkat kepedasan dengan daya tahan lambung kalian.
Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Pesan Penting untuk Mie Gacoan dari Pelanggan, Jangan Menunggu Sepi untuk Berinovasi!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















