Tips Belanja di Warung Madura supaya Menjadi Pelanggan Kesayangan Pemilik Tokonya

Tips Belanja di Warung Madura supaya Menjadi Pelanggan Kesayangan Pemilik Tokonya Mojok.co

Tips Belanja di Warung Madura supaya Menjadi Pelanggan Kesayangan Pemilik Tokonya (unsplash.com)

Warung Madura adalah fenomena menarik di Indonesia. Penataan barangnya yang rapi hingga jam buka 24 jam jadi daya tarik para konsumen. 

Kebiasaan penjaga toko yang gemar telponan juga sempat viral, menyita perhatian banyak orang. Belum lagi keberanian warung mungil ini mepet jaringan waralaba besar seperti Indomaret maupun Alfamart.  

Perlahan, semakin banyak orang tertarik belanja di warung Madura. Apalagi, di tengah kondisi ekonomi sekarang ini, di mana orang-orang memilih untuk belanja di warung atau tempat-tempat kecil. 

Nah, di sini penulis ingin membagikan tips berbelanja di warung Madura. Hal ini berdasarkan pengalaman penulis sebagai orang Madura asli yang tentunya sudah menjadi kebiasaan sehari-hari berbelanja di warung Madura. 

Siapa tahu tips-tips ini akan bermanfaat bagi kalian sebagai pelanggan, entah saat terpaksa harus ngutang atau agar mendapat diskonan, hehehe.

Baca juga 4 Pasar “Kalcer” yang Bisa Dikunjungi kalau Bosan ke Pasar Ngasem Jogja.

#1 Gunakan panggilan yang tepat 

Hal pertama yang perlu diperhatikan yakni pemilihan panggilan pada pemilik warung. Jangan sampai sembarangan sehingga membuat pemilik warung tidak nyaman.

Mungkin kalian kebanyakan akan memanggil Bu atau Pak. Ya, itu tidak salah, tapi kesannya biasa saja. Sejauh pengalaman saya, ada panggilan lain yang sebetulnya bisa membuat pemilik bisnis dari Madura itu senang.

Kalau penjualnya ibu-ibu, panggil mi’. Panggilan itu aslinya adalah panggilan wajib bagi ibu-ibu di Madura yang sudah umroh atau haji. Makanya, misal kita ke toko emas, pasti yang punya kita panggilnya mi’, sebab pemilik toko emas di Madura pasti kebanyakan sudah umroh.

Nah, ibu-ibu penjaga warung Madura yang dipanggil mi’ pasti akan merasa senang, seakan kita respect pada mereka. Meskipun dia belum umroh, panggilan itu seperti menegaskan kalau si ibu sangat pantas untuk berkunjung ke rumah Allah.

Nah, kalau penjualnya bapak-bapak, panggil saja nom, nom itu panggilan singkat dari anom, yang artinya paman/om. Yah, seperti laki-laki kebanyakan, panggilan paman akan bikin mereka senang. hehehe.

#2 Jadi konsumen yang ekstrovert dan setia

Tips kedua yakni dengan membiasakan diri menjadi seorang ekstrovert. Mungkin kita sudah sepakat bahwa karakter orang Madura itu lebih dekat ke ekstrovert daripada introvert. Makanya, pelanggan yang suka ngobrol pasti akan disambut baik oleh pemilik warung.

Nah, tips ini bisa kalian mulai dengan pura-pura tanya harga barang. Misalnya, saat mau membeli rokok, cobalah basa-basi tanya harga rokok lainnya.

Kemudian, selain ekstrovert, jadilah pelanggan yang juga setia. Saya bukan bermaksud mempromosikan warung Madura, tapi dengan kalian menjadi pelanggan setia warung Madura, lambat laun kalian bisa dianggap saudara. Mungkin juga dianggap sebagai anaknya.

Dengan demikian, saat kesulitan penjaga warung itu pasti akan dengan senang hati membantu kalian. Nah sekali lagi, hal ini tentu dimulai dengan menjadi ekstrovert ya.

Akan tetapi, ingat, jangan sekali-kali mengkhianati kepercayaan orang Madura, takut-takut konsekuensinya fatal. Ya, itu bukan orang Madura aja sih, semua orang juga tidak mau dikhianati kan. Hehehe.

Baca juga Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg.

#3 Usahakan inisiatif sendiri saat belanja di warung Madura

Selanjutnya, karena warung Madura itu terbilang ramai pelanggan, kadang pemiliknya sampai kewalahan. Nah, maka dari itu, pelanggan yang punya inisiatif sendiri bak green flag bagi pemilik warung. Yang saya maksud inisiatif sendiri yakni kalian mau beli apa, selagi bisa ambil sendiri, ambil saja. Tidak perlu menunggu dilayani.

Misal nih, kalian mau beli bensin eceran. Langsung aja, sembari bilang buat izin, langsung aja ambil bensinnya.

Saya jelaskan, hal ini bukan berarti orang Madura apatis ya, melainkan ini menunjukkan prinsip hidup orang Madura yang santai. Pertama, orang Madura nggak takut kehilangan rezekinya. Mereka percaya semua sudah ada yang ngatur. Tuhan juga pasti yang membalas jika ada ada pelanggan yang nggak jujur.

Kedua, orang Madura itu melihat semua sama-sama manusia kok. Nggak ada yang perlu mati-matian harus dilayani. Penjual dan pembeli sama derajatnya.

Jadi, kalau penjualnya sedang sibuk banget, si pembeli inisiatif sendiri sangat bijak. Demikianlah yang juga dilakukan oleh orang Madura ketika menjadi pembeli di warung. Santai saja.

Nah, tips terakhir ini juga menunjukkan keakraban dan saling percaya antara pembeli dan pemilik warung. Jadi, kalau kalian mau ngutang, enak. Sekali lagi, tapi jangan merusak kepercayaannya.

Ya, demikianlah tips dari dari saya. Yang namanya tips tentunya ini tidak wajib kalian terapkan. Ini hanya saran, terutama untuk orang-orang ekstrovert yang sering gabut kalau sedang sendirian. Kalau sudah akrab, bahkan kalian bisa kapan aja main ke warung Madura untuk membangun percakapan. Hehehe. Sekian

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Sebagai Orang Madura, Saya Sebenarnya Agak Segan Belanja di Warung Madura.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version