Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Tinggal di Kabupaten Magelang: Dekat Borobudur, tapi Tidak Pernah Merasa Hidup di Tempat Wisata

Fitria Salma Nur Azizah oleh Fitria Salma Nur Azizah
18 Desember 2025
A A
Tinggal di Kabupaten Magelang: Dekat Borobudur, tapi Tidak Pernah Merasa Hidup di Tempat Wisata

Tinggal di Kabupaten Magelang: Dekat Borobudur, tapi Tidak Pernah Merasa Hidup di Tempat Wisata (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya lahir dan besar di Kabupaten Magelang. Artinya, sejak kecil saya hidup tidak jauh dari Borobudur. Namanya akrab, fotonya sering muncul di buku pelajaran, di baliho jalan, bahkan di kalender yang tergantung di ruang kelas.

Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari, Borobudur tidak pernah benar-benar menjadi urusan yang istimewa. Bagi saya, Borobudur lebih sering jadi penanda arah daripada destinasi. Patokan jalan. “Belok sebelum Borobudur.” “Lewat belakang Borobudur saja biar tidak macet.” Hubungan kami praktis, bukan penuh kekaguman. Ia ada, tapi tidak mengatur ritme hidup saya.

Orang datang dari jauh untuk melihat Borobudur. Saya justru tumbuh dengan kebiasaan melewatinya tanpa berhenti. Bukan karena tidak bangga, tapi karena sejak awal ia memang tidak ditempatkan sebagai tujuan hidup.

Kadang saya sengaja memperhatikan wisatawan yang datang. Mereka sibuk foto di sana-sini, sementara saya lewat dengan sepeda atau motor kecil saya, sambil menyapa tetangga. Ada satu momen lucu: seorang turis mencoba mencari pintu masuk dari sisi belakang Borobudur, sementara saya hanya tersenyum dan melewati jalan kampung yang sama setiap hari. Rasanya seperti hidup di dua dunia yang bersebelahan, tapi tidak pernah benar-benar bertemu.

Di Kabupaten Magelang, warga hidup dekat tempat wisata tapi hari-hari tetap biasa

Tinggal dekat tempat wisata besar di Kabupaten Magelang seperti Borobudur tidak otomatis membuat hidup terasa seperti liburan. Yang terasa justru dampak-dampak kecil yang praktis. Misalnya jalan ditutup saat libur panjang, arus kendaraan mendadak padat, bus besar masuk kampung. Beberapa warung jadi harus mengatur jam buka lebih awal agar turis tidak terganggu. Semua itu kadang bikin saya harus menyesuaikan rute sekolah atau kerja.

Di luar itu, hidup tetap berjalan seperti biasa. Pasar pagi tetap ramai dengan ibu-ibu yang menawar sayur dan cabai. Sawah tetap digarap. Burung-burung masih berkicau di pagi hari. Warung kopi tetap jadi tempat orang membicarakan hujan, pupuk, harga cabai, dan gosip tetangga bukan soal sejarah candi.

Wisata datang dan pergi. Kami yang tinggal di Kabupaten Magelang tetap menjalani hari. Kadang, keheningan setelah rombongan turis pergi membuat kampung terasa lebih hidup daripada saat ramai.

Borobudur terkenal, candi lain di Kabupaten Magelang terlalu sunyi

Kabupaten Magelang tidak hanya Borobudur. Ada Mendut, Pawon, Ngawen, Selogriyo, dan banyak candi kecil lain yang sering luput disebut. Menurut data BPS Kabupaten Magelang, setidaknya ada 14 candi di kabupaten ini. Tapi hidup dekat Borobudur membuat semua itu seperti berada di bayangan.

Baca Juga:

Banyuwangi Jawa Timur dan Banyuwangi Magelang: Nama Boleh Sama, tapi Soal Nasib Berbeda Jauh

Banyu Langit Agro Park Magelang, Tempat Liburan yang Tepat untuk Momong Anak

Borobudur menyerap perhatian, sementara yang lain kebagian sunyi. Padahal bagi warga lokal, candi-candi kecil itu justru lebih dekat secara emosional. Lebih sepi, lebih tenang, dan tidak terlalu sibuk melayani kamera.

Saya sering sengaja lewat jalur belakang untuk melihat Pawon atau Ngawen sekadar menghirup udara desa yang masih tenang, jauh dari keramaian turis. Kadang saya membayangkan jika Borobudur tidak terlalu terkenal, mungkin orang-orang lokal akan lebih sering mampir. Tapi ternyata, “sunyi” itulah yang membuat saya nyaman. Hidup saya lebih bebas tanpa harus mengatur diri agar pas dengan jadwal turis.

Ketika wisata hanya jadi latar

Hidup di Kabupaten Magelang membuat saya terbiasa dengan satu paradoks: tinggal di daerah wisata, tapi tidak hidup sebagai orang wisata. Borobudur tetap berdiri megah, tapi hidup saya tidak pernah disusun di sekitarnya.

Kami tidak bangun pagi dengan pikiran tentang turis. Kami bangun dengan urusan yang lebih sederhana: kerja, sekolah, pulang, ngobrol dengan tetangga, atau sekadar duduk di teras melihat anak-anak bermain. Borobudur tetap ada di kejauhan, seperti latar yang tidak ikut campur.

Dekat dengan yang besar, hidup dengan yang kecil

Mungkin karena terlalu dekat dengan yang besar, saya belajar satu hal: tidak semua hal harus dirayakan. Ada yang cukup dijalani. Dan bagi saya, itulah rasanya hidup di Kabupaten Magelang. Kami dekat dengan ikon dunia, tapi tetap menjalani hidup dengan ukuran sendiri.

Tanpa harus merasa kalah, tanpa harus ikut ramai. Cukup tetap hadir dalam keseharian yang tenang.

Penulis: Fitria Salma Nur Azizah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Andai Candi Borobudur Bisa Bicara, Barangkali Ia Akan Bilang, “Aku Lahir di Magelang!”

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2025 oleh

Tags: borobudurcandi borobudurcandi borobudur magelangkabupaten magelangmagelang
Fitria Salma Nur Azizah

Fitria Salma Nur Azizah

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Pendidikan Ekonomi. Setiap liburan pasti pulang kampung.

ArtikelTerkait

Nasi Goreng kok Lemes? Culture Shock yang Saya Rasakan di Magelang

Nasi Goreng kok Lemes? Culture Shock yang Saya Rasakan di Magelang

26 Agustus 2023
Eyek, Tukang Sayur Keliling di Magelang yang Ikonik dengan Keranjang Setinggi Lemari

Eyek, Tukang Sayur Keliling di Magelang yang Ikonik dengan Keranjang Setinggi Lemari

9 Januari 2024
Ayam dan Keseruan Menikah dengan Orang Magelang (Unsplash)

Ayam Jago dan Keseruan Menikah dengan Orang Magelang

12 Mei 2023
Taman Kyai Langgeng Magelang Memang Nggak Bikin Kantong Jebol, tapi Sukses Bikin Dongkol

Taman Kyai Langgeng Magelang Memang Nggak Bikin Kantong Jebol, tapi Sukses Bikin Dongkol

28 April 2025
Aturan Tidak Tertulis Candi Borobudur Magelang yang Perlu Dipahami Pengunjung

Aturan Tidak Tertulis Candi Borobudur Magelang yang Perlu Dipahami Pengunjung

4 Maret 2025
5 Hal yang Wajib Kamu Lakukan di Muntilan Magelang Minimal Sekali Seumur Hidup

5 Hal yang Wajib Kamu Lakukan di Muntilan Magelang Minimal Sekali Seumur Hidup

20 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ayam Geprek Sejajar dengan Gudeg Jogja Menjadi Kuliner Khas (Wikimedia Commons)

Mengapresiasi Ayam Geprek Sebagai Kuliner Khas Sejajar dengan Gudeg Jogja

26 Januari 2026
Kos LV di Jogja Isinya Maksiat, tapi Tetap Laku Diburu Mahasiswa (Unsplash) kos campur

Pindah dari Kos LV ke Kos Campur Ternyata Keputusan Buruk, Bukannya Tenang dari Desahan, Malah Tambah Sengsara

29 Januari 2026
Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

30 Januari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Kalau Saya Nggak Merantau ke Sidoarjo, Saya Nggak Tahu 3 Sisi Gelap Sidoarjo Ini

26 Januari 2026
Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah
  • Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS
  • Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.