Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tim Sendirian versus Tim Ramean: Mana yang Lebih Baik?

Satrio Dwi Putra oleh Satrio Dwi Putra
13 September 2019
A A
tim ramean

tim ramean

Share on FacebookShare on Twitter

“Kemana-mana kok harus rame-rame, emangnya lagi study tour?”

“Lah sendirian bae kok bangga? Cobain sana sparing catur!”

“Sendirian” dan “ramean” disini adalah tentang bagaimana kita melakukan kegiatan spend time—pergi ke mall, nonton bioskop, makan di restoran, atau ngopi di coffee shop.

Labeling terhadap orang yang selalu melakukan kegiatan spend time seorang diri adalah Loneliness, jones, atau bad social life people memang sudah mendarah daging. Dari yang bertujuan untuk sekadar guyon hingga serius dengan memberi wejangan-wejangan yang nonsense. Padahal bisa saja memberikan label sebagai orang yang mandiri. Tapi memang yang negatif lebih menyenangkan.

Apalagi jika terlihat foto tiket bioskop yang berjumlah (hanya) satu terpampang di sosial media, yasudah blunder. Siap-siap dimangsa seperti halnya warga melihat maling yang tertangkap basah, rasanya ingin ikut andil nggebugin.

Peperangan antara “tim sendirian” melawan “tim ramean” menyeruak beberapa waktu silam, setelah seseorang dari kubu tim ramean membunyikan genderang perang dengan cara mengirim twit ke akun menfess di twitter. Sebetulnya isi twit tersebut tidak bernada offensive, hanya berisi tentang meminta penadapat kepada netizen—aneh tidaknya dan enak tidaknya menonton film di bioskop seorang diri.

Tetapi kubu sendirian menanggapi twit tersebut dengan konfrontatif. Wajar saja demikian, karena sudah terlalu lama terkungkung dalam setereotype yang usang dan membosankan. Akhirnya tim sendirian angkat bicara. Seperti tagline sebuah radio—speak up make it happen.

Dipenuhilah twit bernada marah tetapi lucu ala-ala netizen pada twit reply, sebagai bentuk defense. Kejadian tersebut mematik Florentia Tanti menulis esai berjudul “Emang Salah Ya Kalau Perempuan Nonton Bioskop Sendirian?“. Inti dari esai itu—bagaimana prejudice terjadi kepada seseorang wanita saat menonton bioskop sendirian (Iya wanita, karena point of view diambil dari penulis sendiri).

Baca Juga:

Pengalaman Nonton di CGV J-Walk Jogja: Murah tapi Bikin Capek

Nonton Bioskop Sendirian Itu Sama Sekali Nggak Ngenes, Malah Banyak Untungnya

Walaupun lebih spesifik kepada seorang wanita, jika kita tarik premis dasarnya adalah bagaimana orang lain memberi feedback kepada seseorang yang melakukan kegiatan spend time seorang diri.

Tidak terlihat serangan balik yang berarti dan niat dari tim ramean—seperti membuat esai yang mengelaborasi atas pilihannya menjadi tim ramean (gimana nih tim ramean). Sejauh ini hanya letupan-letupan kecil dan twit-twit bernada sama yang tidak henti-hentinya meresahkan tim sendirian.

Sementara dari tim ramean belum ada balasan yang cukup menggegerkan, tim sendirian sudah memulai kembali aksinya dengan membunyikan genderang tagar berbunyi #GerakanNontonBioskopSendirian. Apakah tim ramean sedang bungkam untuk menyusun taktik yang akan menggegerkan jagat dunia maya pada akhirnya?

———-

Beberapa tahun silam, saya berada pada masa transisi dari tim ramean menjadi tim sendirian for some reason. Ada dua faktor yang menurut saya berpengaruh mengubah dan menjadikan orang memiliki prinsip sebagai tim sendirian :

Yang pertama—korban fase “Semakin menua dirimu semakin kecil circle pertemananmu”. Jika kalian tim sendirian dan merasa denial karena alasan tidak ada kaitannya melakukan kegiatan spend time sendirian dengan jumlah lingkar pertemanan. Tapi secara logika, semakin besar lingkar pertemananmu semakin besar kemungkinan terjadinya irisan—waktu senggang, selera film, coffee shop favorit, hingga tujuan kota traveling.

“Gak juga kok. Kan gak melulu soal circle pertemanan, bisa aja pacar. Buktinya punya pacar tapi tetep sering pergi sendirian”. Ya mungkin kalian ada di faktor yang berikutnya.   

Yang kedua—malas berkompromi dengan orang lain. Lebih memilih untuk melakukannya sendiri ketimbang ribet adjusting dengan orang lain. Contohnya saja ketika hendak nonton bioskop, ada tiga elemen yang harus kalian adjust hingga klop satu sama lain—jam, tanggal, dan judul film. Bahkan bisa menjadi empat jika ada seseorang yang freak dengan tempat pemilihan bioskop. Akhirnya memilih untuk sendirian ketimbang ribet.

Dari saya yang canggung pergi ke public space sendirian hingga sekarang kecanduan untuk pergi sendirian. Tidak lagi saya temukan—“jangan ke coffee shop itu lah, ga enak kopinya”, “kalo minggu ini gak bisa, mending minggu depan aja”,  “mending jalan-jalannya ke kota itu, lebih seru kayaknya”. Lalu sebagian besar menyetujui dan mau tidak mau kita harus sepakat. That’s how democracy work.

Ketika ada di fase semuanya serba sendiri dan keadaan mengharuskan demikian, saya merasa semuanya lebih menyenangkan. Kok bisa ?. Dan jawabannya adalah—Ego. Seseorang yang memiliki ego besar, kebahagiaannya berlipat ganda ketika fase sendirian telah tiba. Saat kita memilih untuk melakukannya sendiri, tentu tidak akan ada perbedaan pendapat dengan orang lain tentang ide yang kita suggest dan adjustment ribet dengan orang lain. Kita bebas merdeka semau kita.

Namun tidak selamanya menyenangkan. Ada sebuah momen dimana kita bertemu dengan sesuatu hal yang menurut kita lucu, setelah tertawa pasti ada sedikit hasrat ingin menceritakan kejadian itu kepada teman atau pacar tapi kita berpikir “diceritain bakal garing, kalo ga dicertain tapi lucu banget tadi. Coba kalo liat sendiri”. Atau bertemu sebuah momen debatable yang bakal seru jika diperbincangkan. Tidak mungkin cuy, tiba-tiba kita menggerutu pada orang yang tidak kita kenal.

Dan sebuah kejadian yang sering terjadi ketika kita menonton film sekuel di bioskop lalu kita merasa ada kejanggalan pada continuity cerita. Seketika gatal ingin membahasnya saat itu juga.

Lantas mana yang lebih baik? “Tim Sendirian” atau “Tim Ramean”. Tidak ada yang terbaik, yang ada hanyalah lebih baik—lebih baik sesekali bertukar posisi, yang terbiasa dengan kondisi ramean sesekali cobalah untuk sendiri. Begitupun sebaliknya.

Tim ramean sesekali tentukan sendiri kemana, kapan, dan lakukan apa yang menurut kalian menyenangkan. Merencanakan sendiri dan melaksanakan sendiri tanpa suggest dari orang lain. Melatih diri kita menjadi kurator atas diri kita sendiri.

Tim sendirian sesekali sepakat untuk tidak sepakat dengan menuruti dan melakukan suggest dari orang lain untuk sedikit menurunkan ego. Karena tidak selamanya semua itu tentang dirimu. (*)

BACA JUGA Gelisah Karena Gundala: Harapan Baru Jagat Perfilman Indonesia atau tulisan Satrio Dwi Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 September 2019 oleh

Tags: nonton bioskoprame-ramesendirian
Satrio Dwi Putra

Satrio Dwi Putra

ArtikelTerkait

5 Bioskop Murah di Bogor dengan Harga Tiket Mulai dari 25 Ribu

5 Bioskop Murah di Bogor dengan Harga Tiket Mulai dari 25 Ribu

2 Maret 2024
Nonton Bioskop Sendirian Itu Sama Sekali Nggak Ngenes, Malah Banyak Untungnya Mojok.co

Nonton Bioskop Sendirian Itu Sama Sekali Nggak Ngenes, Malah Banyak Untungnya

28 Mei 2024
Secercah Hidayah dari Kursi Bioskop yang diberi Jarak terminal mojok.co

FYI Aja, Ternyata Tiket Bioskop Itu Multifungsi!

17 Januari 2020
Pengalaman Nonton di CGV J-Walk Jogja: Murah tapi Bikin Capek

Pengalaman Nonton di CGV J-Walk Jogja: Murah tapi Bikin Capek

4 Desember 2025
Lupa Membawa Earphone Saat Bepergian Sendiri Itu Rasanya Hampa Banget Nggak, sih?

Lupa Membawa Earphone Saat Bepergian Sendiri Itu Rasanya Hampa Banget Nggak, sih?

31 Januari 2020
6 Tips Mudik Solo agar Perjalanan Tetap Aman dan Nyaman

6 Tips Mudik Solo agar Perjalanan Tetap Aman dan Nyaman

20 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

26 Februari 2026
Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga fisioterapi

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh

3 Maret 2026
Malang Kota Wisata Parkir, Tiap Sudut Kota Kini Dikuasai Tukang Parkir Semakin Nggak Nyaman

Bayar Parkir Liar di Malang: Nggak Dijagain, tapi Sungkan kalau Nggak Dibayar

28 Februari 2026
songkok nasional

Mengenal Songkok dari Simbol Perlawanan hingga Identitas Wibawa Indonesia

2 Maret 2026
Lontong Kupang Kuliner Red Flag Jawa Timur, tapi Banyak yang Suka Mojok.co

Lontong Kupang Makanan Jawa Timur Paling Red, tapi Anehnya Banyak yang Suka

3 Maret 2026
Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Alfagift, Penyelamat Pekerja Jakarta dari “Mati” Kelaparan karena Kelelahan dan Tak Punya Teman Makan
  • Ironi Pekerja Au Pair di Jerman: Sempat Diusir Majikan dan Nyaris Dideportasi karena Visa tapi Tetap Rutin Kirim Uang ke Keluarga
  • Anak Muda Isi BBM Tergantung Antrean SPBU: Kualitas Pertalite-Pertamax Dinilai Sama, padahal Terbiasa Buru-buru dan Tak Mau Menunggu
  • Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami Para Caregiver
  • Bukan Nuklir, Air Adalah “Senjata Pemusnah” Paling Mematikan di Perang AS-Iran
  • Diremehkan karena “Cuma” Lulusan UT, Tapi Bersyukur Nasib Lebih Baik daripada S1-S2 PTN Top yang Menang Gengsi tapi Nganggur

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.