Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Tiga Pisau yang Menusuk Prabowo

Ravi Oktafian oleh Ravi Oktafian
21 Juni 2019
A A
pisau prabowo

pisau prabowo

Share on FacebookShare on Twitter

Mahkamah Konstitusi beberapa hari lalu telah menggelar kembali sidang kedua sengketa hasil rekapitulasi suara Pilpres 2019 yang diajukan oleh kubu paslon nomor nol dua yaitu Prabowo-Sandiaga Uno.

Agenda sidang yang diadakan kali ini adalah mendengarkan jawaban dari Komsisi Pemilihan Umum (KPU), kubu paslon nol satu Jokowi-Amin, serta keterangan dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Dari sejak pengumuman hasil rekapitulasi tersebut, kubu Prabowo-Sandi nampak menggebu-gebu dan penuh gairah dalam melayangkan berbagai gugatan. Bahkan beberapa kali Om Prabowo dengan tegas di media-media massa meminta coblosan ulang di berbagai daerah karena dianggap menyalahi aturan. Tentu karena dia merasa dirugikan.

Saking semangatnya bikin gugatan sampe ketelisut dan ketika sadar mereka gak mau kalah sama mahasiswa tingkat akhir, langsung bikin versi revisiannya lalu diajukan lagi ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Sudah puas kubu om Prabowo mengadu ke MK dengan misi menyerang lawan dan penyelenggara Pilpres atau Pemilu, nah giliran di persidangan kedua ini kubunya Om Prabowo malah diserang habis-habisan.

Nggak tanggung-tanggung, guys—setidaknya secara bebarengan ketiga kubu pada persidangan kedua itu yaitu KPU, paslon 01, dan Bawaslu memberikan tanggapan yang secara langsung maupun nggak langsung melemahkan posisi Om Prabowo dan konco-konco.

Pertama, tanggapan dari KPU. Layaknya seorang dosen pembimbing yang killer, revisian gugatan yang nggak sesuai aturan yang dilontarkan kubu Om Prabowo pada tanggal 14 Juni kemarin dibantah sampe ke akar-akar oleh KPU. Yaps mau gimana lagi—kurang jos apa coba KPU. Apalagi buat nanganin tuntutan dari kubu Om Prab aja mereka udah siap-siap jawaban buat gugatan sebelum revisi sampai pas udah revisian—dikira KPU nggak jos kali yhaaa~

Kalo kubu Om Prab minta hasil rekapitulasi suara yang diumumkan KPU dianggap nggak sah dan kudu diselenggarakan ulang, KPU juga udah siap dengan 6000 halaman bukti. Di persidangan kali ini aja malah dikeluarin tuh sampe 300 halaman. Untung buktinya diserahkan ke MK, kalo buat dilempar ke kepala Om Prab keknya bisa benjol.

Baca Juga:

Pak Prabowo, Katakan pada Pak Jokowi Bahwa Saya Sudah Siap Bersama Rakyat untuk Mendukung dan Mengontrol Kepemimpinan Bapak

Di Sidang MK Para Ahli Hukum Berkumpul dan Berdebat, Saat Itulah Saya Kebingungan Memahami Bahasa Level Tingginya

Ibarat mau makan ayam penyet, KPU nggak cuman jual ayamnya doang. Tapi sedia es teh, tempe, tahu, jeroan, kepala, lele, bebek, sampe kremes-kremesnya—siap sedia segala sesuatunya. Ya gimana lagi, udah capek berbulan-bulan KPU kerja—sampai mungkin anak istri atau suami di rumah nggak diurusin—eh ini malah ada yang minta diulang lagi. Ya, pasti KPU membela diri lah. Hmmm

Kedua, kubu Jokowi-Amin. Kayaknya kalau buat urusan bilang curang-curangan yang terstruktur, sistematis, dan masif disingkat T-S-M, kubunya Om Prab jago bener ya. Tapi bagi Yusril Ihza Mahendra selaku kuasa hukum sang lawan saat hal tersebut dibawa ke MK menjadi nggak relevan karena bukan wewenang MK tapi merupakan wewenang Bawaslu. Ya ibarat ada maling di rumah kita, lapornya ke Rumah Sakit bukan datang ke Polisi—apa iya maling kita nanti bakalan ketangkep? Bisa-bisa malah kita yang digiring ke IGD gara-gara dianggep linglung, Om Prab.

Terus tentang Pak Jokowi yang nggak ambil cuti pas masa kampanye, yang membuat kubu Om Prab menuding adanya abuse of power atau penyelewengan kekuasaan oleh Pak Jokowi. Bagi Yusril, gugatan ini adalah hal yang asumtif sehingga MK nggak bisa menerimanya. Serba salah pokoknya sih jadi Pak Jokowi di mata kubu Om Prab—nggak cuti dibilang penyelewengan kekuasaan, nanti cuti dibilang makan gaji buta. Ya apalagi mottonya Pak Jokowi itu “KERJA! KERJA! KERJA!” bukan “Kampanye! Kampanye! Kampanye!”. Jadi Om Prab haraplah maklum.

Ketiga, pandangan dari Bawaslu. Ya mereka ini sih adem-adem saja sih sebenernya. Nggak terlalu getol kaya KPU dan Paslon nol satu. Apalagi soal gugatan tentang dugaan keterlibatan pelanggaran Pemilu yang menyeret beberapa nama- nama orang besar seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan juga Menteri Kordinator Maritim Luhut Binsar Panjaitan, pihaknya akan segera memproses. Hal itu langsung disampaikan oleh Abhan selaku ketua Bawaslu. Clear kan?

Gugatan lain tentang cawapres Paslon nol satu yaitu Kiai Ma’ruf Amin yang memiliki jabatan di beberapa Bank BUMN—Abhan menganggap kalo nggak ada tuh pasal yang dilanggar. Lagian, ini pasti gara-gara Om Prab nggak pakai kuasa hukum kondang Hotman Paris jadi ya melayangkan gugatan kek gitu. Apa karena yang penting MK rame aja nih, Om?

Gugatan lain yaitu tentang adanya penggalangan dukungan terhadap anggota kepolisian dan juga BIN, Bawaslu nggak menemukan adanya laporan dari upaya ketidaknetralan Polri dan intelejen saat perhitungan suara berlangsung. Btw, kalo misal Polri dituduh nggak netral keknya masih masuk akal deh. Tapi ini BIN woy!

Emang yang mana anggota BIN? Setahu saya, intelejen di mana-mana mah nggak ada yang tahu identitasnya, kecuali petinggi-petingginya. Mbah dukun mana yang ngasih tahu Om Prab kalo intelejen main nggak netral-netralan pas Pilpres?  Ya, memang ada pepatah lama “mana ada maling yang ngaku?” Itu juga sedikit banyak berlaku buat kubunya Om Prab. Namun, ada modifikasi keren buat mereka pakai pepatah sejenis. Mungkin bakalan kayak gini bunyinya: “mana ada pihak kalah yang terima?”

Dengan berbagai tanggapan tersebut, tentu posisi Om Prab dan konco-konco makin tersudutkan. Bukan cuman secara hukum tapi juga sosial. Masyarakat kaya saya, bisa aja tuh mikir kalo Om Prab bikin gugatan pake metode cocokologi atau sejenisnya karena bahkan diserang sama tiga kubu sekaligus. Apalagi banyak yang dikasih bantahan telak, kek anak kecil yang ngadu ke bapaknya tapi asal ngomong begitu.

Namun, di luar itu semua ada hikmah yang perlu diambil dari sini yaitu saat tertusuk satu pisau kita bisa menjerit, tapi kalo sampe tiga pisau yang menusuk kita—apalah daya musti pasrah. Pasrah bukan berarti kalah, tapi biar kelihatan dewasa dan juga berwibawa, Om Prab.

Tenang aja Om Prab meskipun nanti hasilnya kalah, anda akan tetap ada dalam hati dan sanubarinya para kampret, begitu juga Bang Sandi akan selalu ada emak-emak kompleks yang mengagumimu.

 

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2022 oleh

Tags: Pemilu 2019Prabowo - SandiSidang MKTim BPN
Ravi Oktafian

Ravi Oktafian

ArtikelTerkait

dewi fortuna

Mungkinkah Dewi Fortuna Menjadi Milik Joko Widodo – Ma’ruf Amin di Pilpres 2019?

13 Juni 2019
prabowo ziarah

Apa Salahnya Prabowo Ziarah Ke Makam Pak Harto?

31 Mei 2019
lapor

Lapor-Laporan Itu Budaya Kita Sejak Kecil

3 Juni 2019
beda pilihan

Berbeda Pilihan Tapi Tetap Satu Jua

17 Mei 2019
media sosial

Puasa Media Sosial: Sarana Refleksi Diri

25 Mei 2019
3 Alasan Mas Gibran Pantas Menang Pilwalkot Solo Tanpa Bantuan Pak Jokowi terminal mojok.co

Politik Kepentingan adalah “Agama Baru” yang Selalu Disembah Sujud

30 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Saya Lebih Nyaman Diajar Dosen Muda daripada Dosen Tua Mojok.co

Alasan Saya Lebih Nyaman Diajar Dosen Muda daripada Dosen Tua

9 Januari 2026
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026
Pasar Dupak Magersari, Wujud Perjuangan Orang Surabaya (Unsplash)

Pasar Dupak Magersari: Potret Nyata Saat Kota Surabaya Tidak Menyediakan Ruang, Warga Pinggiran Membuat Ruangnya Sendiri

6 Januari 2026
Buat Anak Organisasi Mahasiswa, Berhenti Bolos Masuk Kelas, Kegiatanmu Tidak Sepenting Itu!

Wajar Banget kalau Mahasiswa Sekarang Mikir 2 Kali Sebelum Masuk Organisasi Mahasiswa

7 Januari 2026
Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026
Alasan Booth Nescafe di Kulon Progo Selalu Ramai, padahal Cuma Kecil dan Menunya Itu-Itu Saja Mojok.co

Alasan Booth Nescafe Bisa Jadi Primadona Ngopi Baru di Kulon Progo

6 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah
  • 5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku
  • Lulusan S2 Jogja Ogah Menerima Tawaran Jadi Dosen, Mending Ngajar Anak SD di Surabaya: Gambaran Busuk Dunia Pendidikan Indonesia
  • Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi
  • Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa
  • Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.