Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Di Sidang MK Para Ahli Hukum Berkumpul dan Berdebat, Saat Itulah Saya Kebingungan Memahami Bahasa Level Tingginya

Dewa Lang Nages Maholtra oleh Dewa Lang Nages Maholtra
26 Juni 2019
A A
sidang MK

sidang MK

Share on FacebookShare on Twitter

Pemilu sudah usai hasil Pemilu pun sudah dikoar-koarkan eh maksudnya diumumkan ke masyarakat, namun pihak yang merasa kalah tidak terima dengan hasil Pemilu dan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Melalui mekanisme sidang MK inilah mereka yang kalah merasa dicurangi ini dan itu, sementara untuk pihak yang menang juga tidak tidak tinggal diam. Pihak yang merasa menang berusaha membela diri dari berbagai macam tuduhan kecurangan.

Akhirnya sidang MK pun resmi dimulai di mana di dalam sidang ini kebanyakan yang hadir adalah orang-orang pintar, orang pintar disini bukan dukun lo ya. Orang-orang pintar yang saya maksud adalah para kuasa hukum, hakim, dan ahli yang bergelar prof, entah itu professor atau provokator yang penting gelarnya prof. Ada juga yang bergelar doktor, insinyur, dan banyak juga yang lainnya. Entah kenapa di antara mereka tidak ada yang hanya lulusan SMA atau SMK seperti saya. hehehe

Kalau boleh saya menebak paling-paling yang lulusan SMA dan dibawahnya ada di pihak saksi ataupun para manusia yang memegang kamera di belakang. Bahkan bisa saja kalau yang pegang kamera itu adalah lulusan sarjana malahan. Kembali ke sidang MK, saat saya mengetahui bahwa yang akan berdebat dalam sidang ini adalah para ahlinya ahli di bidang hukum, saya merasa curiga apakah para masyarakat awam—termasuk saya—mampu mengerti bahasa level tinggi mereka saat berdebat nanti.

Namun saya merasa lega saat orang-orang di sidang MK saling mengingatkan satu sama lain kalau sidang ini ditonton oleh masyarakat Indonesia, jadi harus adil dan harus ada kejelasan. Saya rasa saat itu mereka mengerti, kalau kebanyakan yang menonton sidang ini adalah masyarakat yang awam dan tabu dari namanya bahasa-bahasa hukum apalagi yang level tinggi. Sidang sengketa pemilu yang katanya paling rumit sedunia pun dimulai, mereka yang bersangkutan mulai menjabarkan beberapa pendapat mereka dengan membaca tulisan di kertas yang banyaknya hingga ratusan lembar.

Saat saya melihat ekspresi para hadirin di sana khususnya yang bersangkutan, saya menyadari satu hal yaitu entah itu anak SMA, kuliahan, dan profesor akan bosan dan mengantuk bila mendengarkan penjelasan yang panjang—ternyata. Karena hal itu juga saya sebagai masyarakat awam dapat mengambil kesimpulan bahwa penjelasan yang dilakukan oleh masing-masing pihak dengan kertas yang banyaknya beratus-ratus lembar itu hanya formalitas belaka. Toh juga yang hadir di sana kebanyakan tidak memperhatikan atau bahasa kerennya ndableg.

Kenapa kok bisa dibilang ndableg, karena memang kebanyakan dari mereka hanya mendengarkan sambil ngantuk sana sini.  Saya pun dapat memaklumi kalau orang mendengarkan penjelasan yang panjang apalagi yang menjelaskan itu membaca teks.  Maka rasanya ngantuk dan bosan atau bisa dibilang njelehi. Setelah itu lanjut ke sidang berikutnya di mana kata-kata level tinggi mulai bermunculan.

Jujur saja apabila itu istilah masih memakai bahasa Inggris, setidaknya kami yang sudah mengenyam pendidikan selama 12 tahun masih bisa mengerti artinya. Tapi apabila sudah masuk istilah bahasa-bahasa latin, asas-asas asing, dan bahasa-bahasa alien—waduh sumpah deh saya nggak paham sama sekali. Bahkan saat itu saya juga bertanya pada seorang teman yang juga Sarjana Hukum. Jawabannya saja seperti ini, “mboh ra ngerti aku! Ndisik sakretiku gak enek istilah ngono kui”—entah saya tidak tahu !, saat dulu menurutku tidak ada istilah seperti itu.

Semakin lanjut ke sidang berikutnya bahasa-bahasa level tinggi mulai menguasai pembicaraan yang ada dalam persidangan. Istilah-istilah asing, pendapat para ahli terkenal, bahasa – bahasa kuno tentang keadilan semakin mendominasi pembicaraan dalam sidang ini. Rasa bosan pun hadir dalam diri saya—ini terjadi karena saya merasa tidak bisa cukup paham dengan pembicaraan dalam sidang ini.

Baca Juga:

Tolong, Jadi Pengajar Jangan Curhat Oversharing ke Murid atau Mahasiswa, Kami Cuma Mau Belajar

Facebook Adalah Seburuk-buruknya Tempat Curhat Soal Kulit dan Minta Rekomendasi Skincare

Bahkan tetangga saya yang ikut nonton bareng di rumah saya pun juga ikut mengeluh sambil berkata, “Halah jane nyapo to dadak ngangge boso model ngono wi, mbok yo ndang digenahne sing bener ndi, sing salah ndi ben rakyat sing ndelok ra mumet”—haduh sebenarnya kenapa to kok harus pakai bahasa seperti itu, daripada seperti itu ya langsung saja dijelaskan yang benar mana yang salah mana, supaya rakyat yang melihat juga tidak pusing.

Sampai sidang selesai pun saya hanya bisa menangkap beberapa hal—seperti pihak yang kalah atau pihak yang merasa dicurangi mengajukan bukti, saksi, dan berkas-berkas lainnya ke MK untuk menjatuhkan pihak yang menang serta pihak yang dirasa melakukan aksi kecurangan. Serta saya dapat memahami bahwa dalam upaya perdebatan menggunakan istilah-istilah asing adalah langkah untuk memperkuat pendapat. Yang sebenarnya menurut pendapat saya itu sangat sulit dipahami oleh sebagian besar rakyat Indonesia termasuk saya.

Jadi dengan adanya sidang ini—saya juga selaku rakyat—berharap bahwa sistem demokrasi di negeri ini semakin kokoh dan tidak terjadi penyelewengan. Sehingga negara ini semakin dihormati dan dipercayai khususnya oleh rakyatnya sendiri.

Terakhir diperbarui pada 13 Januari 2022 oleh

Tags: bingungCurhatPolitik IndonesiaSidang MK
Dewa Lang Nages Maholtra

Dewa Lang Nages Maholtra

ArtikelTerkait

ukhti

Ukhti, Mengapa Aku Berbeda?

23 Agustus 2019
slang

Mengapa Bucin, Kepo, dan Bahasa Slang Lainnya Harus Benar-Benar Kita Tahu Artinya?

29 Agustus 2019
anak mama

Dilema Anak Mama yang Pergi Merantau untuk Pertama Kalinya

3 Juli 2019
berdandan

Menanggapi Lamanya Waktu yang Dibutuhkan Wanita Saat Berdandan

24 Juni 2019
owner olshop

Teruntuk Para Owner Olshop yang Berakun Instagram Private: Kalian Mau Cari Pelanggan atau Follower?

23 Agustus 2019
humanis 22 mei

Potret Humanis dan Sisi Positif dari Aksi 22 Mei 2019

24 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri

Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

27 April 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau
  • Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido
  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.