Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta: Kejujuran yang Megah dan Mahal

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
28 November 2021
A A
Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta
Share on FacebookShare on Twitter

Jika ada yang bisa diambil dari buku terbaru dari Ali Ma’ruf ini, adalah buku ini membawa kita menjelajahi diri kita lebih dalam lagi. Membaca buku ini, membuat saya senyum-senyum, seolah-olah buku ini adalah projeksi diri kita. Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta membawa kita dalam perspektif penulis, bikin kita merasa relate.

Berbeda dengan buku pertamanya yang lebih banyak bercerita dengan media visual, dilengkapi satu dua kalimat untuk memperkuat rasa. Buku Mas Ali yang kedua ini berusaha bercerita lewat kata, visualisasinya dijadikan pelengkap saja, rasanya. Tapi justru itu uniknya, pembaca jadi punya gambaran sendiri terhadap setiap adegan dan suasana yang berusaha digambarkan melalui kata-kata. Bagiku yang lebih suka mengembangkan imajinasi sendiri berdasarkan pada deskripsi, Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta ini menyenangkan sekali.

Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta bercerita tentang lika-liku perjalanan seorang pecinta menemukan pujaan hatinya. Pada bagian awal penulis menceritakan awal mula pertemuan, kesan yang didapat dan hal-hal yang biasa kita temukan saat pertama kali mengenal seseorang.

Yang paling berkesan pada bagian permulaan ini adalah konsistensi penulis untuk jujur, sekalipun itu membuat ekspektasiku sebagai pembaca kadang tiba-tiba runtuh begitu saja. Misalnya saat penulis mengatakan bahwa dirinya dengan sengaja menahan diri untuk tidak menangis mengutarakan sebagian isi hatinya kepada perempuan pujaan hatinya. Khas laki-laki dewasa dengan didikan patriarkis yang mendarah daging memang. Tentu saja aku benci membacanya, aku benci mengetahui bahwa memang masih ada atau bahkan mungkin banyak laki-laki yang dengan sengaja tidak ingin menunjukkan emosinya dan melabelinya dengan hal bodoh. Tapi biar bagaimanapun, itulah yang saat itu dirasakan oleh penulis, yang ia coba ceritakan dalam bukunya secara jujur.

Dan jujur, adalah hal yang begitu mahal sekaligus megah.

Kejujuran membuat cerita buku ini terasa megah dan mahal. Megah, sebab tentu saja cerita cinta punya sensasi kemegahan. Mahal, sebab cerita ini tak dibuat-buat. Tak harus dibalut dengan cerita yang ndakik. Bisa terlihat dari cerita di buku ini yang berbeda. Jika serial TV atau film menggambarkan cinta (seringnya) lewat cinta pandangan pertama, Ali Ma’ruf mematahkan pandangan tersebut. Dengan sengaja dia tak tahu kapan mulai jatuh cinta. Atau mungkin dia tidak peduli. Cinta ya cinta aja. Begitu.

Sialnya, aku tidak cukup pandai untuk menangkap pesan hanya dengan sekali membaca.

Lewat ekspektasi yang dipatahkan berkali-kali, harusnya saya tahu bahwa harusnya buku itu dinikmati begitu saja. Saya kok jadi ngerasa bahwa buku ini, lagi-lagi, menunjukkan siapa kita: amat bahagia dibumbung ekspektasi, membiarkan diri melayang tinggi, tapi sambat waktu realitas menghantam.

Baca Juga:

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

Alasan Gramedia Tidak Perlu Buka Cabang di Bangkalan Madura, Nggak Bakal Laku!

Jatuh cinta dengan cari masalah memang batasnya tipis.

Seperti anak kecil yang sudah berulang kali diberitahu bahwa bungkus permen tidak akan selalu menggambarkan rasanya, tapi tetap saja aku bandel dan berharap permen yang bungkusnya warna merah akan selalu berupa permen rasa stroberi. Ya, kurang lebih seperti itulah rasanya membaca buku ini. Diterbangkan harapan, lalu dihempas kenyataan.

Akibat jujurnya itu pula, kita sebagai pembaca akan dengan mudah menemukan bagian-bagian yang akan membuat kita ikut merasakan ceritanya. Sebab jujurnya cerita ini, jadi terasa begitu dekat dan tidak terasa begitu berat untuk dibayangkan, digambarkan dan diikuti.

Laiknya perjalanan cinta pada umumnya, Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta tak ketinggalan menceritakan sulitnya. Menceritakan bagaimana rumitnya tebak-menebak perasaan pasangan, yang kalau salah tebak berakibat salah ambil keputusan, lalu salah-salah yang berikutnya. Iya, tau sih, pasti kalau dibaca sama ahlinya, bagian ini akan ikut kena marah karena bisa jadi merupakan tanda komunikasi hubungan yang kurang sehat. Tapi, ya, gimana ya, menurutku hal itu juga bagian dari serunya mencintai. Hehe.

Udah dibilang, kan, jatuh cinta sama cari masalah batasnya tipis.

Nggak cuma bagian getir kok, yang digambarkan dengan detail oleh penulis. Bagian manisnya juga. Detail-detail kecil kegiatan seperti “muterin ringroad Jogja” juga digambarkan hampir paripurna. Segitu powerful nya dua kata “ringroad Jogja” dalam buku ini, sampai aku yakin kalau ia ampuh untuk memanggil memori-memori yang tercecer di Yogyakarta.

Tapi ingat ya, saran dariku, kalau mau lebih tenang baca Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Jatuh Cinta: berhentilah berekspektasi. Udah jalanin aja. Dari halaman satu ke halaman berikutnya pura-puralah nggak tahu apa-apa, pura-puralah tidak mendambakan apa-apa. Mirip kayak kita menjalani hidup, yang semakin diharapkan kadang justru semakin menyakitkan.

Terakhir, selamat menikmati catatan sang pemuja ini. Seperti klaim penulisnya sejak awal, bahwa ia pandai berkata jujur, buku ini pun juga akan membawa kita menelanjangi segala realita dan lika-liku menjadi pemuja, menjadi pencinta. Tidak seindah cerita FTV yang sudah bisa dipastikan berakhir bahagia, yang konflik utamanya hanya tarik menarik antara tokoh yang digambarkan berwatak buruk dan berwatak baik. Buku ini menggambarkan bahwa menjadi pemuja sejatinya akan segera bertemu dengan segala realita yang bahkan mungkin tidak pernah terbayang bagaimana awal masuk dan bagaimana mencari jalan keluarnya.

Buku Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta bisa dipesan di Buku Mojok. Kalau penasaran, sila dicek!

Sumber Gambar: Instagram Buku Mojok

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 November 2021 oleh

Tags: ali ma'rufBukuBuku MojokTidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Alasan Gramedia Tidak Perlu Buka Cabang di Bangkalan Madura, Nggak Bakal Laku! Mojok.co

Alasan Gramedia Tidak Perlu Buka Cabang di Bangkalan Madura, Nggak Bakal Laku!

12 September 2025
Pengalaman Menerbitkan Buku di Amazon Kindle Direct Publishing: Gengsi Dapat, Cuan Tersendat

Pengalaman Menerbitkan Buku di Amazon Kindle Direct Publishing: Gengsi Dapat, Cuan Tersendat

5 April 2023
Aturan Tidak Tertulis Perpustakaan Digital yang Kerap Disepelekan Pengunjungnya Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Perpustakaan Digital yang Kerap Disepelekan Pengunjungnya

29 Desember 2023
Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan Kisah tentang Maut dan Hidup yang Saling Bertaut Terminal Mojok

Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan: Kisah tentang Maut dan Hidup yang Saling Bertaut

20 Januari 2023
Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya

Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat dari Seorang Ayah untuk Anaknya

30 Januari 2023
BookScape Reading Club Gelar Diskusi Buku “Semua Lelah yang Perlu Kita Rasakan Saat Dewasa” Karya Mila Alkhansah di Kota Kendari

BookScape Reading Club Gelar Diskusi Buku “Semua Lelah yang Perlu Kita Rasakan Saat Dewasa” Karya Mila Alkhansah di Kota Kendari

5 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

26 Februari 2026
Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

26 Februari 2026
Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja Mojok.co

Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja

22 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026
Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
Yamaha NMAX, Motor yang Tidak Ditakdirkan untuk Dimodifikasi Mojok.co

Yamaha NMAX, Motor Gagah tapi Biaya Merawatnya Sama Sekali Tak Murah

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.