Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Tes Kesehatan untuk Camaba UNY: Belum Kuliah, tapi Sudah Keluar Biaya yang Wah, Kasihan Nasib Camaba Luar Daerah!

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
29 Juni 2025
A A
Tes Kesehatan untuk Camaba UNY: Belum Kuliah, tapi Sudah Keluar Biaya yang Wah

Tes Kesehatan untuk Camaba UNY: Belum Kuliah, tapi Sudah Keluar Biaya yang Wah

Share on FacebookShare on Twitter

Saya percaya bahwa setiap kampus pasti ingin memberikan yang terbaik untuk mahasiswanya. Termasuk UNY, almamater saya, yang dulunya dikenal kalem, sopan, bersahaja, dan murah senyum. Tapi akhir-akhir ini, banyak calon mahasiswa baru (camaba) 2025 yang merasa bahwa UNY bukan lagi rumah yang ramah, melainkan institusi yang mulai terasa seperti perusahaan.

Gimana nggak? Belum juga masuk kuliah, mereka sudah diwajibkan untuk mengikuti cek kesehatan langsung di Fakultas Kedokteran (FK) UNY. Dan bukan cuma cek tekanan darah atau timbang badan seperti di puskesmas, lho. Ini satu paket lengkap dari pemeriksaan fisik, pengukuran tinggi badan, buta warna, sampai tes MMPI (psikotes kepribadian yang biasa dipakai buat rekrutmen profesional).

Harga yang mahal dan tersembunyi

Biar adil, saya coba telusuri dulu. Saya pikir ini mungkin program tambahan buat jalur-jalur tertentu, seperti olahraga atau kedokteran. Eh ternyata, tes kesehatan ini jadi bagian wajib dari proses seleksi camaba jalur mandiri UNY. Dan yang paling menarik perhatian saya bukan sekadar prosedurnya, tapi biayanya.

Menurut info resmi dan cerita para camaba di forum-forum daring, biaya tes kesehatan FK UNY ini bisa mencapai Rp300.000 sampai Rp500.000 per orang. Kalau dari berita dari IDN Times, biayanya malah mencapai 650 ribu. Dan itu belum termasuk ongkos datang ke Jogja, biaya nginep di kos harian, makan selama di sana, dan logistik lain.

Coba bayangkan kamu dari luar daerah—misal dari Jambi, Kalimantan, atau NTT. Kamu dinyatakan lolos administrasi awal dan diminta datang langsung ke Jogja buat cek kesehatan. Mau nggak mau kamu harus:

  • Naik bus/kereta/pesawat ke Jogja 
  • Cari kos harian atau tempat nginep 
  • Siapkan uang tes kesehatan 
  • Bayar makan dan transport selama beberapa hari 

Dan ini semua terjadi saat kamu belum resmi jadi mahasiswa.

Belum jadi mahasiswa, sudah jadi “konsumen awal” UNY

Yang bikin saya miris adalah kesan bahwa UNY kini melihat camaba bukan lagi sebagai calon peserta didik, tapi semacam konsumen awal. Sejak awal kamu dituntut untuk punya uang dulu baru boleh lanjut. Sementara kita tahu, tidak semua camaba berasal dari keluarga mampu. Banyak yang nekat kuliah karena ingin memperbaiki nasib, bukan karena punya tabungan berlebih.

Dulu, UNY dikenal bersahabat. Bahkan sempat jadi pilihan favorit anak daerah karena kampusnya adem dan biaya hidup di sekitarnya murah. Tapi sekarang, semangat inklusif itu mulai pudar.

Baca Juga:

Alasan Saya Masuk dan Betah Kuliah di UNY hingga S2 dari Awalnya Asal Pilih Saja

Sisi Gelap Kos Karangmalang yang Jadi Andalan Mahasiswa UNY

Saya paham bahwa FK UNY ingin menjaga kualitas. Bahwa cek kesehatan penting. Tapi kenapa harus terpusat di satu tempat, dan tanpa ada opsi alternatif yang lebih ramah untuk camaba dari luar kota?

Kenapa nggak pakai surat keterangan sehat dari RSUD setempat saja dulu, dan nanti baru dicek ulang saat sudah resmi jadi mahasiswa?

Kebutuhan kesehatan atau seleksi finansial?

Yang lebih menyakitkan, buat camaba dari keluarga pas-pasan, biaya-biaya tersembunyi seperti ini justru jadi penghambat terbesar. Coba pikir, di saat orang tua masih sibuk cari dana buat bayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), mereka juga harus menyiapkan dana ekstra hanya untuk tes kesehatan prakuliah. Belum lagi kalau nanti pengumuman diterima tidak sesuai harapan—uang sudah habis, tapi status mahasiswa belum dikantongi.

Akhirnya muncul pertanyaan tajam di benak saya apakah ini memang soal kualitas mahasiswa? Atau soal “uji daya beli” terselubung?

UNY apakah masih rumah yang sama?

Saya tidak sedang menyalahkan UNY. Kampus juga harus beradaptasi, apalagi setelah punya Fakultas Kedokteran baru. Mungkin ini bagian dari proses menuju kampus modern yang terintegrasi. Tapi tetap saja, saya tidak bisa menahan perasaan kecewa saat melihat bagaimana perubahan ini terasa berat sebelah.

Yang berubah dari UNY bukan hanya kurikulumnya, tapi juga cara memperlakukan camaba. Dari yang dulunya mengayomi, kini terasa memaksa. Dari yang dulunya terbuka, kini penuh syarat tak tertulis. UNY sekarang sudah bertransformasi jadi kampus besar, tapi sayangnya, tidak semua camaba siap menghadapi cara barunya.

Saya percaya, niat UNY itu baik. Tapi cara menyampaikannya belum ramah. Saya percaya cek kesehatan itu penting, tapi memberatkan secara finansial di masa transisi juga bukan hal yang sepele.

Untuk pihak kampus mungkin perlu ada solusi. Misalnya menyediakan subsidi tes kesehatan, membuka klinik regional per wilayah, atau memberi opsi surat keterangan sementara dari RS terdekat. Supaya kampus tidak hanya terlihat profesional, tapi juga tetap memelihara rasa empati sosial.

Karena menjadi camaba itu bukan soal siapa yang paling siap bayar. Tapi siapa yang paling siap belajar. Dan kalau kampus mulai menyeleksi berdasarkan isi dompet sebelum membuka pintu ruang kelas, ya mohon maaf: bukan hanya idealisme yang tergadai, tapi juga rasa kemanusiaan yang dulu jadi alasan kenapa kampus itu dipilih.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Tahun Kuliah di UNY yang Menyandang Status Kampus Medioker, Ijazah Nggak Berguna di Dunia Kerja, dan “Cuma” Komoditas Tenaga Kerja Murah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juni 2025 oleh

Tags: Camaba UNYtes kesehatanUNY
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Di Sleman, Mahasiswa Bisa Hidup dengan Uang 30 Ribu (Unsplash)

Cara Mahasiswa Bertahan Hidup di Sleman dengan Uang 30 Ribu

23 Juni 2024
Membayangkan Tingkah Laku Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra kalau Punya Grup WhatsApp Mojok.co jogja kuliah di jogja

Membayangkan Tokoh Upin Ipin Kuliah di Jogja: Susanti Nongkrong di Bonbin, Ehsan Jadi Anak Amikom

21 Januari 2025
Derita Maba UNY 2024: Belum Seminggu Ospek, Sudah Disuguhi Realita Pahit Kampus pkkmb uny

Derita Maba UNY 2024: Belum Seminggu Ospek, Sudah Disuguhi Realitas Pahit Kampus

8 Agustus 2024
Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

22 Mei 2025
Dear UNY, Tambah Fakultas Baru Sah-sah Aja, tapi Jangan Lupa Pikirkan Lahan Parkirnya  MOjok.co

Dear UNY, Tambah Fakultas Baru Sah-sah Aja, tapi Jangan Lupa Pikirkan Lahan Parkirnya 

27 Juni 2025
Polisi Tidur: Dibutuhkan Warga, tapi Bikin Jengkel Pengendara karangmalang

Polisi Tidur Area Karangmalang Jogja Nggak Manusiawi: Biar Nggak Ngebut atau Makin Dekat dengan Maut sih?

18 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

10 Istilah Populer di Kampus Unpad yang Penting Diketahui Mahasiswa Baru Mojok.co

10 Istilah di Unpad yang Perlu Diketahui Mahasiswanya biar Nggak Dikira Kuper

7 Januari 2026
Pengalaman Nonton Film di Bioskop Bandara Sepinggan Balikpapan, Alternatif Menunggu Penerbangan Tanpa Menguras Dompet Mojok.co

Pengalaman Nonton Film di Bioskop Bandara Sepinggan Balikpapan, Alternatif Menunggu Penerbangan Tanpa Menguras Dompet 

10 Januari 2026
4 Wisata Semarang yang Bisa Bikin Kamu Kapok Jika Salah Momen Berkunjung

Jangan Ngaku Pengusaha Hebat kalau Belum Sukses Jualan di Semarang!

7 Januari 2026
Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

5 Januari 2026
Healing dari Palembang ke Lampung Penuh Perjuangan, tapi Sepadan dengan yang Didapat Mojok.co

Healing dari Palembang ke Lampung Penuh Perjuangan, tapi Sepadan dengan yang Didapat

5 Januari 2026
Cerita Kawan Saya Seorang OB selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

Cerita Kawan Saya Seorang OB Selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

10 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 
  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.