Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Terserah kalau Pemerintah Suka Bikin Istilah-istilah Baru, seperti PSBB hingga PPKM

Muhammad Farih Fanani oleh Muhammad Farih Fanani
12 Agustus 2021
A A
Biarkan Kalau Pemerintah Suka Bikin Istilah-istilah Baru: Dari PSBB hingga PPKM terminal mojok.co

Biarkan Kalau Pemerintah Suka Bikin Istilah-istilah Baru: Dari PSBB hingga PPKM terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Istilah baru yang dibuat pemerintah seperti PSBB hingga PPKM memang bikin geram. Tapi, biarin, lah. Mungkin mereka memang punya alasannya.

Coach Justin pernah menginterpretasikan berbeda antara blunder dan eror dalam sepak bola. Ketika itu, Man United berhasil menang dengan skor 3-2. Dua goal pertama MU (kata Coach Justin) berasal dari blunder pemain belakang Liverpool. Sedangkan satu goal terakhir yang didapat Liverpool berasal dari hasil eror pemain MU. Saat itu, Cavani salah memberikan bola kepada pemain Liverpool dan peluangnya berbuah goal.

Sebetulnya, eror dan blunder secara pengertian memang tidak jauh berbeda. Eror artinya sebuah kesalahan yang menjadikan sesuatu itu batal atau gagal. Sedangkan blunder adalah kesalahan yang berasal dari kecerobohan atau kelalaian. Namun, dalam hal ini, Coach Justin mengartikan bahwa blunder tingkatnya lebih buruk ketimbang eror. Eror masih bisa diantisipasi, sedangkan blunder amat sangat sulit diantisipasi. Intinya, pemain MU eror dan pemain Liverpool blunder.

Namun, bukan itu yang akan saya bahas. Saya tidak akan mendebat pendukung atau penentang seorang mantan pelatih futsal Timnas Indonesia yang pernah tinggal di Belanda tersebut. Yang lebih menggelitik untuk dibahas dalam konteks ini adalah orang-orang yang gemar sekali menggunakan istilah baru yang berbuntut pada penerjemahan yang baru pula.

Penggunaan istilah baru (dan penerjemahan baru) itu tentu tidak hanya dilakukan oleh Coach Justin. Banyak sekali orang Indonesia, dan bahkan pemerintah, gemar sekali membuat, mencari, dan menggunakan istilah dan singkatan yang juga baru.

Mulai dari PSBB hingga PPKM. Dua singkatan itu dalam bahasa sederhana bisa diartikan sebagai mini Lockdown. Itu kalau di negara lain. Tapi negara kita ini, kan, beda.

Dalam ruang lingkup yang lebih sempit, dulu, ketika saya menekuni sebuah profesi baru, saya dihadapkan pada istilah-istilah singkatan yang membingungkan. Semua pekerjaan yang harus saya kerjakan berhubungan dengan singkatan. RPP, Prota, Prosem, KI, KD, dan lain sebagainya.

Untuk yang paham dan belajar di dunia pendidikan, pasti tidak akan merasa kerepotan dengan istilah-istilah yang barusan saya sebutkan. Namun, mengajar adalah dunia baru bagi saya. Dan benar, hal pertama yang saya pelajari ketika masuk ke profesi ini adalah mempelajari satu persatu arti dari jajaran huruf yang disusun rapi tersebut.

Baca Juga:

Pemerintah Bangkalan Madura Nggak Paham Prioritas, Memilih Sibuk Bikin Ikon Pendidikan daripada Perbaiki Kualitas Pendidikan

5 Cara Legal Boikot Pemerintah yang Ugal-ugalan

Saya harus dipusingkan dengan hal yang sama sekali tidak saya persiapkan. Tapi, meskipun demikian, saya lebih memilih untuk mencoba mengerti alasan blio-blio pembuat kebijakan itu gemar sekali membuat istilah baru yang membingungkan, ketimbang harus meminjam istilah dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing yang sudah memiliki arti sendiri.

Saya berhasil menemukan tiga alasan.

Pertama, negara kita ini banyak sekali bahasa dan budayanya. Bahkan masih banyak orang yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan berbahasa asing. Kok berbahasa, wong berlogat normal saja tidak bisa.

Maka untuk membuat sebuah kebijakan atau peraturan yang mudah dipahami oleh semua kalangan, tanpa peduli logat dan lidah orang terbiasa berbahasa Indonesia, dipakailah nama dari sebuah singkatan. Mungkin dengan memakai singkatan, orang-orang yang tidak bisa berlogat asing dengan baik akan bisa mengucapkan aturan baru itu dengan fasih. Bayangkan kalau mereka harus berusaha sedemikian rupa demi untuk mengucapkan kata lockdown. Ini mungkin, loh, ya.

Kedua, agar tidak sama dengan negara lain. Sudah cukup jelas kalau masyarakat kita ini anti sekali dengan yang namanya produk asing. Bisa jadi ini berkat jiwa nasionalisme yang sangat tinggi, tapi keengganan masyarakat kita untuk menelan mentah-mentah produk asing mungkin jadi salah satu faktor yang dipertimbangkan.

Kemarin saja, di salah satu kota yang ada di negara kita tercinta ini, ada sebuah helikopter yang sedang terbang di udara dan membawa bendera berwarna merah. Helikopter tersebut direkam dan dituduh mengibarkan bendera Cina. Padahal mereka sedang membawa bendera TNI. Ada-ada saja.

Ketidaksudian terhadap asing itulah yang tampaknya dihindari oleh pembuat kebijakan. Sehingga blio-blio ini memilih untuk menggunakan istilah dalam negeri yang dianggap akan mudah diterima oleh khalayak umum. Dengan demikian, muncul istilah baru yang lokal banget: PPKM, misalnya.

Meskipun begitu, istilah baru yang muncul rupanya bukan hanya sebagai bentuk padanan kata dari istilah luar yang sudah ada. Istilah baru ini menimbulkan penafsiran yang juga baru. Seperti halnya Coach Justin.

Ketiga, dengan menamai programnya dengan nama atau singkatan yang njelimet itu, pembuat kebijakan bisa menafsirkan ulang aturan-aturan tersebut. Contoh paling sederhana adalah (lagi-lagi) PSBB dan PPKM. Aturan itu tentu hampir sama dengan lockdown, tapi juga tidak bisa disamakan. Pemerintah kita punya penafsiran sendiri yang (katanya) disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat lokal.

Kalau begitu, kan, pembuat kebijakan bisa mengeruk perhatian lebih dari masyarakat, berkat nuansa kepedulian yang lahir dari kebijakan baru tersebut. Entah benar-benar peduli atau hanya kepedulian semu, yang penting peduli. Biarlah pemerintah berkreasi sedemikian rupa dengan istilah-istilah baru yang njelimet itu.

Tapi mbok kalau bikin istilah itu yang keren.

BACA JUGA Pemerintah Akui Istilah New Normal Salah. Lho, Bukannya Sudah Serbasalah sejak Awal? dan tulisan Muhammad Farih Fanani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 September 2021 oleh

Tags: pemerintahPojok Tubir Terminalppkmpsbb
Muhammad Farih Fanani

Muhammad Farih Fanani

Muhammad Farih Fanani, full time berpikir, part time menulis. Instagram @mfarihf.

ArtikelTerkait

vaksinasi vaksin berbayar covid-19 Hoaks Vaksin Mengandung Virus Itu Wagunya Sampai Ubun-ubun terminal mojok.co

Pihak yang Jelas-jelas Bahagia atas Vaksin Berbayar Adalah Orang-orang yang Nggak Percaya Covid-19

12 Juli 2021
aspek perpajakan peraih medali olimpiade mojok

Aspek Perpajakan pada Hadiah yang Diterima Atlet Peraih Medali Olimpiade

5 Agustus 2021
pledoi vonis juliari batubara menteri korupsi mojok

Pledoi Juliari Batubara dan Sakit Hati yang Terprediksi

13 Agustus 2021
Kisah Nelangsa Baliho Kepak Sayap Kebhinekaan terminal mojok.co

Kisah Nelangsa Baliho Kepak Sayap Kebhinekaan

13 Agustus 2021

Kamu yang Nggak Setuju Milenial Harus Punya Rumah di Usia 40 Tahun Pasti Berwawasan Cetek

19 Juni 2021
Curhat Seorang Fakboi yang Diputusin karena Ikut Demo terminal mojok.co RUU Ciptaker

Apa Bedanya Demo 1998 dengan Demo 2020?

15 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

19 Maret 2026
7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated (Unsplash)

7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated: Kombinasi Rasa yang Memanjakan Lidah dan Semua Cocok Jadi Buah Tangan

21 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.