Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Ternyata Orang Jepang Sangat Religius, lho!

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
4 Desember 2021
A A
Ternyata Orang Jepang Sangat Religius, lho! terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Masa sih orang Jepang religius?

Mungkin itulah pertama kali yang kita sangsikan saat mendengar pernyataan bahwa orang Jepang sangat religius. Banyak anak muda Jepang yang memilih untuk nggak percaya agama, lho. Mereka bahkan mencampur adukkan agama: saat natal ikut merayakan natal dengan makan ayam goreng, tahun baru pergi ke kuil Shinto atau kuil Buddha, dan saat upacara kematian diselenggarakan dalam agama Buddha.

Lantas, kenapa mereka disebut religius?

Kamisama, tasukete kudasai (Tuhan, tolong saya!)

Sebenarnya saya sangat jarang mendengar teman-teman saya menyebut “Kamisama” dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, pernah sekali saya mendengar seorang teman Jepang yang memohon supaya nggak turun hujan, “Kamisama, onegaishimasu.” (Tuhan, tolong!) sambil memasang teru teru bozu di kamarnya. Teru teru bozu, teru bozu, ashita tenki ini shite o-kure. Saya pikir itu hanyalah adegan dalam dorama Jepang, tapi saya menyaksikannya sendiri.

Malam hari menjelang piknik atau hari olahraga, biasanya murid sekolah membuat teru teru bozu dan menggantungkannya di depan jendela rumahnya. Tentu saja mereka berharap agar keesokan harinya cuaca cerah dan nggak hujan.

Anak saya juga pernah mendengar temannya bilang, “Kamisama, tasukete kudasai!” saat bertanding sepak bola dengan tim lain. Pernah dengar cerita anak teman juga sering mendengar kalimat itu saat menjelang ulangan di kelas. Jadi, sadar atau nggak sadar, sebenarnya anak kecil Jepang sudah mengenal Kamisama (Tuhan) sejak kecil.

Sebelum makan, mereka juga mengucapkan, “Itadakimasu,” yang artinya sangat erat dengan rasa berterima kasih dan bersyukur karena sudah diberi nikmat makanan. Selesai makan pun mereka mengucapkan, “Gochisousamadeshita,” untuk bersyukur atas makanannya.

Orang Jepang juga memanggil biksu untuk mendoakan mobil baru atau saat mereka akan membangun rumah baru. Bos tempat saya part time dulu juga memasang semacam jimat di atas pintu masuk toko. Mungkin dengan harapan agar dagangannya laris manis, ya. Sebagai karyawan sih saya tahunya ya berusaha menarik perhatian para wisatawan agar mau mampir ke toko oleh-oleh kami.

Baca Juga:

Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang

Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian

Ngomongin jimat (omamori), di kuil Shinto (jinja) maupun kuil Buddha (o-tera), banyak sekali dijual bermacam-macam jimat. Ada jimat enteng jodoh, jimat kesehatan, jimat lahiran lancar, jimat lulus ujian, dll. Orang Jepang juga membeli ini, kok. Selain omamori, ada juga ema dan omikuji tempat mereka menuliskan doa dan harapan mereka. Biasanya, ema dan omikuji digantung di kuil tempat mereka berdoa.

Selain omamori, ema, dan omikuji, orang Jepang juga memberikan sajen bunga (osonae) di kuil kecil pinggir jalan. Di dalam rumah, mereka memiliki tempat untuk melakukan ritual doa juga, kok, dan ini disebut butsudan.

Meski orang Jepang bilang nggak percaya Tuhan, kenyataannya mereka “selalu” berdoa kepada Tuhan mereka. Jadi, sebenarnya mereka percaya Tuhan versi mereka dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Itulah kenapa orang Jepang disebut religius.

Ritual keagamaan

Tahun baru di Jepang nggak diisi dengan ingar bingar meriahnya kembang api. Kalaupun ada, biasanya hanya dilakukan di kota besar seperti Tokyo, tetapi itupun jarang. Suasana tahun baru cenderung sepi dan sunyi karena semua anggota keluarga berkumpul di rumah. Orang Jepang menghabiskan malam tahun baru mereka di kuil, baik kuil Shinto maupun kuil Buddha.

Menjelang detik-detik tahun berganti, biasanya dimulai sejak 11 malam, mereka pergi ke kuil terdekat untuk berdoa. Budaya ini dikenal dengan hatsumode alias pergi mengunjungi kuil pertama pada awal tahun baru dengan harapan tahun ini diberi keberkahan dan kebaikan. Lonceng akan dibunyikan oleh pemuka agama sebanyak 108 kali. Sebenarnya hatsumode nggak harus selalu dilakukan pada malam hari menjelang tahun baru, sih. Pada hari ke-2 dan ke-3 tahun baru juga masih penuh dengan antrean orang yang berdoa di kuil.

Saya pernah dengan sengaja berkunjung ke kuil pada malam tahun baru ini karena sangat penasaran dengan ritual keagamaan orang Jepang. Sebenarnya alasan utamanya juga karena kuil dibuka gratis—biasanya bayar 500 yen—untuk umum dari jam 00.01 sampai 06.00 tanggal 1 Januari. Sekitar jam 4 pagi, saya nekat bersepeda di tengah dinginnya dini hari kala itu.

Ternyata memang benar antrean sangat mengular, baik di kuil Buddha maupun kuil Shinto dekat tempat tinggal saya. Saya terharu melihat mereka melempar koin dan khusyuk berdoa. Saya juga sempat bertemu dengan seorang teman Jepang yang ikut antre dan saat bertemu dengannya di tempat kerja, dia menceritakan hatsumode-nya.

Selain ritual tahun baru yang penuh dengan doa dan harapan, orang Jepang juga melakukan ritual keagamaan di kuil Shinto seperti upacara kelahiran pada sebulan setelah bayi lahir dan pada saat anak berusia 3, 5, 7 tahun. Semua ritual tersebut untuk mendoakan kesehatan dan keselamatan anak. Upacara kematian biasanya diadakan dalam agama Buddha dengan mengundang biksu dan memasang altar Buddha di makam mereka.

Saat obon, mereka juga pulang ke kampung halaman untuk mendoakan arwah nenek moyang mereka. Mereka berdoa di pemakaman dengan mengundang pemuka agama untuk memimpin doa mereka. Ritual doa setelah 49 minggu, 1, 3, 5, dan 10 tahun juga mereka lakukan.

Memilih untuk “tidak percaya = tidak mau ribet”

Saat ditanya apakah orang Jepang percaya Tuhan, mereka biasanya memilih untuk menjawab nggak percaya. Alasan utamanya karena mereka nggak mau ribet. Mengundang pemuka agama untuk mendoakan tentu harus merogoh kocek dalam-dalam. Bahkan saat sibuk, mereka juga harus booking pemuka agama ini. Tarif pemuka agama untuk upacara tertentu juga sudah ditentukan, lho.

Di Jepang, urusan agama ini nggak diatur dalam undang-undang. Agamamu apa, nggak bakal ditulis di dalam KTP juga. Nikah saja yang penting sah dengan selembar surat. Urusan “ritual” ya boleh saja di gereja, kuil Shinto, maupun kuil Buddha.

Orang Jepang juga nggak fanatik terhadap agama dan kepercayaan yang mereka anut. Urusan agama nggak boleh mengganggu profesionalisme. Kerja ya kerja, mau salat ya hanya saat jam istirahat. Begitu yang saya rasakan dulu.

Agama menjadi urusan pribadi, bukan sesuatu yang harus digembor-gemborkan. Meski mereka memilih untuk bilang nggak percaya Tuhan, kenyataannya akhlak mereka terkadang melebihi kita yang mengatakan dengan bangganya bahwa saya adalah penganut agama ini itu. Mungkin karena tak mau ribet.

Kamisama memang berarti Tuhan, tetapi Tuhan-nya orang Jepang itu ada banyak. Di mana-mana ada Kamisama. Pengertian Tuhan ini mungkin kacau antara Tuhan yang Maha Tunggal dan dewa-dewi yang banyak atau apa pun yang dianggap hebat.

Jadi, bisa disimpulkan kalau orang Jepang itu sebenarnya justru ber-Tuhan banyak alias politeisme, bukan ateisme (nggak percaya Tuhan=nggak beragama). Pokoknya Tuhan mana saja hayuk, asal doa dan harapannya dikabulkan.

Sumber Gambar: Unsplash

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Desember 2021 oleh

Tags: agamaorang jepang
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

Model Dakwah Ala Kultum Pemuda Tersesat Sudah Ada Sejak Zaman Rasulullah terminal mojok.co

Kultum Pemuda Tersesat: Akhirnya Ada Wadah untuk Pertanyaan Liar Seputar Agama

1 September 2020
Tahlilan di Rumah Tetangga Nasrani Membuat Saya Paham Arti Toleransi intoleransi umat nasrani mojok.co

Tahlilan di Rumah Tetangga Nasrani Membuat Saya Paham Arti Toleransi

28 September 2020
Bayangkan Jika Lagu 'Melukis Senja' Budi Doremi Itu Ungkapan Tuhan untuk Kita terminal mojok.co

Bayangkan Jika Lagu ‘Melukis Senja’ Budi Doremi Itu Ungkapan Tuhan untuk Kita

3 Maret 2021
Praktik Akad Nikah di Sekolah Nggak Berfaedah, yang Lebih Penting Masih Banyak!

Praktik Akad Nikah di Sekolah Nggak Berfaedah, yang Lebih Penting Masih Banyak!

9 November 2022
Nama Orang Jepang Cukup Dua Kata, Tanpa Gelar Terminal Mojok

Nama Orang Jepang: Cukup Dua Kata, Tanpa Gelar

26 Mei 2022
menganut lebih dari satu agama, mbel-Embel Garis Lucu dan Tahun-tahun yang Tidak Ramah Bagi Umat Beragama

Embel-Embel Garis Lucu dan Tahun yang Tidak Ramah Bagi Umat Beragama

14 Desember 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha NMAX, Motor yang Tidak Ditakdirkan untuk Dimodifikasi Mojok.co

Yamaha NMAX, Motor Gagah tapi Biaya Merawatnya Sama Sekali Tak Murah

25 Februari 2026
6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag- Cuma Bikin Sakit Hati! (Wikimedia Commons)

6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Sakit Hati

22 Februari 2026
Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026
Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

26 Februari 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

UNNES Semarang Rajin Menambah Mahasiswa, tapi Lupa Menyediakan Parkiran yang Cukup

24 Februari 2026
4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Cocok Jadi Suguhan saat Lebaran Mojok.co

4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Nggak Mengecewakan dan Cocok Jadi Suguhan Lebaran

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”
  • Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya
  • Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun
  • Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga
  • Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.