Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Terima Kasih, Carlo Ancelotti

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
28 Mei 2022
A A
Terima Kasih, Carlo Ancelotti

Terima Kasih, Carlo Ancelotti (Saolab Press via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya ingin Carlo Ancelotti ditendang saat itu juga setelah Madrid dilumat Barca empat gol tanpa balas di kandang sendiri. Pada hari itu, saya yakin mendiang Santiago Bernabeu begitu malu di akhirat sana, melihat Modric dipasang sebagai false nine dan Nacho yang dipermainkan Dembele.

Amarah saya dan banyak suporter Madrid setelah kekalahan menyedihkan pada laga El Clasico tersebut sebenarnya adalah ledakan yang selama ini tertahan. Ancelotti seakan tak mau melakukan rotasi pemain, meski laga tak lagi penting. Pemain seperti diperas keringatnya hingga tak bersisa. Dan pemain yang tak menjejak lapangan makin frustrasi. Ketergantungan pada Benzema bikin tim ini stagnan. Jika Benzema buruk, Madrid buruk. Pejah gesang nderek Benzema, padahal Madrid bukan tim seperti itu.

Saya amat yakin bahwa laga El Clasico adalah awal mula keruntuhan Madrid. Tapi, ternyata saya salah.

Carlo Ancelotti (Dubyna via Shutterstock.com)

***

Dulu, Agus Mulyadi pernah bertanya, “Kik, tim opo sing to dukung?” Dengan mantap, saya menjawab, “Hala Madrid!” Respons Agus begitu nggatheli. Dia bilang, “Ora asik, mosok ndukung og tim sing menangan.” Pada titik tertentu, dia benar. Tapi, ada salahnya juga.

Saya mendukung Real Madrid karena dua hal. Pertama, David Beckham. Ketika dia pindah ke Madrid, nggak pakai lama saya pindah dukung Madrid. Iya, duluuuu banget, saya dukung MU ketika masih bocah. Ternyata, saya kadung kepincut sama Madrid. Kedua, inilah yang bikin saya kepincut, tim ini menangan.

Namun, lambat laun, mendukung Madrid justru jadi cara saya menyakiti diri sendiri. Kemunculan Messi akhirnya bikin Barcelona mendominasi. Dan yang jadi korbannya, ya Madrid. Sudah berkali-kali saya melihat Real Madrid dibantai Barcelona. Juara di liga domestik pun tak meyakinkan. Di Liga Champions pun terseok-seok.

Benar, kedatangan Ronaldo bikin semuanya berubah. Tapi, memori kehilangan masa jaya itu membekas di benak saya (dan mungkin orang lain). Saya tidak bisa melihat Real Madrid menang dengan skor tipis, mereka harus menang dengan skor besar, mendominasi, dengan permainan yang bagus pula. Memang obsesi ini aneh, tapi, kalian pahamlah maksud saya.

Baca Juga:

Selama Real Madrid Tidak Percaya dengan Strikernya, Lupakan Meraih Gelar UCL ke-16

Apa pun Bencana yang Menimpa Barcelona, Real Madrid lah (yang Dituduh Jadi) Penyebabnya

Tapi, lambat laun, saya menyadari bahwa sebenarnya obsesi saya tak aneh-aneh amat. Saya menyadari bahwa Real Madrid itu spesial, setidaknya bagi saya. Tim ini tidak ingin menang. Tim ini ingin menang dan menguasai. Tapi, di saat lain, tim ini tidak hanya ingin menang dan menguasai, tapi juga bermain hebat.

Dan di saat lain, mereka, entah kenapa, jatuh di awal, lalu bangkit dengan begitu menakjubkan.

Saya menyebut semangat Madrid adalah keangkuhan yang berdasar. Madrid adalah tim terbaik, dan wajar jika mereka angkuh. Ketika mereka terluka, ego mereka bikin mereka tak bisa menerima kekalahan. Maka, mereka bertarung lebih keras, lebih alot, dan membuat keajaiban. Dan ini sesuai dengan spirit tim ini, grandeza, yang artinya, kebesaran, keagungan, atau kejayaan. Tiga arti tersebut, semua sesuai dengan apa yang tim ini perjuangkan.

***

Carlo Ancelotti mengubur kenangan El Clasico lalu fokus ke laga selanjutnya. Mereka bertandang ke Stamford Bridge, dan semua memprediksi bahwa Madrid akan dikubur dalam-dalam. Tapi, mereka justru menginjak-injak Chelsea di depan pendukung sendiri. Sempat kelabakan di Bernabeu, namun akhirnya mereka tetap melaju setelah Chelsea tak sanggup mempertahankan selisih gol.

Lalu, mereka bersua dengan Manchester City, tim paling sempurna di dunia (versi saya). Di laga pertama, Madrid masih bisa pulang tegak meski kalah dengan skor 4-3. Namun, laga leg kedua di Bernabeu menunjukkan siapa Carlo Ancelotti sebenarnya.

Carlo dan Davide Ancelotti (Saolab Press via Shutterstock.com)

Benar bahwa Rodrygo dan Benzema adalah aktor yang harus disanjung atas kemenangan Madrid, namun kita harus beri Ancelotti kredit yang sama besarnya.

Ancelotti sempat dianggap pelatih miskin taktik. Jika definisi kaya taktik adalah possession, skema yang rapi, pergerakan pemain yang terencana, serta strategi yang njelimet, benar Ancelotti miskin. Tapi, saya tak begitu setuju.

Saya tak mau membahas skema yang ia terapkan, tapi lebih ke man management yang ia lakukan. Carlo Ancelotti merasa ia tak perlu memberi instruksi yang detil kepada tiap pemainnya. Ia merasa bahwa hal itu tak perlu dilakukan. Dan menurut saya, itu tepat. Kau mencoba memberi instruksi bagaimana melewati pemain kepada Vinicius dan bagaimana mencari ruang kepada Benzema? Come on.

Sikapnya yang tak berlebihan, bahkan ketika Madrid berhasil come back melawan City menunjukkan bahwa itu bukan hal yang menakjubkan. Ia percaya anak buahnya bisa melakukan itu, sebab mereka bermain untuk Real Madrid. Dan bermain untuk Real Madrid, artinya, tidak memberi ruang untuk aib dan rasa malu sama sekali.

Mungkin kekalahan di El Clasico lah yang memberi Ancelotti kesadaran bahwa ia sedang melatih Real Madrid. Tidak ada ruang pengampunan untuk kesalahan dan kekalahan. Semuanya harus sempurna. Dan mungkin ia menemukan bagaimana menjadi Real Madrid yang sempurna: memberi kepercayaan pada pemain bahwa mereka bisa melakukan keajaiban. And yeah, it works.

Carlo dan Rodrygo (Photo-oxser via Shutterstock.com)

Laga final Liga Champions akan tersaji beberapa saat lagi. Liverpool bukanlah tim yang mudah dikalahkan. Setidaknya, jauh lebih sulit ketimbang PSG. Namun, tidak ada final yang mudah. Tapi, sebelumnya, saya ingin berterima kasih kepada Carlo Ancelotti. Dia membuat Vinicius bersinar, dia memberi kita penampilan terbaik Benzema, dia memberi ruang untuk Camavinga, Valverde, Rodrygo, dan Ceballos untuk menyihir dunia. Dia membawa Madrid meraih titel La Liga ke-35, dan yang terakhir, membawa Real Madrid ke habitat aslinya: final Liga Champions.

Apa pun hasilnya, terima kasih, Ancelotti. Tanpamu, ini tak mungkin terjadi. Dan tentu saja, saya minta maaf telah meragukanmu.

HALA MADRID Y NADA MAS!

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Rodrygo, The Starboy

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 Mei 2022 oleh

Tags: carlo ancelottireal madridRodrygo
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

zinedine zidane hengkang real madrid mojok

Andai Zidane Hengkang, Beberapa Hal Ini Akan Terjadi

17 Mei 2021
giant killing Real Madrid vs chelsea taktik sepak bola Eden Hazard Main 20 Menit Jauh Lebih Bagus dari Vinicius Junior dalam 3 Musim terminal mojok.co

Real Madrid Harus Menyelesaikan 3 Masalah Ini Jika Masih Ingin Juara Musim Depan

30 Juli 2020
Sumber gambar: Akun Twitter Eduardo Camavinga

Camavinga Bukanlah Pelarian, dan Ia Tak Muncul Tiba-tiba

8 September 2021
eden hazard carlo ancelotti luis enrique david alaba vinicius junior real madrid vs chelsea mojok

Carlo Ancelotti dan Rasa Tidak Bahagia yang Diperlukan

24 September 2021
UCL bukan tolok ukur mojok

UCL Bukanlah Tolok Ukur Kesuksesan Klub dan Pemain

12 November 2020
Hey, Jude Bellingham, Bienvenido!

Hey, Jude!

8 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol
  • Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik
  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.