Takut Mabuk di Tongkrongan Itu Memang Hal yang Wajar – Terminal Mojok

Takut Mabuk di Tongkrongan Itu Memang Hal yang Wajar

Featured

Gusti Aditya

Ketika KKN, saya heran kenapa kawan-kawan saya bisa etel begitu saja mabuk-mabukan bersama warga. Sedangkan saya, sejatinya ya mau-mau saja buat menenggak barang satu sampai dua gelas saja, tapi ya itu, ada rasa takut yang membuncah dan nggak bisa diganggu-gugat.

Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, menjadi norak dan menyebalkan. Contohnya sudah sangat banyak dan padat merayap. Kebanyakan orang mabuk, paling basic adalah menjadi norak. Noraknya bukan Instastory satu gelas amer lho ya, bukan. Lebih khusyuk dari itu semua, noraknya bikin eneg yang melihat.

Ada yang unik dari tayangan kanal YouTube KUY Entertainment dalam segmen SEMPROD. Podcast yang digawangi alumni host InBox ini memang menghadirkan sesuatu yang selalu unik tiap tayangannya. Namun, dalam episode memperkenalkan segmen baru di KUY Entertainment, yakni THE POWERPOD GIRLS, Awkarin sebagai bakal host di segmen tersebut, tampil ngosak-ngasik.

Sedang high-high-nya, Awkarin tampil meracau sebagaimana tampilan orang yang sedang kobam. Mulai dari menyela obrolan orang lain, ngomong tanpa jeda dan aturan, pun nada tinggi yang mak mbedunduk bikin tamu lain kebingungan.

Awkarin juga nggak ada angin nggak ada hujan, nyindir kawannya yang sedang masuk industri televisi. Sebagai penikmat bekonang dalam tenang, saya hanya mbatin, ah, jebul artis yang melabeli dirinya badasss, norak juga ketika mabuk.

Awkarin yang tengah membangun citra baiknya itu juga mengakui di kolom komentar video tersebut, Awkarin—lagi-lagi—klarifikasi. “Guys, maafin ya aku mabok banget kemaren pas shoot, soalnya shooting ini udah malem banget, shooting dari jam 7 dan Semprod baru mulai shoot jam 10 an, promise to do better next time!”

Begitu sekiranya. Begitu—lagi-lagi—yang dikatakan para influencer yang sedang kena blunder. Begini, mabuk itu memang enak. Ketika mabuk, rasanya otak di kepala saya ini dicopot, dideleh di meja, diberi ketenangan, dan saya bebas mau ngapain aja. Salah satunya adalah keluar sisi norak.

Kedua, ngerepotin orang lain. Di tongkrongan, saya adalah sapu ranjau kawan-kawan ketika mabuk. Kawan saya ini, kalau mabuk lebih parah dari Awkarin. Ada yang lari-lari muter lapangan, ada yang teriak-teriak nama pacar/mantannya, ada yang macak dukun, dan ada yang mukok-mukok.

Sebagai sapu ranjau, tugas saya adalah mengantar kawan-kawan sampai kosan dengan baik dan benar. Kalau nggak gitu, mereka ketika bangun bisa aja berada di tempat dinas sosial.

Kalau muntah atau tidur, itu merupakan cara yang paling bijak meskipun nggak bisa dikatakan baik. Mabuk tipe ini, merepotkan kawan-kawannya yang bertugas sebagai sapu ranjau karena bikin mual.

Namun, jika memandang kasus Awkarin ini, tidur atau muntah adalah cara terbaik ketimbang meracau ke mana-mana, nyela-nyela obrolan orang. Ya, begitu. Tapi nggak bisa juga sih menyebut orang yang mabuk dengan berteriak-teriak begitu dikatakan lebih baik dari mabuknya Awkarin.

Ketiga, saya nggak tahu kalau mabuk itu seperti apa. Total hanya ada enam orang yang melihat saya mabuk, salah satunya ibu saya dengan bonus amarah seminggu tanpa jeda. Ngeri puol. Alasan inilah yang membuat saya takut mabuk bersama teman-teman. Nih ya, teman yang cepu itu bajingan sekali.

Tapi ya itu, katanya saya jadi orang yang amat terbuka dan doyan curhat. Padahal, saya paling anti dengan hal yang bernama curhat. Pun saya takut membuka tabir beberapa kawan yang menaruh rahasinya kepada saya. Bisa cilaka 13.

Bisa-bisa ketahuan problematika sejarah dunia yang selama ini saya tutupi. Misalkan misteri seperti iluminati dan Napoleon itu lahir di Garut. Alias omongan saya jujur, sejujur Maruf Amin. Alias—lagi—babak bundas, Buos!

Keempat, saya nggak jago-jago amat menenggak minuman jahat. Mabuk itu kamu yang merasakan enak, kawanmu yang terjaga yang merasakan susahnya. Percayalah, mabuk itu bukan sebagai ajang unjuk gigi, tapi menampilkan prestasi.

Saya beneran ini, prestasi dalam hal menenggak ini ada banyak takarannya, salah satunya seberapa kuat dirimu masih tetap dalam kontrol. Bahkan, akan ada rasa respek bagi siapapun yang bisa menakar kapasitas diri. Misal hanya kuat lima tenggak atau tujuh tenggak dengan jujur.

Kalau satu tenggak ya kebangeten, Lur. Mending nggak usah. Beneran. Tapi ya begitulah kapasitas saya, punya penyakit maag akut, harus lihat suasana dulu. Kalau tongkrongan kamar mandinya memadai, okelah. Kalau sebaliknya, kamar mandinya ueeliiik puool, ya nggak sudi.

Mabuk itu asyik ketika kita tahu takaran yang tepat. Lha piye, bagi kamu yang minum Yakult aja udah merinding ya jangan coba-coba minum arak atau sopi. Apalagi kamu yang minum Bintang 0% saja sudah glegek-glegeken, jangan sok-sokan nyobain lapen. Hasilnya nanti ya kayak Awkarin. Halaaah, bubar dunia perserikatan, Dab!

Nih, ya, mabuk itu enak, tapi kata panutan saya pemimpin Partai Idaman, Rhoma Irama, menjawab keresahan Mbak Rita Sugiarto. Begini, tanya Mbak Rita, “Kenapa, e, kenapa minuman itu haram?” Kemudian disahuti oleh Bang Haji, “Karena, e, karena merusakkan pikiran.”

Kalau Bang Haji tahu menjadi pejabat bisa merusak pikiran, kira-kira bagaimana jadinya lagu itu, ya?

BACA JUGA Pengalaman Saya Mabuk Tape Singkong di Kelas 1 SMA dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
16


Komentar

Comments are closed.