Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Takut Akan Ketinggian itu Mengganggu Aktivitas

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
3 Oktober 2019
A A
takut akan ketinggian

takut akan ketinggian

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing, baik dari kelebihan maupun kekurangan. Termasuk akan beberapa ketakutan berlebih yang dirasa pada diri setiap orang. Seperti teman kuliah saya, misalnya, selalu takut ketika melihat badut beserta balon yang dibawa. Alasannya karena sewaktu kecil dia pernah melihat film horor badut dengan tampilan menyeramkan. Hal tersebut terbawa hingga saat ini dan membuatnya merasa tidak nyaman jika melihat badut.

Saya sendiri memiliki beberapa ketakutan dalam hidup, satu yang paling mengganggu aktivitas sehari-hari adalah takut akan ketinggian atau biasa dikenal dengan istilah acrophobia. Bagaimana tidak, kantor saya terletak di lantai 18 suatu gedung, dan hampir setiap kali melihat ke arah luar melalui kaca yang ada, saya merasa jantung berdetak lebih kencang, tangan memproduksi keringat lebih dari biasanya, dan lutut gemetaran—lemas.

Meski sudah beberapa tahun memiliki ruang kerja yang langsung menghadap ke jendela—dan otomatis langsung melihat ke bawah dari lantai 18—tetap saja saya belum terbiasa akan hal tersebut. Maksud saya, sih, rasanya repot dan ada kecemasan tersendiri. Karena kadang kala saya kesulitan untuk bekerja dengan tenang jika ingat sedang berada di tempat yang terbilang tinggi, khususnya sewaktu melihat ke bagian bawah gedung.

Masalah lain bagi saya yang takut akan ketinggian adalah sewaktu menyebrang di jembatan penyebrangan. Apalagi saya adalah pengguna rutin transjakarta ketika menuju ke kantor, tentu setelah tiba di suatu halte, seringkali harus jalan menelusuri jembatan. Bagi orang normal mungkin tinggi jembatan tidak akan dipermasalahkan, namun bagi saya suatu ketinggian akan mengakibatkan timbulnya kecemasan tersendiri. Minimal tangan keringetan dan lutut gemetaran, lah.

Itu kenapa, dalam beberapa kali kunjungan saya ke Dufan, rasanya enggan menaiki halilintar, sekalipun bianglala. Sebelum berhadapan dengan cepatnya laju halilintar atau nikmatnya berdiam diri dan melihat pemandangan dari bianglala ketika ada di posisi tertinggi, saya harus berdamai terlebih dahulu dengan ketakutan akan ketinggian—dan sampai dengan saat ini belum bisa.

Ketakutan akan ketinggian pun memengaruhi bagaimana sikap saya ketika berlibur bersama kerabat atau saudara ke suatu waterpark dengan seluncuran atau perosotan yang tinggi. Saya selalu tidak mau menaiki wahana tersebut. Namun, hampir tidak ada yang betul-betul mengerti akan ketakutan ini. Yang ada, saya dibilang cupu. Memang, kata banyak orang, ketakutan itu harus dilawan—apalagi takut akan ketinggian—sebab, apa yang ditakuti harus dibiasakan untuk dihadapi agar perasaan tersebut berangsur menghilang.

Hal lain yang tentu menggangu adalah ketika saya mendapatkan perjalanan dinas dari kantor tempat saya bekerja atau berlibur, dan harus menggunakan transportasi udara—pesawat. Rasanya, tidak perlu saya jelaskan lebih rinci lagi. Selama ini, ketika di dalam pesawat seringkali saya merasa cemas. Bukan hanya karena guncangan, tapi juga karena ketinggian.

Sebagian orang berpikir, melihat langit secara dekat dan langsung itu menyenangkan. Beberapa penumpang pun tak sedikit yang memilih untuk mendapatkan bangku di sisi dekat dengan jendela—agar bisa melihat awan dan langit lebih dekat. Namun, tentu tidak dengan saya yang memiliki rasa takut akan ketinggian. Bahkan, ketika suatu waktu saya mendapat kursi di sisi jendela, bukannya menikmati pemandangan di atas awan, saya malah gemetaran dan tangan selalu mengeluarkan keringat sepanjang perjalanan.

Baca Juga:

3 Penderitaan Mahasiswa Jurusan Psikologi yang Jarang Diungkapkan

15 Istilah dalam Psikologi yang Cukup Eksis dan Sering Kita Dengar

Itu kenapa, duduk atau mendapat kursi di area lorong pesawat adalah yang terbaik bagi saya. Tidak peduli apa pun yang dilontarkan oleh kenalan saya tentang hal ini, seperti ungkapan, “ah, payah. Padahal kan seru duduk di samping jendela pesawat, bisa sambil liat pemandangan”. Tentu, itu untukmu, bukan untukku. hehe

Pada akhirnya, saya pun ingin seperti yang lain, menikmati ketinggian tanpa rasa takut. Apalagi jika ketakutan ini sudah mengganggu keseharian saya dalam beraktivitas. Tentu, rasanya tidak nyaman. Apa yang bisa saya lakukan saat ini hanya membiasakan diri dalam menghadapi beberapa tempat dengan ketinggian tertentu, agar dapat menghadapi ketakutan dengan baik.

Sampai dengan saat ini, beberapa cara pun sudah saya lakukan. Utamanya sih, ketika ada di tempat yang tinggi saya terus mencoba menatap ke bawah agar terbiasa. Meski sulit dan seringkali merasa pusing, tetap harus dibiasakan. Seperti saat ini, saya mencoba menulis di lantai 18 sambil melihat ke bawah dari kaca gedung. Tapi, lama-lama kok pusing dan tangan juga keringetan, ya. (*)

BACA JUGA Dilema Pecinta iPhone Pengidap Trypophobia atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2019 oleh

Tags: acrophobiafobiakejiwaanPsikologitakut akan ketinggian
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Kiat Hidup Bahagia meski Bokek dan Nggak Bisa Yang-yangan mojok.co/terminal

Kiat Hidup Bahagia meski Bokek dan Nggak Bisa Yang-yangan

12 Maret 2021
Menjadi Sarjana dari Desa dengan Tuntutan Sukses Versi Tetangga terminal mojok.co

Dilema Lulusan Psikologi yang Sering Diarahkan Jadi HRD

4 September 2020
gangguan jiwa psikolog Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

6 November 2019
8 macam penderitaan anak psikologi mahasiswa psikologi sterotip mojok.co

8 Macam Derita Anak Psikologi

9 Oktober 2020
Duka Pengidap Fobia Nasi yang Hidup di Indonesia

Duka Pengidap Fobia Nasi yang Hidup di Indonesia

17 April 2022
Emotional Eating yang Menjadikan Makan sebagai Pelarian Stres Itu Tidak Baik terminal mojok.co

Emotional Eating: Menjadikan Makan sebagai Pelarian Stres Itu Tidak Baik

18 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

12 Januari 2026
Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026
KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja Asal Banyuwangi (Wikimedia)

Pengalaman Naik Kereta Sri Tanjung Surabaya-Jogja: Kursi Tegaknya Menyiksa Fisik, Penumpangnya Menyiksa Psikis

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.