Sukarno Bilang ‘Jangan Lupakan Sejarah’ Bukan ‘Pelajarilah Sejarah’

Artikel

Avatar

Sukarno memperingatkan pentingnya sejarah kepada masyarakat secara umum, bukan pada siswa sekolah saja. Kalimat tersebut bahkan terkenal dengan istilah “jas merah”. Artinya, Sukarno sedang membahas inti dan puncak dari urgensi sejarah, yaitu bagaimana seharusnya kita berpijak dan mengacu pada sejarah.

Kita semua pernah mendengar nama Ibnu Khaldun. Dahulu beliau mengalami kegundahan besar melihat produk-produk reportase pada masa hidupnya, semua memang membalut diri dengan sampul sejarah, tetapi di mata Ibnu Khaldun, semua hanya sebuah penukilan masa lalu yang begitu “polos”.

Kitab-kitab tarikh yang ada pada masa itu hanya menukil cerita-cerita masa lalu, tanpa sedikit pun mengukur kebenaran dan sisi logisnya. Akibatnya, sejarah bercampur-baur dengan aneka dongeng dan mitologi yang tidak masuk akal. Kritik Ibnu Khaldun mungkin terkesan biasa dalam konteks sekarang, namun menjadi luar biasa karena beliau hidup di abad ke-14 Masehi. Jauh sebelum kesadaran kritik historis umum dicapai.

Pencerahan sejarah Ibnu Khaldun tidak diraih di bangku sekolah, jadi masalah yang layak menjadi pertanyaan puncaknya bukanlah kalimat, “Pelajaran sejarah di sekolah itu perlu atau tidak?” melainkan, “Apakah selama ini kita telah mampu berpikir sesuai kerangka sejarah?” mengingat isu pelajaran sejarah yang akan dihapuskan di bangku sekolah.

Kita bisa cukup fleksibel mengatur porsi dan durasi pelajaran sejarah atau materi apa saja yang dipelajari di dalamnya. Masa lalu adalah rangkaian ruang yang amat luas dan jalinan waktu yang sangat panjang. Kita tidak mungkin mempelajari semuanya dan memang tidak harus. Boleh saja kita memiliki fokus materi yang berbeda, sejarah Hindu-Buddha, kolonialisme, Islam, perang dunia, hingga era praaksara. Kita juga sewajarnya berbeda pendapat tentang mana yang lebih relevan untuk dipelajari.

Namun, poin besarnya adalah seberapa efektif itu semua dalam membentuk pola pikir historis saat berhadapan dengan peristiwa masa lalu? Pertama, seperti dijelaskan oleh Ibnu Khaldun, kita perlu memisahkan konten-konten logis dengan hal-hal yang di luar nalar. Namun, hal ini akan membentur satu masalah besar, yaitu agama. Setiap orang mungkin setuju untuk menerapkan nalar logis dan mengeliminasi hal-hal yang tidak masuk akal dari catatan sejarah. Kecuali pada hal yang terkait dengan keimanan mereka. Akibatnya sosok nabi, sahabat, atau para wali itu nyaris mustahil dibahas dalam kerangka historikal.

Problem kedua adalah tidak melibatkan perasaan dalam menganalisa masa lalu. Belajar sejarah tidak akan efektif jika kita melihatnya layaknya cerita superhero melawan penjahat. Hal ini sangat kental terasa dalam paparan para pencinta khilafah belakangan ini. Sejarah yang berkaitan dengan dinamika politik dan kekuasaan harusnya dipandang secara objektif, namun justru dilihat secara hitam putih.

Kita akan sangat sulit mengkaji sosok pemimpin dan raja-raja masa lalu secara historis jika berpegang pada prinsip hitam putih. Misalnya semua khalifah Ottoman adalah orang mulia dan bijak, sedangkan penguasa Romawi dan Austria-Hongaria adalah setan-setan jahat. Fakta sejarah tidak akan siap diterima oleh orang yang melibatkan perasaan kultus dan benci berlebihan pada tokoh dan entitas politik tertentu.

Masalah ketiga adalah kecenderungan mencari hal-hal dramatis. Memang ada banyak kisah dramatis yang terekam dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun, tetap saja, sejarah adalah realitas yang tidak mungkin disamakan dengan cerita fiksi. Ia tidak selalu memiliki klimaks yang spektakuler dan dramatis, melainkan berjalan biasa saja, bahkan membosankan dan tidak menarik.

Beberapa orang mencoba menyimak sejarah seperti mereka menonton film. Akibatnya mereka memaksa semuanya harus berjalan dramatis sehingga beberapa peristiwa mesti dibelokkan alurnya agar menjadi lebih menarik. Tidak jarang, berita-berita hoaks pun disusupkan untuk menambah bumbu-bumbu cerita.

Orang-orang di atas adalah tipe manusia yang gagal dewasa. Saat kecil, mereka dininabobokan dengan dongeng-dongeng. Setelah besar, mereka justru memaksa agar dunia nyata bisa berjalan sedramatis kisah-kisah dongeng itu.

Jadi, alih-alih menyorot diskusi, “Apakah pelajaran sejarah perlu ditiadakan dari kurikulum?” kita harusnya bermain pada ranah yang lebih sesuai, yaitu, “Bagaimana mendorong efektivitas pembelajaran dan apa saja hambatan di dalamnya?” Sungguh tidak terbayangkan apa jadinya bangsa ini jika kita mencampakkan prinsip historiografi, lantas beralih pada cerita masa lalu yang tanpa nalar, mesti hitam putih, memuaskan perasaan, dan harus berakhir dengan klimaks sedramatis mungkin.

BACA JUGA Mempermasalahkan Logika Film Kartun Adalah Sebuah Bentuk Penyimpangan Logika dan artikel Rudy Fachruddin lainnya.

Baca Juga:  Berbagai Jenis Polisi Tidur yang Merajai Jalanan Jogja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
24


Komentar

Comments are closed.