Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sukarno Bilang ‘Jangan Lupakan Sejarah’ Bukan ‘Pelajarilah Sejarah’

Rudy Fachruddin oleh Rudy Fachruddin
21 September 2020
A A
Sukarno Bilang 'Jangan Lupakan Sejarah' Bukan 'Pelajarilah Sejarah' pelajaran sejarah ditiadakan kemendikbud terminal mojok.co

Sukarno Bilang 'Jangan Lupakan Sejarah' Bukan 'Pelajarilah Sejarah' pelajaran sejarah ditiadakan kemendikbud terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sukarno memperingatkan pentingnya sejarah kepada masyarakat secara umum, bukan pada siswa sekolah saja. Kalimat tersebut bahkan terkenal dengan istilah “jas merah”. Artinya, Sukarno sedang membahas inti dan puncak dari urgensi sejarah, yaitu bagaimana seharusnya kita berpijak dan mengacu pada sejarah.

Kita semua pernah mendengar nama Ibnu Khaldun. Dahulu beliau mengalami kegundahan besar melihat produk-produk reportase pada masa hidupnya, semua memang membalut diri dengan sampul sejarah, tetapi di mata Ibnu Khaldun, semua hanya sebuah penukilan masa lalu yang begitu “polos”.

Kitab-kitab tarikh yang ada pada masa itu hanya menukil cerita-cerita masa lalu, tanpa sedikit pun mengukur kebenaran dan sisi logisnya. Akibatnya, sejarah bercampur-baur dengan aneka dongeng dan mitologi yang tidak masuk akal. Kritik Ibnu Khaldun mungkin terkesan biasa dalam konteks sekarang, namun menjadi luar biasa karena beliau hidup di abad ke-14 Masehi. Jauh sebelum kesadaran kritik historis umum dicapai.

Pencerahan sejarah Ibnu Khaldun tidak diraih di bangku sekolah, jadi masalah yang layak menjadi pertanyaan puncaknya bukanlah kalimat, “Pelajaran sejarah di sekolah itu perlu atau tidak?” melainkan, “Apakah selama ini kita telah mampu berpikir sesuai kerangka sejarah?” mengingat isu pelajaran sejarah yang akan dihapuskan di bangku sekolah.

Kita bisa cukup fleksibel mengatur porsi dan durasi pelajaran sejarah atau materi apa saja yang dipelajari di dalamnya. Masa lalu adalah rangkaian ruang yang amat luas dan jalinan waktu yang sangat panjang. Kita tidak mungkin mempelajari semuanya dan memang tidak harus. Boleh saja kita memiliki fokus materi yang berbeda, sejarah Hindu-Buddha, kolonialisme, Islam, perang dunia, hingga era praaksara. Kita juga sewajarnya berbeda pendapat tentang mana yang lebih relevan untuk dipelajari.

Namun, poin besarnya adalah seberapa efektif itu semua dalam membentuk pola pikir historis saat berhadapan dengan peristiwa masa lalu? Pertama, seperti dijelaskan oleh Ibnu Khaldun, kita perlu memisahkan konten-konten logis dengan hal-hal yang di luar nalar. Namun, hal ini akan membentur satu masalah besar, yaitu agama. Setiap orang mungkin setuju untuk menerapkan nalar logis dan mengeliminasi hal-hal yang tidak masuk akal dari catatan sejarah. Kecuali pada hal yang terkait dengan keimanan mereka. Akibatnya sosok nabi, sahabat, atau para wali itu nyaris mustahil dibahas dalam kerangka historikal.

Problem kedua adalah tidak melibatkan perasaan dalam menganalisa masa lalu. Belajar sejarah tidak akan efektif jika kita melihatnya layaknya cerita superhero melawan penjahat. Hal ini sangat kental terasa dalam paparan para pencinta khilafah belakangan ini. Sejarah yang berkaitan dengan dinamika politik dan kekuasaan harusnya dipandang secara objektif, namun justru dilihat secara hitam putih.

Kita akan sangat sulit mengkaji sosok pemimpin dan raja-raja masa lalu secara historis jika berpegang pada prinsip hitam putih. Misalnya semua khalifah Ottoman adalah orang mulia dan bijak, sedangkan penguasa Romawi dan Austria-Hongaria adalah setan-setan jahat. Fakta sejarah tidak akan siap diterima oleh orang yang melibatkan perasaan kultus dan benci berlebihan pada tokoh dan entitas politik tertentu.

Baca Juga:

Tidak Ada Aqua dan Teh Botol Sosro di Blitar

Kemiripan Hikayat September-Maret Pangeran Diponegoro dan Presiden Sukarno

Masalah ketiga adalah kecenderungan mencari hal-hal dramatis. Memang ada banyak kisah dramatis yang terekam dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun, tetap saja, sejarah adalah realitas yang tidak mungkin disamakan dengan cerita fiksi. Ia tidak selalu memiliki klimaks yang spektakuler dan dramatis, melainkan berjalan biasa saja, bahkan membosankan dan tidak menarik.

Beberapa orang mencoba menyimak sejarah seperti mereka menonton film. Akibatnya mereka memaksa semuanya harus berjalan dramatis sehingga beberapa peristiwa mesti dibelokkan alurnya agar menjadi lebih menarik. Tidak jarang, berita-berita hoaks pun disusupkan untuk menambah bumbu-bumbu cerita.

Orang-orang di atas adalah tipe manusia yang gagal dewasa. Saat kecil, mereka dininabobokan dengan dongeng-dongeng. Setelah besar, mereka justru memaksa agar dunia nyata bisa berjalan sedramatis kisah-kisah dongeng itu.

Jadi, alih-alih menyorot diskusi, “Apakah pelajaran sejarah perlu ditiadakan dari kurikulum?” kita harusnya bermain pada ranah yang lebih sesuai, yaitu, “Bagaimana mendorong efektivitas pembelajaran dan apa saja hambatan di dalamnya?” Sungguh tidak terbayangkan apa jadinya bangsa ini jika kita mencampakkan prinsip historiografi, lantas beralih pada cerita masa lalu yang tanpa nalar, mesti hitam putih, memuaskan perasaan, dan harus berakhir dengan klimaks sedramatis mungkin.

BACA JUGA Mempermasalahkan Logika Film Kartun Adalah Sebuah Bentuk Penyimpangan Logika dan artikel Rudy Fachruddin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2020 oleh

Tags: pelajaran sejarahsukarno
Rudy Fachruddin

Rudy Fachruddin

ArtikelTerkait

Harta Karun Sungai Brantas MOJOK.CO

Harta Karun Sungai Brantas, Peninggalan Sukarno yang Masih Misterius

1 Agustus 2020
Tidak Ada Aqua dan Teh Botol Sosro di Blitar (Unsplash.com)

Tidak Ada Aqua dan Teh Botol Sosro di Blitar

9 September 2022
Sukarno Bilang 'Jangan Lupakan Sejarah' Bukan 'Pelajarilah Sejarah' pelajaran sejarah ditiadakan kemendikbud terminal mojok.co

Pelajaran Sejarah tuh Aslinya Seru dan Berguna, Guru yang Membuatnya Membosankan

23 Juli 2020
kesamaan akhir hidup kekuasaan presiden sukarno dan pangeran diponegoro mojok.co

Kemiripan Hikayat September-Maret Pangeran Diponegoro dan Presiden Sukarno

28 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang Mojok.co

4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang

19 Januari 2026
Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026
Polban, "Adik Kandung" ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

Polban, “Adik Kandung” ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

18 Januari 2026
Bekasi Justru Daerah Paling Nggak Cocok Ditinggali di Sekitaran Jakarta, Banyak Pungli dan Banjir di Mana-mana

Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah

13 Januari 2026
Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.