Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sudah Jangan ke Wakatobi, Masih Banyak Wisata Lainnya

Taufik oleh Taufik
24 Juli 2022
A A
Sudah Jangan ke Wakatobi, Masih Banyak Wisata Lainnya

Sudah Jangan ke Wakatobi, Masih Banyak Wisata Lainnya (Benjamin Jones via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap kali bertemu orang baru dan tahu bahwa saya orang Wakatobi, pernyataan yang selalu wah keluar dari orang tersebut. “Wakatobi itu yang wisata pantainya bagus itu, kan?” Respons itu entah sebagai template atau memang orang-orang ini (paling tidak) pernah lihat Wakatobi dari televisi tersebut selalu bikin kepala saya mengembang. Ternyata Wakatobi bisa bikin orang kagum juga ya~

Kalo itu masih respons yang normatif, saya juga sering dibuat kagum oleh beberapa orang yang ketika bertemu saya dan tahu bahwa saya dari Wakatobi, menyatakan keinginan mereka untuk ke Wakatobi, sekadar wisata atau bahkan menetap di sana untuk waktu yang panjang.

Saya jadi berpikir, kabar tentang keindahan itu ternyata sudah sejauh itu melanglang buana bahkan sampai membuat orang punya mimpi ke sana. Saya jadi mikir jauh ke depan. Anggap saja orang-orang yang kenal Wakatobi ini benar-benar ke tempat saya, lalu melihat secara langsung keindahan lautnya, lalu terkagum-kagum, lalu pulang ke asalnya dan bercerita kepada orang lain, lalu akan semakin terkenallah tempat saya. Sungguh keren sekali!

Sayangnya, itu sekadar andai-andai saya saja. Mengingat kondisi Wakatobi saat-saat ini (yang terjadi bahkan sejak dulu), membuat saya cukup pesimis cita-cita mendatangkan banyak wisatawan hanya akan selalu jadi cita-cita yang dirawat tahun demi tahun.

Kalo boleh memberi saran, kepada sesiapa saja yang punya cita-cita untuk berwisata ke Wakatobi mulai sekarang urungkan niat itu. Bukannya mengusir, beberapa alasan berikut ini (saya kira) mungkin saja akan membuat Anda pikir dua kali sebelum memutuskan berangkat.

Pertama, tentu saja masalah transportasi yang sejak dulu sampai saat ini tidak pernah selesai. Begini, untuk sampai ke Wakatobi itu susah. Hanya bisa dijangkau dengan dua moda transportasi, kapal dan pesawat. Pilihan paling murah, tentu saja kapal. Misalkan saja Anda  berangkat dari Surabaya, maka pilihan murah ini bisa dipakai. Kapal dari Tanjung Perak akan mengantar Anda ke Pelabuhan Murhum di Bau-Bau. Sayangnya, itu belum Wakatobi. Untuk sampai ke Wakatobi, Anda perlu menyebrang menggunakan kapal lagi. Ribet? Ada hal lebih besar yang harus Anda pertimbangkan.

Menggunakan kapal ke Wakatobi adalah salah satu pilihan buat mereka yang tidak sedang dikejar waktu, tidak sedang buru-buru, atau juga mereka yang selow-nya sudah melebihi PNS. Kenapa bisa begitu? Mari kita hitung-hitungan waktu perjalanan.

Dari Tanjung Perak ke Pelabuhan Murhum itu membutuhkan waktu rerata 2 hari 3 malam atau 3 hari dua malam (tergantung hari/malam keberangkatan). Lalu setelah sampai di Bau-Bau, perjalanan perlu dilanjutkan. Jika menggunakan kapal lagi, perlu untuk memilih tujuan salah satu pulau di Wakatobi, lalu menunggu malam hari karena kapal laut ke Wakatobi biasanya berangkat pada malam hari dengan waktu tempuh 6 sampai 10 jam. Maka bisa dipastikan, berangkat menuju Wakatobi menggunakan kapal bisa kita tempuh dengan waktu (hitungan kasar) 5 hari. Dan itu baru berangkatnya. Untuk PP, tinggal kali dua, jadi 10 hari. Dan ingat lagi, itu baru perjalanannya.

Baca Juga:

10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata

Liburan ke Luar Negeri Bukan Soal Gengsi, tapi Pilihan Masuk Akal karena Tiket Pesawat Domestik Sudah Kelewat Mahal

Ada pilihan lain menggunakan pesawat. Nah, asiknya pesawat ini sebenarnya adalah perjalanan yang cukup hemat waktu. Sayangnya, tidak hemat uang. Untuk sampai di mendarat di bandara matahora di Wakatobi dengan sempurna, (misal) dari Surabaya Anda membutuhkan sekira 2 juta sekali berangkat. Untuk PP sekira 4 juta, dan itu baru untuk satu orang, untuk transportasi. Yang lebih wah lagi, 4 juta itu adalah harga sebelum tiket pesawat melonjak beberapa bulan ke belakang.

Pening? Kalo belum, mari kita menuju poin yang lain.

Misal urusan transportasi sudah bisa diatasi, poin kedua yang perlu dipikirkan adalah akses. Jika di poin sebelumnya tadi bicara soal persoalan transportasi untuk sampai ke Wakatobi, pada poin ini, mari kita bicara kondisi transportasi dan akses di Wakatobi itu sendiri. Sebagai daerah dengan kepulauan, akses satu pulau dengan yang lain sebenarnya sudah ada. Artinya, untuk menjangkau satu lokasi tertentu, aksesnya ada.

Masalahnya adalah bahwa akses hanya tersedia untuk waktu tertentu saja, tidak seperti halnya bus Surabaya-Jogja yang berangkat setiap 15 menit sekali. Paling banter ya transportasi (kapal/speedboat) yang berangkat dua atau tiga kali dalam satu hari dan itu tidak PP.

Permasalah transportasi antarpulau ini diperparah dengan kondisi jalanan di pulau itu sendiri yang tidak layak disebut sebagai jalan. Mungkin lebih tepat disebut sebagai jalan setapak. Itu pun sudah kroak sana sini. Maka lengkaplah poin ini sebagai alasan untuk tidak usah wisata ke Wakatobi.

Eh tapi, ternyata ada poin yang lebih sadis dari sekedar akses dan transportasi di atas. Adalah persoalan ketiga, bahwa ketika wisatawan sudah di Wakatobi, lantas mau wisata ke mana? Orang yang pernah berkunjung atau sekadar tahu Wakatobi dari desas-desus, mestinya paham bahwa Wakatobi justru nggak punya pantai yang bisa dijadikan referensi.

Maksudnya begini, Wakatobi nggak punya pantai yang jadi primadona. kok bisa? lha pemandangannya sama semua!

Itulah sebabnya, pantai di Wakatobi itu tidak seterkenal pantai-pantai lain di tempat wisata lainnya. Belum lagi penamaan pantai yang aslinya sudah bagus, malah dipermak dan jadi nggak Wakatobi banget. Pantai Cinta, pffft, apa itu?

Nah, oleh karena pantai dan laut itu (menurut) warga lokal adalah wisata yang sudah antimainstream, maka dibuatlah wisata-wisata kekinian yang oke punya. Sebut saja tempat ngopi di pinggir jurang dengan pemandangan sunset. Atau wisata apung dengan suguhan kopi kekinian. Maksud saya, kalo sekadar wisata ikut-ikutan begitu, keknya lebih proper yang dibikin orang-orang kota deh.

Dan alasan ini adalah pamungkas dari semua alasan untuk orang kota tidak usah wisata ke Wakatobi. Buang-buang waktu dan uang saja!

Penulis: Taufik
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Hal Aneh tentang Wakatobi yang Harus Kamu Ketahui

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2022 oleh

Tags: pantaiWakatobiwisata
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

Liburan ke Luar Negeri Bukan Soal Gengsi, tapi Pilihan Masuk Akal karena Tiket Pesawat Domestik Sudah Kelewat Mahal Mojok.co

Liburan ke Luar Negeri Bukan Soal Gengsi, tapi Pilihan Masuk Akal karena Tiket Pesawat Domestik Sudah Kelewat Mahal

8 Maret 2026
4 Wisata Semarang yang Tidak Semua Orang Bisa Menikmatinya Mojok.co

4 Wisata Semarang yang Tidak Semua Orang Bisa Menikmatinya

16 April 2025
Tetaplah Hidup agar Bisa ke Banda Neira, Cuilan Surga yang Jatuh ke Indonesia

Tetaplah Hidup agar Bisa ke Banda Neira, Cuilan Surga yang Jatuh ke Indonesia

26 April 2023
10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata Mojok.co

10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata

26 Maret 2026
5 Tempat Wisata Tersembunyi di Kabupaten Ponorogo terminal mojok.co

5 Tempat Wisata Tersembunyi di Kabupaten Ponorogo

16 Desember 2021
4 Tempat Wisata Blora yang Sebenarnya Menarik asal Pelancong Tahu Waktu yang Tepat Mojok.co

4 Tempat Wisata Blora yang Sebenarnya Menarik asal Pelancong Tahu Waktu yang Tepat

18 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.