Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Suasana Ramadan di Kampung Saya yang Zona Merah. #TakjilanTerminal25

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
25 April 2021
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Saat kampung saya jadi kawasan zona merah tahun lalu, suasana Ramadan sungguh berbeda dan anyep.

Pemandangan Ramadan tahun ini, sungguh menggembirakan mata dan hati saya. UMKM beranda, atau penjual makanan di depan rumah tampak di sepanjang jalan. Remaja nongkrong di pertigaan sekalian ngeceng dan pacaran. Lampu warna-warni berkelip di setiap rumah. Salat Tarawih berjamaah kembali dilangsungkan. Suara orang yang sedang tadarus menggema di setiap malam. Orang lalu lalang setiap sore hari. Banyak anak kecil bermain kembang api dan berlarian bebas di halaman masjid. Namun, tahun lalu sungguh berbeda.

ADVERTISEMENT

Hingar bingar bulan Ramadan tak terasa di tahun lalu. Pandemi kala itu masih baru dan masih sering dibercandain sama jajaran pemerintah dan neitizen. Sampai akhirnya kecamatan saya masuk zona merah Covid-19. Ada dua kelurahan berwarna merah di peta, kelurahan saya salah satunya.

Dari mulai tetangga dusun, tetangga RT, ada saja yang positif Covid-19. Bergantian, tak putus-putus dari satu desa ke desa yang lain. Kemudian, bulan Ramadan datang. Ingin rasanya saya geser Ramadan ke bulan Agustus. Seperti janji pemerintah soal Covid-19 usai di bulan Agustus. Meski kita akhirnya harus kecewa lagi.

Alhasil, kebanyakan dari kami harus diam di rumah, terutama orang-orang yang pernah bertemu dan berkumpul dengan warga yang positif Covid-19. Kami harus menunggu swab dan rapid test selesai dilakukan.

Namun, test swab ke warga tak segera dilakukan. Wong, yang sudah positif ketika rapid saja harus menunggu sekitar dua minggu untuk swab. Kan, kasihan di dalam rumah terus. Saya sendiri ikut rapid dua kali, untung negatif. Yang positif rapid, lanjut ke tes swab. Selama menunggu tes, jalan masuk kampung diberi portal, tapi ada yang jaga. Tetap boleh beraktifitas, hanya saja belum boleh menerima orang luar. Sabun dan kran air ada di tiap rumah. Pokoknya mengikuti protokol kesehatan.

Hal yang menyebalkan, kampung saya jadi seperti kota mati. Selama sebulan lebih, bahkan sampai Lebaran datang, kampung saya nyenyet. Tak ada petasan, tak ada orang jualan di depan rumah, tak ada kawan yang mudik. Nggak bisa kerja, nggak leluasa bergerak. Toko-toko tetap buka, tapi nggak ada yang beli.

Kerjaan kami para pemuda cuma nungguin portal di jalan masuk gang. Sambil genjrang-genjreng dan rebahan di pos ronda, kami saling sambat. Rasa khawatir dan bokek akut menyerang. Lebaran sudah dekat, pikiran kalut, banyak dari kami sedang putus cinta juga dan dirumahkan oleh tempat kerja. Remuk, Jum!

Baca Juga:

Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus: Pertama, Please, Jangan Panik

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

Di tengah kebuntuan itu, Bansos rupanya masih menjadi masalah yang menyebabkan perpecahan. Semua orang berebut untuk mendapat Bansos. Tetangga saling sindir menyindir, sampai ada yang tak saling bertegur sapa lagi. Bikin pusing semuanya. Semua sedang bingung, semua sedang butuh bantuan, tapi tak semua berempati. Protes ke kelurahan, sampai ada yang mau pergi ke kecamatan, protes ke Pak Camat.

Perpecahan Bansos kala itu, serupa perpecahan saat pilihan lurah. Tak ada saudara, tak ada teman, beda pilihan berarti musuh. Kacau. Puasa makin terasa sulit, penginnya misuh terus melihat kelakuan orang-orang.

Namun, tak semua ikutan nimbrung keributan. Masih ada orang yang sadar fungsinya sebagai masyarakat. Banyak yang mendaftar jadi relawan, yang rela kerja tanpa bayaran. Ada warga yang sering dan rutin memberi makanan ke keluarga yang harus terus di dalam rumahnya karena sedang isolasi mandiri. Ada yang ngasih sayur, jajanan untuk anak-anak yang isolasi mandiri, sampai memberi ketupat, opor ayam, dan kue saat Lebaran.

Namun, meski begitu, saking ruwetnya kepala, masih banyak warga yang lupa bahwa ada warganya yang sedang isolasi mandiri. Saking mangkelnya, mereka lupa bahwa tak cuma mereka yang buntu dan terdampak. Semua saling beradu nasib, sampai lupa fungsi kita sebagai tetangga, saudara, kawan.

Kampung saya masuk zona merah sejak Ramadan hingga beberapa minggu selepas Lebaran. Lebaran terlewati dengan duduk menjaga portal di jalan masuk kampung mati itu. Tak ada orang saling bersalaman dan sungkeman. Hanya portal yang naik turun setiap beberapa jam sekali. Kala itu, saya dipaksa menikmati puasa yang benar-benar puasa. Berat sekali. Lebaran tanpa gegap gempita Ramadan, terasa anyep dan tak penuh, ada semacam perasaan kurang puas.

Tahun ini, bulan Ramadan sudah jauh berbeda. Saya bisa bilang banyak orang yang jadi abai soal protokol kesehatan. Melihat gegap gempita dan pesta perayaan Ramadan tahun ini, saya memang senang. Namun, mengingat perjuangan melewati tahun kemarin, sayang rasanya kalau saya ikut abai. Tentu saya tak ingin kejadian desa mati tahun lalu terulang kembali.

*Takjilan Terminal adalah segmen khusus yang mengulas serba-serbi Ramadan dan dibagikan dalam edisi khusus bulan Ramadan 2021.

BACA JUGA Merasakan Ramadan yang Sama dari Tahun ke Tahun karena Lagu-lagu Ini dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 April 2021 oleh

Tags: covid-19LebaranRamadanTakjilan TerminalZona Merah
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

Sirop Belum Benar-benar Mampus meski Terus Dihajar Minuman Kemasan Seribuan

Sirop Belum Benar-benar Mampus meski Terus Dihajar Minuman Kemasan Seribuan

24 Maret 2024
9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli Mojok.co

9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli

22 Februari 2026
puasa beduk belajar puasa setengah hari mojok

Puasa Beduk, Cara Efektif Mengajari Puasa untuk Pemula. #TakjilanTerminal11

18 April 2021
bear brand susu naga mitos susu mojok

Bear Brand Nggak Seistimewa Itu, Ngapain Ditimbun?

4 Juli 2021
menggelar hajatan di tengah pandemi mojok

3 Alasan Orang Nekat Menggelar Hajatan di Tengah Pandemi

2 Agustus 2021
Es Barteh Pekalongan, Takjil Pelepas Dahaga yang Segernya Bikin Pedagang dan Petani Bahagia. #TakjilanTerminal12

Es Barteh Pekalongan, Takjil Pelepas Dahaga yang Segernya Bikin Pedagang dan Petani Bahagia. #TakjilanTerminal12

18 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

24 Juni 2026
Alasan Saya Gemar Berjalan Kaki di Bandar Lampung kendati Rasanya seperti Uji Nyali

Alasan Saya Gemar Berjalan Kaki di Bandar Lampung kendati Rasanya seperti Uji Nyali

24 Juni 2026
Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi itu hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

24 Juni 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Udara Bersih, Hak Asasi yang Cuma Bisa Dirasakan Warga Depok Sebulan Sekali

28 Juni 2026
Alasan Desa Karanganom Layak Jadi Tempat Tinggal Paling Ideal di Klaten Mojok.co

Alasan Desa Karanganom Layak Jadi Tempat Tinggal Paling Ideal di Klaten

30 Juni 2026
3 Cara Kecamatan Cibiru Membunuh Romantisme Bandung (Unsplash)

Sebagai Pengendara Motor di Bandung, Saya Capek Ikut Menyumbang Macet Setiap Hari

27 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.