Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Stereotip Ngehek bagi Bapak-bapak yang Masih Suka Nonton Anime

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
20 September 2020
A A
Stereotip Ngehek bagi Bapak-bapak yang Masih Suka Nonton Anime terminal mojok.co

Stereotip Ngehek bagi Bapak-bapak yang Masih Suka Nonton Anime terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak kecil hingga memasuki usia dewasa awal seperti sekarang, saya masih rutin nonton anime dan banyak film kartun. Bahkan masih rutin mengikuti jalan ceritanya.

Entah kenapa, bagi saya selalu ada hal yang menyenangkan ketika nonton anime. Apa pun genrenya. Olahraga, mecha, petualangan, dan lain sebagainya. Saking sukanya, saya memberi nama anak sesuai dengan salah satu karakter di anime tersebut. Namun, ketahuilah. Di usia mendekati 30 tahun dan sudah memiliki seorang anak, punya hobi kayak gitu nggak mudah. Selalu dilekatkan dengan stereotip tertentu. Rasanya bikin mangkel.

“Udah bapak-bapak, masih aja nonton kartun. Nggak cocok sama umur!”

“Kayak anak-anak aja tontonannya begituan.”

“Keseringan nonton kartun gitu nanti malah kekanak-kanakan, loh. Kapan dewasanya kalau kayak gitu.”

Saya sudah cukup begah mendapat pernyataan seperti itu dari orang terdekat, lingkungan kerja, sampai orang yang baru kenal. Bahkan, saya nggak peduli jika memang disebut sebagai wibu. Nggak akan terpengaruh untuk mengaduh atau melakukan pembelaan. Ya, saya memang begini adanya. Masih suka baca komik, nonton kartun, dan mengikuti serial anime.

Sebagian anime memang memiliki batas usia minimal bagi para penontonnya. Tapi, tidak ada kriteria batas usia maksimal, kan? Artinya, sah-sah saja dong jika seseorang yang memasuki usia dewasa awal, dewasa madya, maupun masa tua, masih menonton anime?

Sama halnya seperti kedewasaan tidak bisa diukur dari berapa usia seseorang, anime juga tidak bisa menentukan apakah seseorang masih saja kekanak-kanakan atau sulit menjadi sosok yang dewasa. Itu adalah dua hal yang berbeda.

Baca Juga:

Seandainya Taeko dalam Film Only Yesterday Ghibli Hidup di Indonesia, Dia Pasti Jadi Omongan Tetangga

Anime Genre Isekai Isinya Gitu-gitu Aja, kalau Nggak Ketabrak Truk, ya Isinya Harem

Selain itu, entah kenapa seseorang yang masih gemar dengan serial anime, sering kali dianggap cupu, aneh, dan tidak pandai bergaul. Bukannya mau melakukan suatu pembelaan, tapi anggapan ini bagi saya keliru. Sebab, pencinta anime, termasuk wibu mana pun, justru punya komunitas yang terbilang cukup besar dan berkumpul pada periode tertentu. Begitu pula dengan teman-teman saya yang juga pencinta anime.

Belum lagi kalau ikut cosplay. Pasti selalu ramai yang datang. Baik dari peserta, orang yang sekadar menonton, atau teman yang mendukung.

Sering kali, saya dianggap menyia-nyiakan waktu cuma karena mantengin adegan gelut Naruto. Sebab, menurut sebagian orang, anime itu nggak ada gunanya dan kegiatan yang berkaitan dengannya hanya sia-sia. Hm, menurut saya, ini juga keliru. Begini. 

Pada saat nonton anime, seseorang, termasuk saya, bisa menemukan insight, hiburan, dan quotes yang mind-blowing terus bikin kita mikir, “Bener juga, ya.” Jadi, selama bisa memberi hiburan, seharusnya bukan hal yang sia-sia, kan?

Sudah semestinya pemikiran bahwa siapa pun yang masih suka hal-hal demikian di usia dewasa dianggap kekanak-kanakan atau “tidak tahu umur” dihilangkan. Meskipun ada yang demikian, tidak bisa digeneralisir. Sebab, nonton anime di usia dewasa bukanlah suatu dosa. Selama tidak melanggar apa pun, sah-sah saja, kan?

Pada titik yang paling menyebalkan, ketika saya sedang nonton anime, seorang teman pernah berkata bahwa saya cupu. Hanya karena suka kartun Jepang. Pada akhirnya saya tahu bahwa ia pun tertarik untuk mengikuti alur cerita anime yang sama.

Bahkan sebelumnya, karena keranjingan nonton anime, secara blak-blakan saya dibilang nggak pandai bersosialisasi. Padahal, saya selalu merasa tidak ada yang salah dengan cara saya dalam bersosialisasi. Saya masih punya beberapa teman untuk berdiskusi, nongkrong, dan bercanda. Saya sudah membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar. Stereotip tentang wibu atau orang dewasa yang suka nonton anime, sering kali hanya berupa asumsi tanpa melihat realitanya seperti apa.

Begini, Pak, Bu, rekan-rekan semuanya yang saya sayangi. Nonton anime itu hak siapa pun, termasuk orang dewasa. Selama masih dalam batasan wajar dan kontrol yang tepat, tidak perlu lah diberi stereotip yang mengada-ada. Apalagi saya, mungkin juga teman-teman yang lain, masih bersosialisasi seperti biasanya dan tidak menutup diri dari dunia luar, perkembangan sosial terkini, juga segala informasi dan pengetahuan terbaru.

Jadi, biarkanlah kami menikmati sekaligus mendapatkan suatu insight dari anime yang ditonton. Meski usia kami tidak tergolong muda lagi.

BACA JUGA Fantasy Premier League: Permainan, Strategi, dan Kejelian dalam Memilih Pemain dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 September 2020 oleh

Tags: animewibu
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Kaguya-sama Love is War

Kaguya-Sama Love Is War, Anime Romcom Seru yang Nggak Jualan Hal Klise

13 Oktober 2021
Tak Hanya Tsubasa Ozora, Kawan-kawannya juga Berhak Bermain di Eropa terminal mojok.co

Tak Hanya Tsubasa Ozora, Kawan-kawannya juga Berhak Bermain di Eropa

21 Oktober 2020
Jadi Fans Fanatik K-Pop Adalah Cara Saya Menjauhi Kenakalan Remaja terminal mojok.co

Jadi Fans Fanatik K-Pop Adalah Cara Saya Menjauhi Kenakalan Remaja

19 Mei 2021
127 Kosakata Bahasa Jepang yang Sering Muncul di Anime Terminal Mojok

127 Kosakata Bahasa Jepang yang Sering Muncul di Anime

18 November 2022
Ibu Shinchan, Nobita, Kenichi, dan Maruko-chan Adalah Gambaran Umum Ibu-ibu di Jepang dan Alasan Kenapa Ibu-ibu di Sana Memilih Jadi Ibu Rumah Tangga terminal mojok

Ibu Shinchan, Nobita, Kenichi, dan Maruko-chan Adalah Gambaran Umum Ibu Rumah Tangga di Jepang

13 Juli 2021
kurama Jangan-jangan Pemerintah Kita Kena Genjutsu Mata Bulan alias Eye of The Moon Madara naruto tsuki no me mojok.co

Naruto dan Tokusatsu Difatwa Haram? Murid SMP Saya Jadi Galau Dibuatnya

26 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

25 April 2026
5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri Mojok.co PTN

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

23 April 2026
Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang Mojok.co

Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang

28 April 2026
Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan (Unsplash)

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan dari Cerita Rakyat Minahasa dan Membebaskan Kita dari Kebosanan Horor Jawa

23 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”
  • Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan
  • KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa
  • Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.