Ketika hujan lebat, stasiun ini seperti tidak memberi jeda bagi penumpang yang baru turun. Pilihan paling masuk akal adalah memesan taksi online sebelum kereta berhenti, sehingga begitu menapak peron, perjalanan bisa langsung berlanjut. Jika tidak, penumpang sering terpaksa mencari perlindungan seadanya. Warung-warung kelontong di sisi barat kerap sudah penuh oleh orang yang menunggu kedatangan kereta, sehingga tempat berteduh pun jadi rebutan.
Baca juga Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan.
Pertama kali naik dari Stasiun Indro Gresik dan menyesal
Bagi penumpang yang baru pertama kali naik kereta dari stasiun ini, saya yakin akan ada rasa menyesal mengapa datang beberapa jam lebih awal. Begitu turun dari motor atau angkutan umum yang terlihat adalah ruang tunggu stasiun sempit dan tidak memadai. Bahkan, sesederhana pemisahan antara pintu keluar dan masuk stasiun ini tidak punya. Sehingga proses pemeriksaan tiket sebelum naik jadi terasa begitu semrawut.
Kalau kalian memaksa masuk ke ruang tunggunya yang muncul hanya hawa pengap dan panas. Biasanya ruangan itu sudah terisi penuh orang yang berdiri di sudut, menahan pangkuan tas, atau memiringkan badan agar penumpang lain bisa punya ruang. Stasiun yang harusnya jadi ruang jeda yang manusiawi, khususnya untuk lansia, ibu dan anak, atau pekerja yang penat namun yang terjadi malah sebaliknya, menambah rasa lelah.
Dari semua gambaran tentang Stasiun Indro, ada rasa miris yang sulit diabaikan. Di daerah yang punya kawasan industri dan gerbang ekonomi Jawa Timur, justru ada satu simpul transportasi publik yang letaknya strategis, tetapi ironisnya terasa seperti dibiarkan berdiri sendiri, hidup seadanya dari sisa-sisa perhatian.
Dari titik kecil inilah, Stasiun Indro seakan memantulkan wajah Gresik yang lain. Bukan yang gemerlap oleh narasi UMR yang tinggi, melainkan wajah menyedihkan karena punya stasiun yang terasa setengah jadi.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Hal Tentang Gresik yang Sering Disalahpahami Orang Awam.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















