Informasi
ADVERTISEMENT

Soto Jogja, Culture Shock yang Hingga Kini Sulit Saya Terima

Soto Jogja, Culture Shock yang Hingga Kini Sulit Saya Terima

Sulit berdamai

Berhari-hari tinggal di Jogja—sembari menggantungkan mimpi dan menambah macet kota ini—saya berupaya berdamai soal selera. Tak bisa dibantah, lidah saya sudah kelewat akrab dengan soto gagrak Solo.

Mau tidak mau, saya berusaha men-Jogja-kan diri untuk terbiasa menyantap soto Jogja berkuah kuning, tentunya dengan tambahan kol yang masih terbilang wagu itu. Berdamai, selayaknya saya terbiasa mengatakan ‘es teh tidak terlalu manis’ di Jogja, alih-alih ‘es teh mondo’ sebagai sebutan ‘es teh less sugar’ di Solo.

Namun berhari-hari tinggal di Kota Istimewa, tiap jelang sarapan, pikiran saya melayang ke daratan di timurnya yang berjarak 60-an kilometer. Pada akhirnya, satu hal yang saya lakukan tiap kali harus balik ke Jogja, ialah setidaknya singgah sebentar ke warung soto bening di kawasan Solo Raya. Tentunya dengan remukan karak, es teh mondo, dan isapan Menara setelahnya.

Penulis: Dicky Setyawan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Soto Bapak-Bapak di Jogja yang Sangat Affordable untuk Dompet Mahasiswa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 April 2025 oleh .

Dicky Setyawan

Pemuda asal Boyolali. Suka menulis dan suka teh kampul.

Exit mobile version