Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Smart Shaming, Perundungan terhadap Orang Pintar yang Blas Ra Mashok!

Misvi Amalia Wahyuningsih oleh Misvi Amalia Wahyuningsih
11 Oktober 2021
A A
smart shaming

smart shaming

Share on FacebookShare on Twitter

Rakyat Indonesia memang dikenal sangat santuy. Kita menari secara harfiah di atas banjir, berkerumun di TKP kebakaran. Pelajar pun tak luput dari predikat tersebut. Pelajar penganut sistem SKS banyak, ambis hanyalah minoritas. Bahkan sampai ada penelitian yang menyebutkan bahwa pelajar Indonesia adalah pelajar yang paling santuy sedunia. Nah, apakah kita harus berbangga dengan hasil penelitian itu?

Budaya santuy di sekolah ternyata dapat menimbulkan masalah. Salah satunya adalah smart shaming. Menurut Wikipedia, smart shaming atau anti-intelektualisme adalah permusuhan dan ketidakpercayaan terhadap intelek, intelektual, dan intelektualisme. Umumnya dinyatakan sebagai penghinaan terhadap pendidikan dan filsafat dan penolakan seni, sastra, dan sains sebagai pengejaran manusia yang tidak praktis, bermotivasi politik, dan bahkan hina.

Intinya, sih, semacam perundungan kepada orang yang dianggap pintar. Aneh. Banget.

Kita mungkin pernah menjadi korban, atau justru jadi pelaku smart shaming. Coba ingat ingat pernah nggak kita bilang, “Ah orang pinter belum tentu sukses kok”, atau, “Caper banget jadi orang, kalau ada yang presentasi nanya terus”. Pernah nggak kalian melakukan itu? Kalau iya, berarti kamu adalah pelaku smart shaming, begitu juga sebaliknya.

Smart shaming ini sangat aneh. Kok bisa orang-orang merundung orang yg dianggap pintar? Apalagi si pelaku sering kali tidak merasa bersalah. Malahan dia menganggap apa yang dilakukannya itu keren. Saya sendiri adalah korban smart shaming Padahal saya nggak masuk kategori “that smart” juga. Kata mereka saya menyusahkan karena selalu bertanya pertanyaan yang sulit ketika presentasi.

Temanku itu bilang begini, “Kamu itu harus mikirin yang lagi presentasi, kasian mereka kelabakan nyari jawaban kamu. Kita harus memanusiakan manusia. Kamu kuliah mau nyari temen dan ilmu kan? Orang pinter bakal kalah sama orang beruntung. Aku bilang gini biar kita semua sama-sama enak.”

Ini true story, dia betulan bilang begitu. Jujur, saat itu saya sangat kaget, kok bisa ada manusia yang berpikiran gitu dan pede punya logika sejelek itu???

Saya tahu betul, memang menyebalkan jika ada teman yang bertanya pertanyaan sulit ketika kita presentasi. Saya juga merasakannya. Tapi, apa lantas itu bisa menjadi pembenaran untuk melakukan smart shaming? Tentu tidak. Kita bisa memendam kekesalan itu sendiri atau bersama teman sekelompok. Tapi, temanku itu malah terang-terangan menunjukkannya di WAG kelas. Bahkan sampai berkata kasar padahal saat itu bukan kelompoknya yang presentasi alias aku tidak bertanya padanya.

Baca Juga:

Dosa Jurusan Pendidikan yang Membuat Hidup Mahasiswanya Menderita

Sekolah Swasta Gratis, Ide Gila yang Bisa Bikin Pendidikan Makin Miris

Saya sebenarnya kesal tapi menanggapi orang seperti itu adalah hal yang sia-sia. Sebagai korban, saya merasa bersalah. Pada akhirnya meminta maaf pada kelompok yang sedang presentasi. Padahal saya tahu persis aku sama sekali tidak bersalah, tapi itulah jahatnya smart shaming.

Para pelaku biasanya merasa terintimidasi oleh korban. Biasanya sih mereka berasal dari kelompok mayoritas, orang-orang yang biasa-biasa saja. Mereka ini ingin santuy, tapi tak ingin melihat ada orang lain yang lebih baik dari mereka. Aneh dan menyebalkan bukan? Kenapa tidak urus kehidupan masing masing saja? Biarkan anak rajin tetap rajin, biarkan anak pintar tetap pintar, dan mereka pun bebas untuk tetap santuy. Jika smart shaming ini tetap marak dilakukan, itu akan membahayakan kualitas pemuda bangsa. Iya, makin banyak korban smart shaming, makin sedikit pemuda yg berani beda, pemuda yang cerdas.

Jadi, ayo sama-sama kita mulai hapus perilaku buruk ini. Berhentilah menjustifikasi tindakan merendahkan orang-orang pintar, cerdas, atau berbakat. Biarkan mereka hidup dengan cara yang mereka inginkan, tak usah ikut campur. Jika ingin hidup santuy, silakan saja, tapi jangan ajak orang lain untuk hidup dengan cara itu. Bagi korban, tetaplah menjadi diri sendiri, berbeda itu tidak masalah toh mereka tidak lebih baik daripada kalian.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2021 oleh

Tags: PendidikanPerundungansmart shaming
Misvi Amalia Wahyuningsih

Misvi Amalia Wahyuningsih

Seoarang maba.

ArtikelTerkait

Memetakan Perjalanan Orang Tua Mencari Pendidikan Berkualitas untuk Anak terminal mojok.co

Memetakan Perjalanan Orang Tua Mencari Pendidikan Berkualitas untuk Anak

25 Februari 2021
Kualitas Pendidikan yang Merata Lebih Penting ketimbang Seragam Sekolah Baju Adat

Kualitas Pendidikan yang Merata Lebih Penting ketimbang Seragam Sekolah Baju Adat

13 Oktober 2022
gap year adalah arti definisi maksud cara tips pengalaman bagaimana mojok

10 Tips Mengambil Gap Year — Tren Lumrah di Luar Negeri yang Dicibir Orang Indonesia

19 April 2020
Kalau Disuruh Memilih Sosok Guru Ideal, Saya Akan Jawab Koro-Sensei terminl mojok.co

Kalau Disuruh Memilih Sosok Guru Ideal, Saya Akan Jawab Koro-Sensei

16 Januari 2021
Alasan Guru Malas Melakukan Pendampingan terhadap Murid Bermasalah, Takut Diviralkan Mojok.co

Alasan Guru Malas Melakukan Pendampingan terhadap Murid Bermasalah, Takut Diviralkan

21 Februari 2024
Informasi Bayar UKT yang Mepet Adalah Bukti Betapa Jeniusnya Birokrat Kampus perguruan tinggi negeri

Biaya Perguruan Tinggi Negeri yang Mahal: Katanya Pendidikan Adalah Hak untuk Setiap Warga, tapi Kenapa Biayanya Nggak Masuk Akal?

5 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026
5 Hal yang Tidak Orang Katakan Soal Beasiswa LPDP Mojok.co

5 Hal yang Orang-orang Jarang Katakan Soal Beasiswa LPDP

10 Januari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

14 Januari 2026
6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026
Cerita Kawan Saya Seorang OB selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

Cerita Kawan Saya Seorang OB Selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

10 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota
  • Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim
  • Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan
  • Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa
  • Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua
  • Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.