Situbondo, Bondowoso, dan Jember, Tetangga Banyuwangi yang Berisik Nggak Pantas Diberi Respek

Situbondo, Bondowoso, dan Jember, Tetangga Banyuwangi yang Berisik Nggak Pantas Diberi Respek

Situbondo, Bondowoso, dan Jember, Tetangga Banyuwangi yang Berisik Nggak Pantas Diberi Respek (unsplash.com)

Banyuwangi seolah “diserang” tiga tetangganya: Situbondo, Bondowoso, dan Jember. Ketiganya bekerja sama tanpa melibatkan The Sunrise of Java ini.

Tidak semua kebijakan di Banyuwangi selalu buruk, sebagai penulis saya mencoba berimbang. Termasuk dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan yang membuat nama daerah ini semakin dikenal. Mulai dari destinasi wisata yang ditata, beragam konsep tradisi adat yang dibalut dalam agenda festival, hingga upaya nyata Pemda memfasilitasi langkah pemerintah untuk menjadikan Geopark Ijen yang diakui oleh UNESCO.

Hasilnya kini ia dikenal sebagai Kota Sunrise, tak lagi jadi Kota Santet. Beragam destinasi wisata dimiliki oleh Banyuwangi. Mulai dari pantai di pesisir Muncar hingga Pesanggaran hingga pegunungan Ijen. Atau kalau mau yang lebih ekstrem, pendakian Gunung Raung via Kalibaru yang bisa dijajal saat berkunjung ke Banyuwangi di akhir tahun.

Beragamnya pencapaian yang dihasilkan Banyuwangi membuat tetangga dekatnya berulah. Ya, Situbondo, Bondowoso, dan Jember seakan membangun kekuatan baru. Ketiganya, yang memiliki wilayah masing-masing beririsan dengan Banyuwangi, berupaya bekerja sama tanpa melibatkan Banyuwangi. Akan tetapi alih-alih visi mentereng yang ditawarkan, ketiga daerah itu justru sering blunder.

Blunder Bupati Situbondo soal Alas Baluran

Berisiknya ketiga tetangga Banyuwangi ini dimulai sejak ketiganya memiliki bupati baru setelah Pilkada 2024 lalu. Maklum, ketiganya merupakan non-petahana yang baru menjabat. Entah apa yang merasuki ketiganya hingga kompak melihat Banyuwangi sebagai musuh bersama. Alih-alih merangkul untuk belajar inovasi dari Banyuwangi hingga bisa jadi seperti saat ini, ketiganya malah bareng-bareng menyerang dari berbagai sisi.

Puncaknya saat dalam suatu kunjungan, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengusulkan untuk membuat Kecamatan Baluran dengan alasan yang tidak masuk akal. Kata Yusuf Rio, dengan adanya nama Kecamatan Baluran, Situbondo diharapkan Baluran tidak terlalu sering digunakan tetangga sebelah. Hal itu mengacu pada TN Baluran yang juga menjadi salah satu destinasi wisata favorit wisatawan dari Banyuwangi. Pada era saat ini semua serba kolaborasi, bukan memusuhi.

Fyi, jarak pusat Kota Banyuwangi ke TN Baluran jauh lebih dekat daripada pusat kota Situbondo. Sehingga banyak wisatawan Banyuwangi yang senang juga berkunjung ke sana. Sebab Pemda Situbondo tidak bisa menjual destinasi seperti Banyuwangi.

Baca halaman selanjutnya: Selingkar Ijen…

Bupati Bondowoso gagas Selingkar Ijen tanpa Banyuwangi

Tidak hanya Baluran, TWA Ijen juga menjadi arena perebutan, bahkan di Bondowoso kini sudah ada Kecamatan Ijen sebagai pengganti Sempol. Bahkan ketika membahas Selingkar Ijen untuk mendukung wisata di wilayah Tapal Kuda, Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, hanya menggandeng Jember dan Situbondo tanpa mengajak Banyuwangi.

Padahal Banyuwangi juga turut terlibat untuk menjadikan Geopark Ijen hingga diakui oleh UNESCO. Tapi begitulah, mereka yang tidak memiliki visi kolaborasi selalu merasa unggul dari berbagai sisi. Padahal faktanya kabur.

Bondowoso selalu membanggakan destinasi wisata ijen, tetapi lupa membangun infrastruktur menuju ke destinasi tujuan. Jika kalian pernah melintas jalur Sempol menuju ke Kawah Ijen, pasti akan merasakan bagaimana jalur ini memacu adrenalin. Belum lagi jika kalian melintas di malam hari, pasti sekali coba tidak akan kembali. Tidak heran banyak wisatawan yang memilih jalur ke Kawah Ijen via Kota Banyuwangi. Sebab mulai Glagah, hingga Licin jalur yang sudah dilebarkan membuat wisatawan lebih dimudahkan.

Senggol tetangga untuk bahan promosi wisata

Terakhir Bupati Jember, Muhammad Fawait, menjadi tetangga paling berisik dari dua tetangga sebelumnya. Bahkan dalam beberapa wawancara, Fawait mengaku menggunakan taktik menyenggol tetangga (dalam hal ini Banyuwangi) guna menaikan promosi wisata. Mulai dari penerbangan baru di Bandara Notohadinegoro Kabupaten Jember yang tarifnya disebut lebih murah dari penerbangan di Banyuwangi. Padahal dari jenis pesawatnya sudah beda sekali. Apa tidak blunder itu.

Belum lagi klaim sepihak dari Fawait yang menyebut wisata pantai di ujung timur Pulau Jawa ya di Jember. Padahal anekdot ujung timur Pulau Jawa sudah lama dipakai oleh Banyuwangi. Alih-alih mengangkat wisata Jember, cara Fawait justru semakin terlihat medioker. Sebab Jember hingga kini masih punya beragam masalah mengenai pariwisata utamanya berkaitan tarif yang dikeluhkan mahal oleh pengunjungnya.

Jadi, daripada berisik menjadi tetangga lebih baik perbaiki wisata yang ada biar bisa bersaing head to head dengan Banyuwangi. Semoga bisa sadar untuk melakukan perbaikan. Semoga.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Nasib Sarjana Musik di Situbondo: Jadi Tukang Sayur, Bukan Beethoven.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version