Bupati Bondowoso gagas Selingkar Ijen tanpa Banyuwangi
Tidak hanya Baluran, TWA Ijen juga menjadi arena perebutan, bahkan di Bondowoso kini sudah ada Kecamatan Ijen sebagai pengganti Sempol. Bahkan ketika membahas Selingkar Ijen untuk mendukung wisata di wilayah Tapal Kuda, Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, hanya menggandeng Jember dan Situbondo tanpa mengajak Banyuwangi.
Padahal Banyuwangi juga turut terlibat untuk menjadikan Geopark Ijen hingga diakui oleh UNESCO. Tapi begitulah, mereka yang tidak memiliki visi kolaborasi selalu merasa unggul dari berbagai sisi. Padahal faktanya kabur.
Bondowoso selalu membanggakan destinasi wisata ijen, tetapi lupa membangun infrastruktur menuju ke destinasi tujuan. Jika kalian pernah melintas jalur Sempol menuju ke Kawah Ijen, pasti akan merasakan bagaimana jalur ini memacu adrenalin. Belum lagi jika kalian melintas di malam hari, pasti sekali coba tidak akan kembali. Tidak heran banyak wisatawan yang memilih jalur ke Kawah Ijen via Kota Banyuwangi. Sebab mulai Glagah, hingga Licin jalur yang sudah dilebarkan membuat wisatawan lebih dimudahkan.
Senggol tetangga untuk bahan promosi wisata
Terakhir Bupati Jember, Muhammad Fawait, menjadi tetangga paling berisik dari dua tetangga sebelumnya. Bahkan dalam beberapa wawancara, Fawait mengaku menggunakan taktik menyenggol tetangga (dalam hal ini Banyuwangi) guna menaikan promosi wisata. Mulai dari penerbangan baru di Bandara Notohadinegoro Kabupaten Jember yang tarifnya disebut lebih murah dari penerbangan di Banyuwangi. Padahal dari jenis pesawatnya sudah beda sekali. Apa tidak blunder itu.
Belum lagi klaim sepihak dari Fawait yang menyebut wisata pantai di ujung timur Pulau Jawa ya di Jember. Padahal anekdot ujung timur Pulau Jawa sudah lama dipakai oleh Banyuwangi. Alih-alih mengangkat wisata Jember, cara Fawait justru semakin terlihat medioker. Sebab Jember hingga kini masih punya beragam masalah mengenai pariwisata utamanya berkaitan tarif yang dikeluhkan mahal oleh pengunjungnya.
Jadi, daripada berisik menjadi tetangga lebih baik perbaiki wisata yang ada biar bisa bersaing head to head dengan Banyuwangi. Semoga bisa sadar untuk melakukan perbaikan. Semoga.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Nasib Sarjana Musik di Situbondo: Jadi Tukang Sayur, Bukan Beethoven.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















