Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Situbondo Tidak Punya Daya Tarik Wisata, dan Akan Selalu Kalah Dibanding Banyuwangi Jika Tidak Ada Gebrakan yang Jelas

Thoha Abil Qasim oleh Thoha Abil Qasim
2 Oktober 2025
A A
UMK Situbondo Kecil Nggak Ngaruh, Selama Ada Padi dan Ikan, Tagihan Tetap Bisa Lunas! banyuwangi

UMK Situbondo Kecil Nggak Ngaruh, Selama Ada Padi dan Ikan, Tagihan Tetap Bisa Lunas! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kabupaten Situbondo sering jadi bahan olok-olok kecil di jalur Pantura. Olok-oloknya begini: Situbondo hanyalah kota singgah. Sekadar mampir isi bensin dan beli minum para sopir truk. Habis itu ya, ke Banyuwangi atau ke Probolinggo. Saya saja melihatnya seperti itu, apalagi ketimbang Banyuwangi.

Tapi memang, dibandingkan Banyuwangi, Situbondo kalah jauh. Banyuwangi memiliki sederet destinasi yang sudah kelas nasional, bahkan internasional. Ijen, Baluran ( ironisnya sebagian masuk Situbondo tapi brandingnya tetap melekat ke Banyuwangi), sampai festival-festival lainnya banyak media nasional yang meliput.

Situbondo? Nyaris nggak ada narasi wisata yang benar-benar kuat. Pertanyaannya, kenapa begitu?

Situbondo, kota tanpa magnet wisata

Coba tanya ke orang luar Jawa Timur, kalau ke Situbondo enaknya ke mana, pasti banyak yang bengong. Kalaupun ada yang jawab, pasti sebut Baluran, padahal identiknya ke Banyuwangi. Atau paling banter pantai Pasir Putih. Itu pun sudah kalah pamor dari pantai di Lombok, Bali, atau Malang selatan.

Padahal Situbondo punya garis pantai panjang. Punya ekosistem mangrove yang katanya bernilai miliaran rupiah per tahun. Dan julukan kota santri. Tapi ya itu, tidak diolah jadi wisata yang layak jual. Akhirnya, yang datang ke Situbondo bukan wisatawan, tapi orang-orang yang kebetulan lewat jalur pantura menuju Bali. Atau para wali santri yang ingin menjenguk anaknya di pesantren.

Dampak ke ekonomi lokal

Coba kalau wisatanya diseriusin, ekonomi Situbondo nggak bakal jadi stagnan. Sektor utama tetap pertanian, perikanan, atau usaha kecil tradisional. Orang-orangnya tidak ada yang berkreativitas baru yang bisa mendongkrak perputaran uang. Padahal wisata itu salah satu mesin pengganda: orang datang, nginap, makan, beli oleh-oleh, naik ojek, pakai jasa lokal. Kalau wisata tidak jalan, rantai ekonomi itu nggak terbentuk.

Kalau dilihat dari angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Situbondo sebagian besar masih ditopang sektor primer. Tidak ada lonjakan signifikan dari sektor pariwisata. Kenapa tidak bercermin ke wilayah tetangganya, di Banyuwangi atau Jember yang PAD-nya naik gara-gara event-event wisata.

Kota sepi di malam hari

Dan efek yang paling terasa ada di wajah kotanya sendiri. Jalanan Situbondo selepas Isya bisa dibilang sepi. Jarang menemukan ruang publik yang hidup. Tidak ada alun-alun yang benar-benar jadi tarik perhatian.

Baca Juga:

Sisi Gelap Jalan Pantura Situbondo: Gelap, Banjir, dan Jalan Berlubang Bikin Jalan Ini Begitu Gawat!

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Kalau mau nongkrong, anak mudanya lebih sering lari ke Bondowoso atau malah sekalian ke Banyuwangi. Bayangkan, generasi mudanya saja tidak merasa kota ini cukup memberi hiburan. Bagaimana mungkin orang luar bisa betah singgah lebih lama?

Julukan Situbondo pun hampir punah

Situbondo sering disebut kota santri. Julukan ini sebenarnya punya potensi wisata religi. Tapi sampai sekarang, tidak pernah ada usaha serius mengangkat pesantren atau sejarah ulama sebagai daya tarik wisata. Tidak ada festival skala besar, tidak ada branding kuat. Semua potensi masih jadi wacana. Kalaupun ada, itu tidak pernah sampai diseriusin benget oleh pemerintah setempatnya.

Akibatnya, identitas Situbondo nyaris kabur. Mau dijual sebagai kota wisata alam? Kalah branding dari Banyuwangi. Kota religi? Kurang promosi. Kota kuliner? Nyaris nggak ada yang dikenal luas.

Kalau masalah harapan sih tetap ada. Situbondo bisa saja bangkit. Potensi sebenarnya  ada, bahan mentah tersedia. Tapi selama belum ada inovasi dan keberanian menggarap wisata secara serius, kota ini akan terus jadi kota lewat. Orang mampir sebentar, lalu tancap gas. Dan selama itu pula, ekonominya akan jalan di tempat.

Penulis: Thoha Abil Qasim
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2025 oleh

Tags: baluranBanyuwangisitubondowisata situbondo
Thoha Abil Qasim

Thoha Abil Qasim

ArtikelTerkait

ngasak beras nasi liwet tradisi ngaliwet sunda mojok

Ngasak, Kegiatan yang Paling Ditunggu-tunggu Ibu-ibu di Banyuwangi

31 Agustus 2021
4 Lokasi Wisata Banyuwangi yang Paling Cocok untuk Pacaran Low Budget Terminal Mojok

4 Lokasi Wisata Banyuwangi yang Paling Cocok untuk Pacaran Low Budget

29 Maret 2022
Tutorial Bertani di Situbondo, Mulai dari Harga Sewa Lahan sampai Pengelolaannya

Tutorial Bertani di Situbondo, Mulai dari Harga Sewa Lahan sampai Pengelolaannya

12 Oktober 2023
Loji Mberayu, Peninggalan Kolonial yang Menyimpan Cerita Seram di Glenmore

Loji Mberayu, Peninggalan Kolonial yang Menyimpan Cerita Seram

2 November 2022
Sudah Saatnya Jember Punya Jalan Tol, agar Kabupaten Ini Nggak Semakin Tertinggal

Sudah Saatnya Jember Punya Jalan Tol, agar Kabupaten Ini Nggak Semakin Tertinggal

19 Juli 2024
Kecamatan Ijen, Jalur Alternatif Banyuwangi-Bondowoso yang Kondisinya Nggak Karu-karuan

Kecamatan Ijen, Jalur Alternatif Banyuwangi-Bondowoso yang Kondisinya Memprihatinkan

17 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelebihan dan Kekurangan Cicilan Emas yang Harus Kamu Ketahui sebelum Berinvestasi

Dilema Investasi Emas Bikin Maju Mundur: Kalau Beli, Takut Harganya Turun, kalau Nggak Beli, Nanti Makin Naik

30 Maret 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

Mewakili Warga Tegal, Saya Ingin Menyampaikan Permintaan Maaf kepada Pemudik

28 Maret 2026
ASN Rajin Adalah Tempat Sampah Buat Atasan (Shutterstock)

Kalau Kalian Masih Ingin Jadi ASN di Era Ini, Sebaiknya Pikir 2 Kali. Tidak, 3, 4, bahkan 100 Kali kalau Perlu

28 Maret 2026
Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor

Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor

27 Maret 2026
Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.