Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Alasan Logis Siswa Jakarta kalau Piknik Malah ke Jogja

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
29 November 2021
A A
Alasan Logis Kenapa Siswa Jakarta kalau Piknik Malah ke Jogja terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang menarik dari siswa-siswi sekolahan kalau piknik selain bikin macet kota tujuan? Yak, mereka bakalan belajar meresapi kota yang sedang mereka sambangi. Serius, para siswa ini kalau piknik selalu mengambil nilai alih-alih hiburan belaka. Nggak percaya? Lihat saja, selalu ada embel-embel “study” sebelum kata “tour”.

Selama ini saya anggap “study” sebelum kata “tour” itu hanya gimik belaka. Lha wong saya pernah menjadi korbannya. Ketika SMP, sekolah saya study tour ke Bali. Setelah pulang, saya disuruh buat laporan tentang Garuda Wisnu Kencana. Padahal destinasi piknik kami semuanya adalah pantai. Alhasil kopas Wikipedia dan nyatanya saya dapat nilai sempurna.

Tentu itu contoh nggak baik. Tapi, mbok ya mikir perasaan saya, “tour”-nya ke Sanur, kok ya disuruh “study”-nya tentang Garuda Wisnu Kencana. Ha kan nggak nggenah.

Namun setelah saya melihat siswa Jakarta yang piknik ke Jogja, pikiran saya perihal gimik “study” sebelum kata “tour” itu musnah sudah. Lha gimana, siswa-siswi Jakarta kalau plesir ke Jogja, mereka lebih banyak mengambil hikmah ketimbang plesirnya.

#1 Keberhasilan kinerja Jokowi perihal pemerataan kota-kota di Indonesia

Anda pikir saya sedang satir? Maaf, kawan, saya bukan Arman Dhani.

Pada poin kali ini, saya jujur apa adanya bahwa siswa-siswi Jakarta yang piknik ke Jogja setelah pulang akan sadar bahwa kinerja Pakdhe Jokowi soal pemerataan kota-kota di Indonesia memang ngosak-ngasik tiada tanding. Nggak hanya pembangunan, bahkan ke hal-hal yang kadang kita anggap minor.

Nah, sama halnya dengan Kota Jogja yang kini nggak ada bedanya sama ibu kota. Lha gimana, Jogja kini sudah rasa Jakarta, jhe. Memangnya plataran sawah di Bantul doang yang bisa dibilang rasa Ubud? Lha wong Kota Jogja sendiri saja sekarang bisa dibilang semi-Jakarta.

Lihat saja jam-jam prime time tiap berangkat maupun pulang kerja, malam minggu, hari-hari libur, macet adalah sarapan utama di Jogja. Adhitia Sofyan bilang ada sesuatu di Jogja, lha iya sesuatunya itu salah satunya adalah kemacetan.

Baca Juga:

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

Mungkin siswa-siswi Jakarta yang piknik ke Jogja bakalan mbatin, “Indonesia itu memang sudah merata, bahkan kemacetan pun nggak jauh beda dari Jakarta.” Kota-kota sentral seperti Jakarta dan Surabaya, kini sudah nggak ada bedanya dengan kota-kota satelit seperti Jogja.

Kasihan Pakdhe Jokowi, sudah kerja, kerja, dan kerja kok ya masih UMR Jogja, eh, maksud saya, kok ya masih disindir-sindir sama para pembenci.

Jakarta terancam tenggelam? Ah, cupu. Contoh Jogja dong yang nggak bakalan tenggelam lantaran Jogja mulai masif menyedot air-air tanah atas bantuan hotel-hotel kian marak di Jogja. Ketika selatan Jogja makin ramai dengan perumahan-perumahan murah, maka di utara Jogja ramai dengan hotel-hotel berbintang.

Kemacetan berjalan lurus dengan pembangunan yang kian riuh? Ah, peduli setan. Ini kota wisata, Bung, di mana apa pun bisa jadi wisata. Siapa tahu kemacetan bisa jadi ladang wisata baru. Yang penting akun-akun romantisasi harus kuat memberikan buff ketika musim liburan tiba. “Ada yang baru di Jogja nih, Guys. Wisata kemacetan check!”

Siswa-siswi Jakarta yang piknik ke Jogja akan sadar bahwa Jogja itu seperti rumahnya sendiri. Indonesia kini memang tanpa gap. Itulah keberhasilan bahwa pemerataan menjadi prioritas utama. Tapi, ada satu yang kurang sih, yakni masalah transportasi Jogja yang beda jauh dari Jakarta. Hmmm, Opung Luhut mau ambil jabatan ini? Lumayan buat tambah-tambah.

Paragraf-paragraf di atas kalau saya coba sederhanakan mungkin gini: Orang Jakarta piknik ke Jogja itu biar tahu kalau ada kota lain yang punya peradaban. Contohnya ya Jogja ini. Tryhard banget jadi Jakarta, malah.

#2 Melahirkan siswa-siswa yang kritis

Jogja itu kota pelajar, maka dari itu study tour ke Jogja bagi siswa-siswi Jakarta itu alasan yang luar biasa logis. Jangan salah, piknik ke Jogja ini semacam menyiapkan bara panas yang kemluthuk yang akan dilempar ke lautan minyak.

Mereka yang piknik ke Jogja akan kaget, betapa tinggi ketimpangan kota ini antara yang miskin dan yang sugih. Mereka yang sugih, bisa itu memegang hak kuasa atas tempat-tempat wisata, sedang yang kere bahkan untuk ke burjonan pun mikir-mikir sisa berapa gaji bulan ini.

Apa ketimpangan itu sepenuhnya hal buruk? Ah, nggak juga. Nyatanya di sini malah kayak dirawat gitu. Narimo ing pandum, Buosss.

Para siswa di Jakarta itu kelak akan memunculkan minat untuk kuliah di kampus-kampus ternama di Jogja. Mereka akan berpikir, kok ya kota yang haha hehe istimewa seperti ini, bisa menyimpan luka yang tertutup oleh akun-akun yang sering membagikan pojok-pojok romantis Kota Jogja?

Di sinilah proses berpikir, kontemplasi, dan dialektika akan dimulai. Secara serempak, mereka akan berpikir, siapa sih yang salah? Jika sifat kritis ini sudah muncul, mereka pada akhirnya akan layu setelah melihat keadaan bahwa Jogja yang nggak bisa diapa-apakan lagi. Menantang absolut, sama saja seperti mendekati maut.

Lha mau gimana, prinsip di kota ini itu nggak bakalan ditemui di kota mana pun, pula nggak bakalan ada di belahan bumi mana pun. Alias nrimo ing pandum itu lebih mbois sekali ketimbang jargon ad astra per aspera milik NASA.

Hanya piknik ke Kota Jogja, anak-anak SMA ini akan benar-benar menjalankan proses “study” dan “tour” secara alami. Nggak dipaksakan dan nggak hanya sekadar gimik belaka. Jogja itu kota terbaik untuk berkembang secara akademis.

Di sini, apa-apa murah, bahkan untuk membayar upah. Pun di sini semuanya ramah, nggak ada itu kalian ditanyain KTP mana. Jawabnya udah jelas, KTP disimpan di dompet. Atau di tas. Atau masih ditahan sebagai bukti utang. Kayaknya lho ya.

Nah, maka dari itu, silakan piknik ke Jogja saja, jangan ke tempat lainnya. Mumpung belum Desember, Tugu Pal Putih belum direvitalisasi lagi, lagi, dan lagi.

Sumber Gambar: Unsplash

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 November 2021 oleh

Tags: JakartaJogjapiknik
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Ketika Jogja Nggak Ramah bagi Orang yang Buta Arah Mata Angin, Google Maps Adalah Penyelamat Mojok.co

Ketika Jogja Nggak Ramah bagi Orang Buta Arah Mata Angin, Google Maps Adalah Penyelamat

11 Mei 2024
ondel-ondel

Ondel-Ondel dan Riwayatnya Kini

12 September 2019
Membayangkan Vokalis Sheila on 7 Bukan Pak Duta, Mungkin Begini Nasib Band Legendaris Ini (Terminal)

Membayangkan Vokalis Sheila on 7 Bukan Pak Duta, Mungkin Begini Nasib Band Legendaris Ini

15 Mei 2025
5 Alasan Bisnis Warmindo Nggak Bakalan Laku di Madura, Salah Satunya karena Bebek Bumbu Hitam! warmindo jogja warteg

5 Alasan Franchise Warteg sulit Menggeser Kejayaan Warmindo di Jogja

23 Agustus 2024
Di Jogja Sulit Mencari Bakso Enak yang Bisa Memuaskan Lidah Orang Malang Mojok.co

Bakso Jogja Sulit Memenuhi Standar Enak Lidah Orang Malang

8 Juni 2024
Lotek Khas Solo Bikin Pencinta Lotek Asal Jogja Culture Shock

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

20 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi Mojok.co

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi

21 Maret 2026
Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.