Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak

Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak Mojok.co

Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak (desatepus.gunungkidulkab.go.id)

Perdebatan soal perlu atau nggaknya tahlilan ketika ada orang meninggal sempat menghiasi media sosial beberapa waktu lalu. Semua dipicu karena adanya orang-orang yang merasa bahwa alih-alih meringankan, ritus ini justru malah memberatkan atau menambah beban pihak yang sedang berduka. 

Tuan rumah yang sedang berduka harus menyiapkan makanan, kopi, bahkan rokok buat para jamaah tahlil. Sesuatu yang sebenarnya nggak perlu-perlu amat.

Saya agak kurang relate dengan perdebatan ini. Karena kalau tahlilan dibilang memberatkan, saya nggak nemu hal itu di sekitar saya. Di tempat saya tinggal, tuan rumah (yang berduka) nggak usah repot menyiapkan keperluan tahlilan (makan, kopi, rokok, dsb).

Itu sudah di-cover oleh tetangga dan saudara. Ini sudah jadi semacam unwritten rules, dan selama ini nggak ada masalah. Semuanya saling mengerti.

Makanya, saya heran dengan orang-orang yang debat soal perlu atau nggaknya tahlilan ini. Tiap orang, tiap tempat, punya kultur tahlilan yang berbeda. Bisa banget diobrolin langsung dengan yang bersangkutan, nggak perlu sampai debat di medsos. Bagi saya, masalah ini bukan soal perlu atau nggak. Masalah tahlilan ini sebenarnya ada di kelakuan orang-orangnya.

Selama saya ikut tahlil (khususnya untuk orang meninggal), ada saja kelakuan para jamaah tahlil yang bikin geleng-geleng kepala. Red flag, nggak ada adab, nggak tahu tempat dan situasi. Mentolo tak kon moleh, kalau kata orang-orang.

Rasan-rasan saat tahlilan bikin muak

Sebelum tahlilan rasan-rasan, setelahnya rasan-rasan lagi. Budaya rasan-rasan atau gosip atau gibah ini kayaknya nggak bisa lepas dan sudah mendarah daging di tubuh orang Indonesia. Seakan tanpa rasan-rasan, hidup mereka akan tersiksa dan mati sengsara. Nggak peduli di mana tempatnya, pokoknya harus rasan-rasan. Nggak terkecuali ketika momen tahlilan itu sendiri. 

Sering banget saya menjumpai di momen tahlilan, baik itu sebelum dimulai atau setelahnya, obrolan beberapa jamaah nggak jauh-jauh dari ngerasani orang lain. Mulai dari ngerasani orang/tetangga yang nggak ikut, hingga ada juga yang sampai ngerasani keluarga tuan rumah yang nggak pernah kelihatan. Nggak kebayang gimana perasaan tuan rumah kalau sampai dengar

Ngawur banget, kan? Ini situasinya lagi berduka, dan momennya juga lagi berdoa. Kok ya masih kepikiran buat rasan-rasan itu otaknya di mana, coba? Tugas kita itu menghibur tuan rumah yang berduka, bukan malah nyebar penyakit di rumah orang yang berduka dengan rasan-rasan.

Merokok nggak tahu adab dan tempat

Kelakuan jamaah tahlil yang juga bikin geleng-geleng kepala adalah kebiasaan merokok yang nggak tahu tempat. Siapa saja yang pernah ikut tahlilan pasti sudah paham bahwa rokok dan tahlilan seakan nggak bisa dipisahkan. Seakan rokok jadi semacam suguhan wajib ketika ada acara berlangsung. 

Masalahnya, kebiasaan orang merokok di tahlilan ini kadang mengganggu, bahkan menyebalkan. Ada yang maksa merokok di dalam padahal rumah/tempatnya sempit dan sirkulasi udaranya jelek.  Tidak sedikit pula yang maksa merokok padahal di dekat mereka ada anak kecil atau orang tua sepuh.

Ada juga jamaah tahlil yang masih menyalakan rokok ketika tahlilan dimulai. Duduknya memang di luar sih, tapi apa nggak bisa ditunda dulu, ya? Kelakuan yang paling bikin geleng-geleng, ada yang sampai request merek rokok. Entah konteksnya bercanda atau gimana, tapi itu jelas nggak etis. Mbok ya yang tahu adabnya, lah.

Saya itu perokok aktif. Saya nggak keberatan dengan adanya rokok di acara tahlilan. Namun, yang penting tahu adab, tahu tempat, dan tahu situasi. Jangan sembarangan.

Menjadikan piring bekas makan sebagai asbak

Untuk poin ini, saya bisa saja memasukkannya di atas, jadi satu dengan poin merokok nggak tahu tempat dan nggak tahu adab. Namun, saya memilih untuk memisahkannya, sebab saya punya keresahan yang cukup besar, cukup mengganggu tentang hal ini. 

Ini sering banget terjadi, dan entah sudah berapa kali saya menjumpai peristiwa ini di momen tahlilan.

Begini. Buat para jamaah tahlil yang merokok, ada benda yang namanya asbak atau ashtray. Asbak itu diciptakan sebagai tempat membuang abu dan punting rokok. Tiap rumah yang ditinggali perokok, pasti ada minimal satu asbak. Kalau misalnya tuan rumah menyediakan rokok ketika tahlilan, pasti mereka menyediakan asbak. Kalau ternyata jumlah asbaknya kurang, tinggal minta ke tuan rumah, sesimpel itu, kok.

Orang yang isi kepalanya berfungsi dengan baik, orang yang dididik dengan baik oleh ibu-bapaknya, pasti akan membuang abu dan puntung rokoknya di asbak, bukan di piring bekas makanan!

Piring yang terkena bekas abu dan puntung rokok itu selain susah membersihkannya, juga nggak akan pernah bersih dan kembali seperti semula. Mau dicuci pakai sabun ciptaan NASA pun nggak akan bisa menghilangkan semua residu nikotin yang telanjur menempel di piring. Kalau sudah begini, piringnya ya terpaksa dibuang, nggak dipakai untuk makan atau tempat makanan lagi.

Lagian, apa susahnya sih, minta asbak sama tuan rumah? Lha wong tinggal ngomong. Merokok di rumah orang aja bisa, masak minta asbak nggak bisa? Perokok kok pengecut dan nggak beradab gitu, Apa nggak malu sama jamaah tahlil yang masih punya adab? Orang-orang yang modelan begini emang sebaiknya nggak perlu diundang tahlilan lagi, deh. Ngerepotin!

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version