“Masya Allah, Yasin-nya bagus”. Kalau cuma sekadar pujian seperti itu tapi nggak dipakai, ya buat apa. Buku kan untuk dimanfaatkan isinya, bukan buat koleksi semata. Apalagi, buku doa.
Sekalinya dipakai, yang saya lihat biasanya dipakai di acara tahlil juga, diperuntukkan untuk tamu. Tapi kebanyakan, yang datang ya bawa buku Yasin sendiri. Hasil dari suvenir tahlilan dari mana-mana.
Mau ditaruh masjid atau musala, yang saya lihat, sama aja. Cuma memenuhi rak buku. Ujung-ujungnya, usang karena nggak pernah tersentuh. Bukan rusak karena terlalu sering dipakai.
Cuma jadi beban bagi yang nggak mampu
Lagi pula, nggak semua keluarga yang ditinggalkan mampu untuk cetak buku Yasin. Kok rasanya kalau nggak bagi-bagi Yasin pas tahlilan 40 atau 100 hari, kayak nggak afdal. Padahal, mah biasa aja. Itu semua cuma tradisi. Nggak dijalankan nggak dosa.
Kadang kalau dapat buku Yasin baru dari acara tahlilan, saya membatin pertanyaan, “Siapa sih yang memulai kebiasaan ini?”. Cuma asal ditiru kebiasaannya tanpa memikirkan manfaatnya. Sayang kan. Jadi beban juga bagi orang yang nggak mampu bikin.
Dengan keimanan yang masih suka naik turun kayak roller coaster, saya berusaha menggilir buku-buku Yasin yang selama ini saya dapat. Nggak semuanya saya yang dapat sih, tapi intinya, buku Yasin yang ada di rumah saya. Cuma kan, kalaupun iman saya lagi naik dan lagi getol-getolnya ngaji, masa saya bacanya Yasin terus?
Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Menjadi Penulis Kata Pengantar Buku Yasin
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

















