Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Seretnya Gaji Tenaga Kesehatan dan Konyolnya Rasio Dokter 1: 1.000 Penduduk

Prima Ardiansah Surya oleh Prima Ardiansah Surya
31 Mei 2023
A A
Seretnya Gaji Tenaga Kesehatan dan Konyolnya Rasio Dokter 1: 1.000 Penduduk

Seretnya Gaji Tenaga Kesehatan dan Konyolnya Rasio Dokter 1: 1.000 Penduduk (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah-tengah gejolak RUU Kesehatan yang lagi panas-panasnya, dokter Ngabila Salama dengan ceroboh memamerkan gaji bulanannya yang mencapai 34 juta. Otomatis tweet yang sudah dibaca oleh ribuan netizen tersebut menjadi sorotan. Tidak heran, meskipun beliau sudah menghapusnya, netizen, apalagi tenaga medis yang terlanjur membacanya masih kebakaran jenggot. Soalnya, ya, gaji tenaga kesehatan nggak segitu besar.

Buntut dari tweet tersebut, membuat dokter Ngabila Salama diseret supaya melaporkan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) ke KPK. Lewat kegaduhan itu, masyarakat juga makin terbuka bahwa gaji tenaga kesehatan, khususnya dokter umum tidak sebegitu besarnya.

Gaji dokter umum yang direkomendasikan IDI sendiri, minimal berada di angka 12,5 juta per bulan. Sayangnya setelah Junior Doctor Indonesia (JDN) melakukan survey, terhitung 85 persen dokter yang ikut dalam survei tersebut mendapatkan nominal di bawah standar IDI. Ya memang segitu aja sih dapatnya, memangnya mau seberapa? Wajar, karena nominal tersebut hanya bersifat rekomendasi, tidak ada kekuatan hukum sama sekali. 

Gaji tenaga kesehatan benar-benar bercanda

Baik, mari kita lihat gaji tenaga kesehatan lain, yaitu perawat. Meskipun belum ada lembaga survey yang terang-terangan meliput mengenai gaji perawat di lapangan, tapi Anda bisa melihat gambarannya di YouTube, apalagi jika Anda gemar berselancar di Twitter. Kesengsaraan para perawat yang menerima gaji tidak lebih dari satu juta rupiah tiap bulannya itu bukan ungkapan palsu. Itu nyata, Gaes, nyata! 

Saya juga dulu menganggapnya hanya kicauan belaka. Sampai saya tanya sendiri ke Mas dan Mbak perawat yang bertugas di salah satu Puskesmas pada 2022 lalu. Bahkan ada yang hanya dibayar 200 ribu tiap bulannya di awal karier. Bagaimana dengan bayaran sekitar 500 ribu tiap bulannya? Ada banget, banyak. 

Kalau tidak percaya, saya coba hadirkan beberapa video di YouTube yang membahasnya. Anda bisa melihatnya di sini dan di sini. Padahal PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) sendiri telah memberi patokan bahwa gaji perawat seharusnya 3 kali UMP. Makanya, di desa-desa, banyak perawat yang fokus kerja utamanya berlangsung di luar fasilitas kesehatan tempat mereka bekerja. Beliau-beliau biasanya menawarkan layanan khitan, rawat luka, hingga memasang selang kencing atau selang lambung pada pasien-pasien yang dirawat keluarganya di rumah.

Memang harus berusaha sebesar itu, mana cukup 500 ribu buat biaya sehari-hari?

Supply banyak, demand kelewat sedikit

Sayangnya supply and demand memang bekerja sedahsyat itu. Sekolah keperawatan dan sekolah kebidanan menjamur begitu banyak yang berimplikasi pada jumlah lulusannya. Menurut Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI), terdapat 633 ribu perawat dengan STR aktif pada 2020. Ditambah dengan menjamurnya sekolah perawat dan kurangnya pembangunan fasilitas untuk menyerap tenaga kerjanya, banyak dari lulusan perawat menjadi tenaga honorer atau sukarela. Ujungnya? 

Baca Juga:

Jalan Sompok, Jalan yang Bikin Warga Semarang Tetap Sehat karena Banyak Dokter Praktik di Sini

4 Hal Menyebalkan saat Periksa di Puskesmas, Saya Tulis karena Banyak Orang Nggak Peka

Ya seperti sekarang, Anda bisa melihat di lingkungan Anda sendiri, begitu jasa perawat menjadi kurang dihargai karena jumlahnya terlalu banyak. Tanpa mendapat solusi gaji dari negara, para perawat dan bidan di Indonesia kini telah memutar otak untuk mendapatkan uang lebih banyak dengan menjadi tenaga kesehatan di negara lain. Jepang menjadi salah satu negara yang jadi incaran. Anda bisa mencari teman-teman saya yang berkarier menjadi perawat di luar negeri dengan mudah di YouTube. 

Rumput tetangga beneran lebih hijau

Kondisi mirisnya gaji tenaga kesehatan ini nyaris nihil di negara-negara maju dan negara-negara tetangga. Kita mulai di Amerika dan United Kingdom misalnya. Coba cari di Google tentang gaji dokter umum di amerika dengan kata kunci “General Practitioner Salary”. 

Nominalnya mungkin akan beragam. Tetapi, coba kita cari satu jalan tengah yang tidak tinggi dan tidak rendah di Amerika, dengan nominal 160.000 dolar per tahun atau 2,3 miliar rupiah per tahun. Bagaimana dengan di United Kingdom? Yang tampak di Google, kebanyakan sekitar 90.000 poundsterling, atau sekitar 1,4 miliar rupiah per tahun. 

Untuk mengabaikan nominal gaji yang terlampau tinggi karena beban kurs dan biaya hidup yang berbeda dengan Indonesia, maka Anda coba cari 10 highest paying jobs di Amerika dan Eropa. Hasilnya, tampak bahwa tenaga kesehatan mereka memang sangat dihargai. Dokter umum menjadi urutan atas dalam perihal gaji. Selaras, gaji perawat di Amerika dan United Kingdom juga sangat dihargai, dengan nominal 1 miliar rupiah dan 600 juta rupiah per tahun secara berurutan.

Bagaimana dengan Malaysia? Masih, dokter umum dihargai menjadi top 10 highest paying jobs dengan gaji 110.000 ringgit atau 350 juta per tahun. Sedangkan di Indonesia? Harus jadi spesialis bedah dulu baru bisa masuk 10 besar gaji tertinggi. Mengingat di Indonesia rasionya masih 0,695 dokter tiap 1000 penduduk pada 2021. Tapi, gaji dokter Indonesia juga masih kalah jauh dengan Malaysia yang memiliki rasio 2,23. Apalagi dengan Amerika dan United Kingdom yang memiliki rasio 3,56 dan 3,17.  

Ada upaya, tapi…

Melihat masalah itu, Menkes pada bulan April 2023 lalu telah berjanji akan menaikan basic salary dari dokter, apalagi yang bertugas di rumah sakit vertikal Kemenkes. Sebuah langkah yang tampak sejuk buat para dokter. Tapi, kapan? Dan berapa nominal yang sanggup Kemenkes naikkan? Apakah hanya terbatas pada rumah sakit vertikal? Puskesmas dan rumah sakit lainnya bagaimana? 

Jika dipikir secara gamblang, dari mana sih Kemenkes bisa menaikan gaji? Lewat sistem yang sudah berjalan bertahun-tahun, sepertinya bakal mustahil kalau tarif pelayanan tiba-tiba dinaikkan secara mendadak. Satu hal yang bisa Kemenkes mainkan adalah kapitasi BPJS, yang tidak akan memukul ekonomi masyarakat secara masif. Itu pun dengan tidak menaikkan preminya secaranya signifikan. Mari kita analisis kemungkinan kenaikan gaji ini dari kapitasi BPJS.

Kapitasi yang akan diterima fasilitas kesehatan tingkat pertama, dihitung berdasarkan jumlah anggota BPJS yang terdaftar di fasilitas kesehatan tersebut. Hitungan standar kapitasi BPJS memang agak rumit, Anda bisa membacanya di sini sesuai Peraturan Menteri Kesehatan No. 3 Tahun 2023 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Karena rumit, kita coba saja gunakan nominal kapitasi yang di atas rata-rata, 8000 rupiah tiap peserta yang terdaftar. Dengan permisalan fasilitas kesehatan tersebut memiliki peserta sebanyak 5 ribu. 

Maka, tiap bulannya fasilitas kesehatan itu akan mendapat sekitar 40 juta rupiah. Namun, nominal tersebut harus dibagi untuk beli bahan habis pakai, seperti alkohol, betadin, kasa, peralatan kesehatan seperti stetoskop, tensimeter, dan belum lagi obat-obatan. Sisanya juga harus dibagi untuk menggaji karyawan yang bekerja di sana. Mulai dari dokter, perawat, bidan, tenaga administrasi, tenaga supir, hingga, office boy. Emangnya cukup? Pun kalau cukup, berapa nominal akhir yang diterima sebagai gaji?

Kenapa getol menambah dokter kalau gaji tenaga kesehatan sebercanda itu?

Dengan fakta demikian, saya juga bingung. Kenapa Kemenkes begitu getol dan membuat isu kekurangan dokter seakan menjadi kedaruratan? Rasio 1 dokter banding 1.000 penduduk adalah angka yang konyol jika pemerintah jelas tidak sanggup memberikan upah yang layak. Coba, jika kapitasi BPJS tetap di angka 8.000 rupiah dengan 5.000 peserta seperti tadi. Untuk 5 dokter, mereka mendapat 8 juta saja. Tapi, bagaimana dengan gaji tenaga kesehatan lain? Bagaimana dengan bahan habis pakai dan obat-obatannya? 

Sebelum isu 1:1.000 mencuat, isu kekurangan dokter bukan fokus pada kekurangan jumlahnya, tetapi pada persebarannya. Dengan standar sebelumnya, rasio 1:2.500 sudah tercapai dengan jumlah dokter dan jumlah penduduk sekarang. Yang menjadi masalah adalah persebarannya. Jelas jumlah fasilitasnya kurang, apalagi jika ditambah faktor gaji tenaga kesehatan. Masuk akal bukan jika tenaga kesehatan enggan disebar? Sudah jauh dari rumah, eh upah yang diberikan tidak menggiurkan. Meskipun pemerintah sudah berusaha menaikan gaji mereka lewat program seperti Nusantara Sehat, tapi hanya berapa persen tenaga kerja yang diserap? 

Imajinasi yang kelewatan

Kemenkes lagi-lagi juga berhasil membuat dunia kesehatan Indonesia gempar dengan usulan RUU Kesehatannya. Kemenkes tampak mampu memandang jauh ke depan dengan enam pilar transformasinya, transformasi layanan primer, layanan rujukan, sistem ketahanan kesehatan, sistem pembiayaan kesehatan, SDM Kesehatan, dan transformasi teknologi kesehatan.

Sayangnya, transformasi ini hanya upaya yang imajinatif dan utopis belaka tanpa dukungan gaji yang memadai pada sumber daya manusia yang bertugas. Ya wajar sih, membangun gedung dan menyediakan fasilitas kesehatan memang lebih tampak hasilnya, daripada sekonyong-konyong menaikan gaji karyawannya.

Untuk dokter Ngabila, nggak apa-apa sih flexing gaji. Tapi, saran saya sebagai junior, jangan dilakukan waktu gaji tenaga kesehatan di negara kita lagi seret-seretnya gini dong. Malu juga sih kalau dilihat tenaga kesehatan luar negeri, begitu miris amat gaji kita dibanding mereka. 

Penulis: Prima Ardiansah Surya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Seandainya Biaya Periksa di Rumah Sakit Terpampang seperti Daftar Harga di Restoran

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2026 oleh

Tags: Doktergaji tenaga kesehatankesejahteraanrasio dokter dengan pendudukruu kesehatan
Prima Ardiansah Surya

Prima Ardiansah Surya

Dokter internship di RSU Aisyiah Ponorogo dan Puskesmas Jenangan Ponorogo.

ArtikelTerkait

Haruskah Menteri Kesehatan Seorang Dokter? terminal mojok.co

Ketimbang Pemerintah Terburu-buru tentang RUU Kesehatan, Bagaimana kalau Fokus Berobat Murah Dulu?

18 Mei 2023
6 Alasan Drama Korea Medis Selalu Populer dan Wajib Ditonton

6 Alasan Drama Korea Medis Selalu Populer dan Wajib Ditonton

29 April 2023
dokter

Dokter Tukang Sindir yang Membuatku Memilih Menahan Rasa Sakit

3 Juni 2019
Kontroversi Kedatangan Dokter Asing ke Indonesia (Unsplash)

Sisi Positif dari Rencana Menteri Kesehatan Mendatangkan Dokter Asing yang Menjadi Kontroversi dan Menuai Penolakan

5 Juli 2024
Fakultas Kedokteran, Wujud Obsesi Orang Tua akan Duit Banyak (Unsplash)

Terpaksa Masuk Fakultas Kedokteran karena Obsesi Orang Tua akan Gengsi dan Hidup Sejahtera Punya Duit Banyak

10 Maret 2024
RUU Kesehatan yang Begitu Tergesa-Gesa: Apa Itu Proses? Apa Itu Asas Keterbukaan?

RUU Kesehatan yang Begitu Tergesa-Gesa: Apa Itu Proses? Apa Itu Asas Keterbukaan?

20 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co

3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah

9 Januari 2026
Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

13 Januari 2026
Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang Mojok.co

Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang

7 Januari 2026
5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang Mojok.co

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang

12 Januari 2026
4 Spot Jogja yang Jadi Populer karena Sosok Pak Duta Sheila On 7 Mojok.co

4 Spot Jogja yang Jadi Populer karena Sosok Pak Duta Sheila On 7

10 Januari 2026
Tidak Ada Nasi Padang di Kota Padang, dan Ini Serius. Adanya Nasi Ramas! angkringan

4 Alasan Makan Nasi Padang Lebih Masuk Akal daripada Makan di Angkringan  

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik
  • “Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa
  • Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan
  • Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa
  • Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah
  • 5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.