Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Semarang Itu Luas, tetapi yang Enak Ditinggali Cuma Banyumanik dan Tembalang, Lainnya Tidak!  

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
11 September 2025
A A
Semarang Layak Diperhitungkan Jadi Kota Tujuan Belajar, Tak Kalah dari Jogja tembalang, banyumanik

Semarang Layak Diperhitungkan Jadi Kota Tujuan Belajar, Tak Kalah dari Jogja (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai warga Semarang, saya sering merasa kota ini seperti sebuah teka-teki. Di satu sisi, banyak yang bilang Semarang itu nyaman, meskipun terbilang kota besar. Di sisi lain, kalau bicara soal lokasi hunian rasanya ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa hanya kawasan Tembalang dan Banyumanik yang enak buat jadi tempat tinggal. Sisanya, nggak asyik.

Bukan bermaksud menjelek-jelekkan, tapi ini adalah realita yang diam-diam terjadi. Banyak dari warga lokal yang perlahan memutuskan menetap di dua wilayah tersebut secara permanen. Seakan, tidak ada pilihan lainnya. Padahal, secara geografis, Semarang itu luas. Kok, bisa?

Tembalang dan Banyumanik bukan titik utama demo di Semarang, ini penting banget!

Mau senyaman apa pun suatu tempat, kalau sering dijadikan titik demo, pasti bikin hidup nggak tenang. Itulah yang saya pelajari sampai terjadinya unjuk rasa serentak akhir bulan lalu. Makanya, saya merasa cukup beruntung bisa punya hunian di Tembalang yang jauh dari lokasi demo.

Wajar saja, baik Tembalang maupun Banyumanik, secara geografis terletak jauh dari pusat pemerintahan. Artinya, warga di kedua tempat itu bisa hidup damai. Jauh dari suara pengeras suara, spanduk, atau pengalihan arus kendaraan yang tiba-tiba muncul karena ada aksi massa.

Coba bandingkan dengan wilayah lain di Semarang yang letaknya dekat dengan pusat kota. Baru ada isu sedikit, sudah kudu siap-siap memutar cari jalan tikus supaya tidak terjebak demo. Bagi saya, nggak ada yang lebih disyukuri ketimbang rasa aman yang dipertaruhkan. Apalagi, saat tersiar kabar bahwa demo disusupi oknum atau kreak Semarang yang suka bikin kericuhan. Alasan sederhana, tapi mahal harganya.

Adanya keseimbangan akses fasilitas dan ketenangan, buat apa ke pusat kota Semarang?

Inilah alasan utama kenapa banyak orang betah di dua wilayah ini. Pembangunan besar-besaran jelas gas pol di Banyumanik dan Tembalang, tanpa menganaktirikan kedua kawasan pinggiran tersebut. Mulai dari akses pintu masuk jalan tol, rumah sakit besar, sampai kampus atau sekolah favorit, semuanya serba ada.

Berbeda sekali dengan wilayah Semarang yang lain, apalagi yang berada di dataran rendah. Di sana, pemerintah justru lebih sering habis-habisan berjibaku dengan bencana alam. Anggaran lebih banyak dibuat untuk urusan perbaikan tanggul, pompa air, dan menambal jalan rusak. Tiap tahun isinya cuma kebisingan dan keruwetan klise yang itu-itu saja.

Selain itu, keberadaan kampus dan sekolah favorit di Tembalang dan Banyumanik bikin ekosistemnya ikut maju. Kuliner dan hiburan jadi menjamur di mana-mana. Makanya, wajar kalau warga Tembalang dan Banyumanik jadi ogah-ogahan kalau disuruh turun ke pusat kota. Buat apa repot-repot kalau semua kebutuhan sudah ada di dekat rumah?

Baca Juga:

Jangan Ngaku Pengusaha Hebat kalau Belum Sukses Jualan di Semarang!

Desa Ngidam Muncar, Desa Terbaik di Kabupaten Semarang dengan Pesona yang Membuat Saya Betah

Level panas, banjir, dan macetnya masih bisa ditoleransi

Tinggal di Tembalang dan Banyumanik itu ibarat menemukan surga kecil di tengah neraka Semarang. Udaranya jauh lebih ramah, beda 2 sampai 3 derajat Celcius lebih sejuk daripada pusat kota. Ini bukan cuma omong kosong, perbedaan kecil ini benar-benar terasa kalau mau keliling Kota Lumpia di siang bolong.

Sebaliknya, kalau nekat tinggal di wilayah lain seperti Semarang Barat, hawanya panas menyengat. Badan gampang gerah dan kulit bisa bermasalah kalau di rumah nggak terpasang AC. Udara juga terasa pengap karena minimnya pohon dan banyaknya bangunan beton, sekalipun saat malam hari. Belum lagi, masih dibumbui polusi udara dan suara sejak pagi.

Di samping itu, ada masalah banjir rob yang sudah jadi musuh abadi warga pesisir. Banjir ini bikin warga rutin meninggikan rumah. Pun, mereka dibayangi momok anggaran ekstra buat perawatan kendaraan dan membersihkan isi rumah. Pokoknya, ada aja pengeluaran tambahan yang bikin jengkel kalau tinggal di kawasan Semarang bawah.

Untungnya, Banyumanik dan Tembalang nggak separah itu. Meskipun banjir karena hujan lebat masih mungkin terjadi, masalahnya bisa diatasi dengan kerjasama warga. Misalnya bikin drainase yang benar dan mau disepakati bersama.

Perkara macet juga masih bisa ditoleransi. Soalnya, cuma terjadi di jam dan titik tertentu. Asal tahu jalan alternatif dan nggak gengsi pakai motor, semuanya aman terkendali.

Perdebatan soal mana wilayah di Semarang yang paling enak ditinggali memang tidak akan pernah tuntas. Namun, melihat realitas yang ada, alasan kenapa Tembalang dan Banyumanik menjadi primadona sepertinya sudah cukup jelas. Lainnya? Mending pikir lagi.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Semarang Jarang Masuk Daftar Kota yang Romantis, padahal Punya Banyak Modal untuk Jadi Kota (Paling) Romantis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 September 2025 oleh

Tags: banjir di semarangbanyumanikSemarangtembalang
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

Mahasiswa doktoral UNDIP jurusan Manajemen Pemasaran asal Semarang.

ArtikelTerkait

Fasilitas UNNES Semakin Lengkap Setelah Saya Jadi Alumni, Jadi Menyesal Lulus Cepat Mojok.co

Fasilitas UNNES Semakin Lengkap Setelah Saya Jadi Alumni, Jadi Menyesal Lulus Cepat 

3 Juni 2025
3 Alasan Poltekkes Semarang Jadi Poltekkes Terbaik di Indonesia

3 Alasan Poltekkes Semarang Jadi Poltekkes Terbaik di Indonesia

9 Juli 2023
Jadi Mahasiswa Unissula Kayaknya Berat Banget, Kena Banjir, Macet, Banyak Truk Besar, Ngeri!

Jadi Mahasiswa Unissula kayaknya Berat Banget, Kena Banjir, Macet, Banyak Truk Besar, Ngeri!

21 Agustus 2023
Menghujat Motor Honda ADV 160, apalagi Membandingkannya dengan Honda BeAT, Adalah Blunder yang Harusnya Tak Pernah Terjadi motor honda revo

Motor Honda Revo, Sebenar-benarnya Motor Idaman: Bensin Irit, Perawatan Mudah Nggak Bikin Pailit

17 Januari 2024
UNDIP dan UNNES Bukan Kampus Terbaik di Semarang, tapi UIN Walisongo (Unsplash)

Menolak UNDIP dan UNNES Menjadi Kampus Terbaik di Semarang karena Status Itu Milik UIN Walisongo

6 Maret 2024
Alasan Saya Ogah ke Lawang Sewu Semarang, meski Tempatnya Benar-benar Ikonik

Orang Semarang Malas Main ke Lawang Sewu, Lebih Milih ke Bandungan yang Jelas Adem

14 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Peraturan Tidak Tertulis Makan Ramen di Golden Geisha Jogja agar Tidak Kecewa Mojok.co

3 Peraturan Tidak Tertulis Makan Ramen di Golden Geisha Jogja agar Tidak Kecewa

5 Januari 2026
Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Bisa Diharapkan (Unsplash)

Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Jadi Harapan, Bikin Saya Juga Ingin Bilang kalau Kuliah Itu Scam

9 Januari 2026
12 Tipe Dosen yang Dibenci Mahasiswa Apalagi yang Sok Tuhan (Unsplash)

Saya Sempat Bercita-cita Jadi Dosen, tapi Setelah Lihat Gajinya, Saya Langsung Ganti Cita-cita

4 Januari 2026
Alasan Saya Lebih Nyaman Diajar Dosen Muda daripada Dosen Tua Mojok.co

Alasan Saya Lebih Nyaman Diajar Dosen Muda daripada Dosen Tua

9 Januari 2026
5 Mitos Kebumen yang Bikin Orang Luar Mikir Dua Kali sebelum Berkunjung

5 Mitos Kebumen yang Bikin Orang Luar Mikir Dua Kali sebelum Berkunjung

5 Januari 2026
6 Mitos Tentang Solo yang Ternyata Beneran Ada (Unsplash)

6 Mitos Tentang Solo yang Ternyata Beneran Ada

10 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.