Selama Kritik Masih Dibalas dengan Doxing, Kedunguan akan Tetap Ada dan Berlipat Ganda – Terminal Mojok

Selama Kritik Masih Dibalas dengan Doxing, Kedunguan akan Tetap Ada dan Berlipat Ganda

Artikel

Avatar

Pernahkah kalian melihat orang yang aib atau masa lalu kelam yang sebaiknya tidak pernah diungkap disebar di sosial media? Itulah doxing dalam pengertian paling sederhana.

Doxing tidak pernah menyenangkan untuk dipandang. Kecenderungan praktik doxing yang digunakan untuk mematikan karakter orang ketika mengeluarkan argumen membuat diskusi di dunia maya menjadi tak lagi menyenangkan.

Praktik doxing sering kali digunakan ketika seseorang mengeluarkan argumen yang kontra dan mungkin tidak disukai satu atau banyak pihak. Ini yang membedakannya dengan usaha untuk mengungkap suatu kasus, katakanlah sexual harassment. Ketika kelakuan pelaku sexual harassment diungkap, hal itu membantu penyelidikan akan kasus yang belum dan tak terungkap.

Tapi, doxing lebih sering digunakan untuk mematikan karakter. Oleh karena seringnya hal ini ditemukan di jagat internet, hal ini tak lagi jadi suatu hal yang dianggap buruk. Ketika lingkungan hidupmu penuh sampah, yang terjadi ada dua: sakit atau beradaptasi.

Sayangnya, banyak yang justru berlomba-lomba untuk beradaptasi.

Hal ini tentu saja merusak hal-hal positif yang sebenarnya jadi nilai lebih dari media sosial, yaitu keberagaman pendapat dan perspektif. Suatu opini yang harusnya dilawan dengan opini juga, malah dilawan dengan membuka aib dan kejahatan masa lalu. Pertukaran opini yang harusnya membuat orang makin terbuka justru dilupakan karena ada hal yang diciptakan untuk menggeser pandangan orang dari hal yang utama.

Memang, ketika seseorang terkena doxing—terutama setelah mengeluarkan opini kontra dan/atau bitter truth—orang akan terguncang. Guncangan batinnya kira-kira seperti ini: bagaimana bisa seseorang mengeluarkan opini atau berbuat seakan membela sesuatu padahal masa lalunya mengatakan sebaliknya?

Bagaimana bisa seseorang berkampanye tentang hal-hal baik, padahal dirinya nggak baik-baik amat? Jawabannya sih, bisa-bisa aja.

Saya beri contoh yang mudah dipahami. Katakanlah Vicky Prasetyo mengatakan bahwa 2+2=4. Apakah kata-kata Vicky Prasetyo tersebut salah, meski sejarah mengatakan dia lebih sering berkata hal-hal nonsense?

Contoh lain lagi. Pak Hendro adalah orang yang terkenal pintar akan bermain judi. Suatu saat Anda, orang yang tertarik dengan dunia judi dan masih muda, sowan ke Pak Hendro untuk meminta tips bermain judi. Alih-alih beliau memberi tips, beliau malah melarang Anda untuk mencoba.

Apakah saran beliau tidak valid? Valid kan, kalau dipikir-pikir lagi?

Itulah hal yang harusnya pelaku doxing dan Anda yang kebetulan menemui praktik doxing ini pikirkan. Opini seseorang tak lantas salah hanya karena dia pernah melakukan sebaliknya. Anda tak pernah tahu apa yang waktu bisa lakukan pada manusia. Bisa jadi waktu menempa manusia menjadi makin tak berbentuk, atau bisa jadi justru waktu membentuk manusia menjadi karya yang indah.

Tentu hal ini harus dipahami dalam konteks ketika doxing digunakan untuk mematikan karakter. Berbeda jika ketika orang berkata seseorang tetap didengungkan catatan kejahatannya karena dia bebas dan mendapat peran strategis di pemerintahan. Kejahatannya yang belum diadili itu harus segera diadili. Kalau matiin karakter orang mah beda lagi ceritanya.

Doxing, nyatanya, selalu digunakan untuk tujuan yang negatif. Mematikan sang pembawa pesan lebih mudah dan efektif ketimbang menjawab argumen yang dikeluarkan dengan konstruktif dan bisa dipertanggungjawabkan.

Tetapi, sebagai manusia yang berpendidikan dan terpapar akses ilmu pengetahuan yang bisa dikunjungi kapan saja, praktik ini benar-benar membuat otak kita diracuni kebodohan yang sebaiknya dihanguskan oleh meteor. 

Sebab, bagaimana bisa kalian menjadi pintar jika diskusi tentang UMR rendah dilawan dengan catatan wanita yang pernah kalian sakiti hatinya?

Bagaimana manusia bisa pintar jika argumen tentang ketidakadilan suatu pejabat dilawan dengan cerita kau pernah berak di celana?

Selama praktik doxing ini masih jadi norma, saya jamin orang-orang bodoh akan tetap ada dan berlipat ganda. Utopis memang ketika kita berharap kebodohan akan menghilang dari dunia ini, namun dengan tidak ikut-ikutan menjadi bodoh seperti pelaku dan penikmat praktik doxing, Anda sudah berkontribusi kebaikan di dunia yang penuh karut marut ini.

Sebab–mengutip dari judul buku Dea Anugrah—hidup begitu indah, dan hanya itu yang kita punya. Maka, jangan jadi dan ikut-ikutan menjadi bodoh.

BACA JUGA 3 Masalah yang Muncul dari Budaya Spill Pelaku Pelecehan Seksual dan artikel Rizky Prasetya lainnya.

Baca Juga:  Tidak Cuma Cara Makan Soto, Cara Makan Sushi Juga Perlu Diperdebatkan!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
15


Komentar

Comments are closed.