Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Selama Kritik Masih Dibalas dengan Doxing, Kedunguan akan Tetap Ada dan Berlipat Ganda

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
27 Maret 2021
A A
doxing praktik doxing argumen membunuh karakter mojok

doxing praktik doxing argumen membunuh karakter mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Pernahkah kalian melihat orang yang aib atau masa lalu kelam yang sebaiknya tidak pernah diungkap disebar di sosial media? Itulah doxing dalam pengertian paling sederhana.

Doxing tidak pernah menyenangkan untuk dipandang. Kecenderungan praktik doxing yang digunakan untuk mematikan karakter orang ketika mengeluarkan argumen membuat diskusi di dunia maya menjadi tak lagi menyenangkan.

Praktik doxing sering kali digunakan ketika seseorang mengeluarkan argumen yang kontra dan mungkin tidak disukai satu atau banyak pihak. Ini yang membedakannya dengan usaha untuk mengungkap suatu kasus, katakanlah sexual harassment. Ketika kelakuan pelaku sexual harassment diungkap, hal itu membantu penyelidikan akan kasus yang belum dan tak terungkap.

Tapi, doxing lebih sering digunakan untuk mematikan karakter. Oleh karena seringnya hal ini ditemukan di jagat internet, hal ini tak lagi jadi suatu hal yang dianggap buruk. Ketika lingkungan hidupmu penuh sampah, yang terjadi ada dua: sakit atau beradaptasi.

Sayangnya, banyak yang justru berlomba-lomba untuk beradaptasi.

Hal ini tentu saja merusak hal-hal positif yang sebenarnya jadi nilai lebih dari media sosial, yaitu keberagaman pendapat dan perspektif. Suatu opini yang harusnya dilawan dengan opini juga, malah dilawan dengan membuka aib dan kejahatan masa lalu. Pertukaran opini yang harusnya membuat orang makin terbuka justru dilupakan karena ada hal yang diciptakan untuk menggeser pandangan orang dari hal yang utama.

Memang, ketika seseorang terkena doxing—terutama setelah mengeluarkan opini kontra dan/atau bitter truth—orang akan terguncang. Guncangan batinnya kira-kira seperti ini: bagaimana bisa seseorang mengeluarkan opini atau berbuat seakan membela sesuatu padahal masa lalunya mengatakan sebaliknya?

Bagaimana bisa seseorang berkampanye tentang hal-hal baik, padahal dirinya nggak baik-baik amat? Jawabannya sih, bisa-bisa aja.

Baca Juga:

ASN Bisa Bersuara, Bisa “Mati” Maksudnya

ASN Boleh Mengkritik Negara, karena Digaji oleh Rakyat dan Diminta Setia pada Negara

Saya beri contoh yang mudah dipahami. Katakanlah Vicky Prasetyo mengatakan bahwa 2+2=4. Apakah kata-kata Vicky Prasetyo tersebut salah, meski sejarah mengatakan dia lebih sering berkata hal-hal nonsense?

Contoh lain lagi. Pak Hendro adalah orang yang terkenal pintar akan bermain judi. Suatu saat Anda, orang yang tertarik dengan dunia judi dan masih muda, sowan ke Pak Hendro untuk meminta tips bermain judi. Alih-alih beliau memberi tips, beliau malah melarang Anda untuk mencoba.

Apakah saran beliau tidak valid? Valid kan, kalau dipikir-pikir lagi?

Itulah hal yang harusnya pelaku doxing dan Anda yang kebetulan menemui praktik doxing ini pikirkan. Opini seseorang tak lantas salah hanya karena dia pernah melakukan sebaliknya. Anda tak pernah tahu apa yang waktu bisa lakukan pada manusia. Bisa jadi waktu menempa manusia menjadi makin tak berbentuk, atau bisa jadi justru waktu membentuk manusia menjadi karya yang indah.

Tentu hal ini harus dipahami dalam konteks ketika doxing digunakan untuk mematikan karakter. Berbeda jika ketika orang berkata seseorang tetap didengungkan catatan kejahatannya karena dia bebas dan mendapat peran strategis di pemerintahan. Kejahatannya yang belum diadili itu harus segera diadili. Kalau matiin karakter orang mah beda lagi ceritanya.

Doxing, nyatanya, selalu digunakan untuk tujuan yang negatif. Mematikan sang pembawa pesan lebih mudah dan efektif ketimbang menjawab argumen yang dikeluarkan dengan konstruktif dan bisa dipertanggungjawabkan.

Tetapi, sebagai manusia yang berpendidikan dan terpapar akses ilmu pengetahuan yang bisa dikunjungi kapan saja, praktik ini benar-benar membuat otak kita diracuni kebodohan yang sebaiknya dihanguskan oleh meteor. 

Sebab, bagaimana bisa kalian menjadi pintar jika diskusi tentang UMR rendah dilawan dengan catatan wanita yang pernah kalian sakiti hatinya?

Bagaimana manusia bisa pintar jika argumen tentang ketidakadilan suatu pejabat dilawan dengan cerita kau pernah berak di celana?

Selama praktik doxing ini masih jadi norma, saya jamin orang-orang bodoh akan tetap ada dan berlipat ganda. Utopis memang ketika kita berharap kebodohan akan menghilang dari dunia ini, namun dengan tidak ikut-ikutan menjadi bodoh seperti pelaku dan penikmat praktik doxing, Anda sudah berkontribusi kebaikan di dunia yang penuh karut marut ini.

Sebab–mengutip dari judul buku Dea Anugrah—hidup begitu indah, dan hanya itu yang kita punya. Maka, jangan jadi dan ikut-ikutan menjadi bodoh.

BACA JUGA 3 Masalah yang Muncul dari Budaya Spill Pelaku Pelecehan Seksual dan artikel Rizky Prasetya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 April 2021 oleh

Tags: doxingkritik
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Pejuang Kita Tidak Minta Izin Belanda Waktu Bikin Mural

Pejuang Kita Tidak Minta Izin Belanda Waktu Bikin Mural

16 Agustus 2021
kartun upin ipin dan nussa rara

Mempermasalahkan Logika Film Kartun Adalah Sebuah Bentuk Penyimpangan Logika

14 September 2020
marjinal negri ngeri mojok

‘Negri Ngeri’ Adalah Gambaran Indonesia Saat Dihajar Pandemi

7 Juli 2021
Nonton Petualangan Sherina Saat Anak-anak dan Dewasa Itu Beda Pisan (Eddy H/Shutterstock.com)

Nonton Petualangan Sherina Saat Anak-anak dan Dewasa Itu Beda Pisan!

21 Mei 2022
jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Pasal Penghinaan terhadap Martabat Presiden yang Justru Merugikan Presiden

8 Juni 2021
Mafalda

Komik Mafalda: Ketika Anak-anak Menyindir Negara

25 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Adalah Komentar Paling Jahat dan Tidak Perlu Mojok.co

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

26 April 2026
Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan Mojok.co

Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan

25 April 2026
kecamatan pedan klaten tempat tinggal terbaik di jawa tengah (Wikimedia Commons)

Kecamatan Pedan Klaten: Tempat Tinggal Terbaik di Kabupaten Klaten yang Asri, Nyaman, Penuh Toleransi, dan Tidak Jauh dari Kota

29 April 2026
Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026
Klaten Tulang Punggung dan Masa Depan Dapur Indonesia

Klaten: Bukan Sekadar Kota untuk Mampir Menikmati Sop Ayam, tapi Tulang Punggung dan “Dapur” Masa Depan Indonesia

1 Mei 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.