Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Selain Viennetta, Roti Tawar Dioles Selai di Sinetron Juga Jadi Impian Masa Kecil

Atanasius Rony Fernandez oleh Atanasius Rony Fernandez
11 April 2020
A A
Roti Tawar Mentega Tabur Gula Pasir Adalah Menu Sarapan yang Nikmatnya Abadi terminal mojok.co

Roti Tawar Mentega Tabur Gula Pasir Adalah Menu Sarapan yang Nikmatnya Abadi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Es krim Viennetta muncul lagi. Semua orang dewasa yang masa kecilnya tidak bisa membeli es krim itu mempunyai kesempatan membalaskan dendam masa kecil dengan membeli es krim Viennetta. Selain es krim Viennetta, ada satu makanan yang bikin saya penasaran saat kecil dulu dan jadi salah satu impian masa kecil saya, yaitu roti tawar dioles selai yang sering muncul saat adegan sarapan di sinetron Indonesia.

Mimpi membeli es krim Viennetta adalah impian anak kecil dari keluarga dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah. Sarapan roti dan selai juga bukan kebiasaan keluarga kurang mampu di Indonesia, apalagi jika melihat situasi Indonesia di akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an. Herannya, hampir semua sinetron Indonesia menampilkan adegan keluarga kaya sarapan di meja makan dengan masing-masing orang sibuk mengolesi roti mereka dengan selai. Jus jeruk dan susu juga tersedia di hadapan mereka.

Mereka memakan roti tawar itu dengan menggunakan garpu dan pisau. Walaupun terbit keheranan saya kala itu dan bertanya-tanya: Apakah orang kaya selalu menggunakan garpu dan pisau setiap kali memakan apa saja? Jika ada anggota keluarga yang bergaya urakan, biasanya ia memakan roti tawar itu langsung dengan tangan kosong. Lantas kita bakal tahu kelanjutannya, akan ada anggota keluarga yang tergesa-gesa pergi dan hanya menggigit satu kali rotinya.

Adegan itu sebetulnya aneh karena di luar kebiasaan masyarakat kebanyakan di Indonesia yang terbiasa memakan nasi. Meski demikian, waktu kecil dulu tepatnya di awal tahun 2000-an, saya ingin sekali sarapan seperti itu: memakan roti yang diolesi selai dan meminum susu di pagi hari. Di bayangan saya, perpaduan itu sungguh sangatlah nikmat. Beberapa kali saya merengek ke ibu dan meminta menu sarapan “mewah” itu, tapi hasilnya sia-sia belaka.

Bukan karena keluarga saya pencinta nasi putih garis keras yang mengharamkan roti menjadi menu sarapan kami, tapi keluarga saya memang keluarga yang bisa dikatakan kurang mampu. Sebenarnya roti tidak mahal-mahal amat dan kami bisa membelinya, tapi harga selai dan lain-lainnya itu bagi ibu saya cukup menguras anggaran belanja keluarga yang memang sudah sangat minim. Belum lagi bagi orang yang sudah terbiasa memakan nasi, memakan roti sering kali tidak membuat kenyang untuk waktu yang cukup lama. Uang untuk membeli roti lebih baik dialihkan ke lauk pauk.

Keinginan yang menggebu-gebu pada saat masih kecil itu mungkin disebabkan kontrasnya menu sarapan saya dan adegan sarapan roti di sinetron itu. Saya biasanya memakan nasi putih dan lauk sisa kemarin, seperti ikan goreng atau tempe. Kadang ibu saya mengiris bawang merah dan cabe dan tomat kemudian diremas bersama suwiran ikan goreng. Menu yang kami sebut sambal bawang itu berpadu dengan nasi putih, rasanya akan melampaui semua makanan terenak di dunia. Beberapa kali jika cukup beruntung saya sarapan dengan mie instan yang dibarengi dengan nasi putih. Atau nasi putih dan telur goreng atau rebus.

Dari cerita di atas keluarga saya tampaknya tergolong lumayan terjaga untuk makanan. Orang tua saya memang sangat mementingkan urusan makanan kami. Urusan lainnya seperti sandang dan papan, bisa ditepikan.

Meski demikian, roti yang diolesi selai senantiasa terngiang-ngiang di pikiran saya. Saya bertekad untuk bisa segera memakan roti berisi selai. Pernah suatu kali saat saya masih SD, ketika tidak sempat sarapan di rumah, saya memilih sarapan di kantin sekolah. Jangan membayangkan kantin SD di kampung sebagai sebuah kantin yang mewah—sebenarnya lebih layak disebut warung, makanan yang dijual juga sangat murah. Bahkan uang jajan sebanyak Rp500 rupiah saat itu sudah bisa untuk traktir teman-teman.

Baca Juga:

4 Kasta Teratas Varian Sari Roti yang Rasanya Tidak Pernah Mengecewakan

4 Ciri Bubur Ayam yang Pasti Enak, Cocok Jadi Penyelamat Perut di Pagi Hari

Saat itulah saya berpikir memiliki kesempatan sarapan roti dioles selai. Di kantin hanya ada roti seharga Rp100 seukuran kepalan tangan, bukan roti tawar sih, tapi memang tak ada isian di dalamnya. Saya membeli semacam pasta cokelat seharga Rp50 sebagai pengganti selai. Sebelum memakannya saya sudah membayangkan kelezatan roti itu, pasti bakal enak. Ternyata setelah saya gigit, roti itu keras dan selainya seperti gula kelas terendah yang diberi perwarna cokelat. Saya misuh-misuh dan memutuskan segera membuang racikan roti itu ke sumur tua di belakang sekolah.

Roti tawar dengan selai tetap menghantui masa kecil saya sampai beranjak remaja. Makanan yang terlihat mewah di mata anak kecil kampung ini sulit dihilangkan dari benak saya. Soalnya, satu-satunya hiburan saya adalah TV di kampung yang ditonton beramai-ramai dengan menumpang di rumah keluarga atau tetangga. Saluran TV saat itu hanya sedikit, praktis hanya SCTV dan RCTI saja yang gambarnya cukup bagus. Kedua saluran TV itu pasti menayangkan sinetron di jam-jam tayang utama atau prime time. Otomatis adegan makan roti tawar saat sarapan sering muncul, yang semakin membuat saya geregetan pengin makan roti tawar dengan selai.

Hingga akhirnya ketika dewasa dan memiliki penghasilan sendiri, saya bisa menuntaskan keinginan masa kecil itu. Saya jadi sering membeli roti tawar dan beragam jenis selai. Namun semuanya tentu saja berbeda, ketika dulu tidak bisa membeli roti tawar dan selai, tapi ada kehangatan orang tua saat kami sarapan seadanya. Kini, saya bisa membeli makanan apa saja, tapi tidak bisa menghadirkan kenangan bersama orang tua, karena mereka telah tiada.

Kita bisa membeli apa saja, tapi kita tidak bisa membeli kenangan. Merayakan pembalasan dendam dengan membeli keinginan masa kecil yang sulit dicapai, bukanlah masalah dan memang sebaiknya dilakukan, hidup hanya sekali sepatutnya jangan disia-siakan. Kembalinya es krim Viennetta, setidaknya bisa menghadirkan kembali kenangan di masa lalu, kenangan ketika hanya mampu menatap nanar iklan es krim itu di TV. So, mari kita memburu es krim itu….

BACA JUGA Bukan Viennetta, Ini Daftar Jajanan Masa Kecil yang Bikin Saya Kangen! atau tulisan Atanasius Rony Fernandez lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 11 April 2020 oleh

Tags: roti tawarsarapanSinetronviennetta
Atanasius Rony Fernandez

Atanasius Rony Fernandez

Jurnalis yang tinggal di Mataram, Lombok. Sesekali menulis karya sastra. Tertarik pada isu kesenian, sosial, dan kuliner. Penggemar AS Roma dan musik metal.

ArtikelTerkait

saran terbuka untuk my lecturer my husband season 2 mojok.co

Saran Terbuka untuk My Lecturer My Husband Season 2

25 Januari 2021
Sinetron Indonesia ala Squid Game: Sudah Meniru, Jelek pula terminal mojok.co

Sinetron Indonesia ala Squid Game: Sudah Meniru, Jelek pula

23 Oktober 2021
Hal-hal yang Mungkin Terjadi setelah Kepergian Andin Ikatan Cinta

Hal-hal yang Mungkin Terjadi setelah Kepergian Andin Ikatan Cinta

26 Januari 2023
Mengenang Sinetron dan Serial Awal 2000-an, Tontonan yang Jadi Tuntunan terminal mojok.co

Mengenang Sinetron dan Serial Awal 2000-an, Tontonan yang Jadi Tuntunan

11 Desember 2020
Sinetron Indonesia Semakin Membosankan dan Nggak Menghibur (Unsplash)

5 Alasan yang Membuat Sinetron Indonesia Semakin Membosankan. Produser dan Sutradara Perlu Lebih Kreatif!

30 Januari 2024
korban bully badut terawan bismillah cinta sinetron dialog jahat mojok

Menjadi Jahat dengan Menonton ‘Bismillah Cinta’

10 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026
Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

29 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
12 Istilah Hujan yang Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo” Mojok

12 Istilah Hujan yang Terdengar Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo”

30 April 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang

29 April 2026
4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.