Sebagai orang Minang, setiap kali ditanya asal daerah, pasti pertanyaannya tidak pernah lepas dari Rumah Makan Padang dan nasi Padang. Tidak sedikit pula yang iseng bertanya, “Di Padang ada yang jual nasi Padang, nggak sih?” Jawaban saya yang awalnya panjang lebar kini menyusut menjadi jawaban singkat, padat, dan jelas.
Perlu saya ulangi lagi, orang Minang di Sumatera Barat pada dasarnya tidak menyebut nama makanan mereka dengan nasi Padang. Sebutan itu barangkali hanya dipakai oleh orang-orang yang berasal dari luar Sumatera Barat.
Akan tetapi, bukan berarti di sana tidak menjual nasi Padang ya. Nasi semacam itu ada, bahkan banyak. Hanya saja sebutannya bukan nasi Padang, tapi lebih khas dan familiar di telinga orang Minang seperti nasi kapau, nasi rames, atau hanya sebutan lauknya saja rendang, telur balado, gulai tunjang, dan masih banyak penamaan lainnya bukan hanya sebatas “nasi Padang”.
Selain soal nasi Padang, orang-orang juga kadang salah kaprah menganggap orang Minang di perantauan pasti punya Rumah Makan Padang atau minimal jualan nasi Padang. Padahal nggak semua orang Minang begitu. Ada kok yang di rantau jadi karyawan, pedagang, ada juga yang jadi tukang fotokopi, bahkan sukses memiliki banyak cabang.
Mungkin tidak banyak orang tahu pula bahwa orang Minang justru lebih identik dengan fotokopi. Buktinya, tugu fotokopi berhasil didirikan dengan sangat megah di wilayah Tanah Datar tepatnya di Nagari Atar, Kecamatan Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar. Usut punya usut, tugu ini berdiri karena kebanyakan orang Minang, khususnya di Nagari Atar, sukses di perantauan berkat usaha fotokopi.
Makanya rasanya tidak heran, setiap kali saya singgah ke toko fotokopi yang sering saya temukan adalah penjualnya itu justru orang Minang dan itu bukan cuma sekali dua kali.
Pengalaman bertemu orang Minang yang buka usaha fotokopi di Jogja
Sedikit cerita, saya pernah bertemu dengan seorang pemilik toko fotokopi di sekitar kampus Jogja. Sebut saja nama samarannya Pak Joni. Beliau dan istrinya sudah lama membuka usaha fotokopi, bahkan jauh sebelum saya menjadi mahasiswa.
Perjumpaan saya dengan beliau pada saat itu cukup sederhana, saya datang ke gerainya untuk nge-print dan fotokopi tugas. Awalnya saya sama sekali tidak merasa bahwa Pak Joni ini orang Minang. Ornamen-ornamen di gerai fotokopinya sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda orang Minang tampak sama dengan toko fotokopi pada umumnya.
Akan tetapi, yang membuat saya sedikit ngeh adalah ketika terdengar musik Minang dari speaker kecil beliau. Dan, saat itu saya bergumam, “Oh, apak ko jangan-jangan urang Minang mah.” Mungkin, dari sekian banyak pembeli yang ada di toko itu, hanya saya saja yang paham dengan lirik lagu Minang dan diam-diam bernyanyi.
Setelah selesai ngeprint tugas, saya memberanikan diri dan lantas bertanya. Pada saat itu, yang saya tanyai ternyata istrinya Pak Joni, dan beliau sangat ramah. “Uni urang Sumbar yo, Ni? ” tanya saya sedikit ragu dan merasa kurang yakin.
“Iyo, Uni urang Sumbar, asli Padang Laweh. Anak urang Minang?” jawabnya dengan dialek bahasa Minang yang masih kental.
Saya kaget, pemilik toko ternyata bisa berbahasa Minang setelah sudah lama di rantau. Rasanya sedikit malu karena justru sayalah yang kurang bisa berbahasa Minang, mungkin karena terlalu sering menggunakan bahasa Indonesia sehingga bahasa Minang yang saya gunakan cenderung campur kode atau Indomi (Indonesia-Minang).
Kami cukup akrab berbicara bahasa Minang saat itu. Bahkan, mereka tidak sungkan bercerita tentang kehidupan di perantauan dan menjelaskan bahwa di sekitar toko sini juga banyak mahasiswa Minang, terutama yang berasal dari Bukittinggi seperti saya.
Bertemu dengan pengusaha fotokopi lain yang dari Padang
Perjumpaan saya dengan pemilik toko fotokopi orang Minang ternyata tidak hanya sampai pada Pak Joni dan istrinya. Masih di sekitar kampus Jogja, saya bertemu dengan Uda Rendy yang berasal dari Pasaman, Sumatera Barat. Beliau adalah orang yang ramah dan baik. Saya mengetahui bahwa beliau orang Minang dari penggunaan bahasa Indonesianya yang masih lekat dialek minang.
Pertemuan saya dengan Pak Joni dan Uda Rendy tentunya bukan seberapa, masih banyak toko fotokopi yang ternyata dikelola oleh orang Minang. Bahkan, sudah empat toko yang saya temukan pemilik dan karyawannya orang Minang dengan latar belakang daerah yang berbeda ada yang dari Batusangkar, Pasaman, ada pula yang asli dari Padang Pariaman.
Kenyataan ini menyadarkan saya pada satu ironi lucu. Ketika saya ke rumah makan Padang dan membeli nasi Padang, justru yang saya temukan bukan asli orang Minang melainkan orang Jawa.
Saya tidak mengatakan bahwa yang berjualan nasi padang harus orang Minang, tentu siapa saja boleh jualan nasi Padang. Tetapi ada satu hal yang membuat saya sedikit kecewa, yaitu soal rasa nasi Padang yang kerap kali berbeda. Saya merasa seperti orang asing ketika menyantap nasi Padang seolah-olah kurang menikmati makanan yang justru dari kampung sendiri.
Dari perjumpaan ini, saya sadar bahwa tidak semua label dari masyarakat dapat menunjukkan kebenaran yang sebenarnya. Buktinya penjual nasi Padang, nggak mesti orang Minang kok. Justru toko fotokopi yang kebanyakan diisi orang Minang.
Saya hanya curiga saja, jangan-jangan nantinya orang Minang akan lebih identik dengan toko fotokopi sedangkan rumah makan Padang hanya sebatas nama kata Padang-nya saja. Jika memang iya, di mana lagi saya akan menemukan cita rasa nasi Padang yang sesungguhnya dari tangan orang awak?
Penulis: Indah Sari Aropah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
