Informasi
ADVERTISEMENT

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

Sebagai seseorang yang kerap merantau untuk studi, saya punya banyak pengalaman ngekos. Saya besar dan tinggal di Semarang, tapi pernah mencicipi tinggal di Surabaya, Jogja, hingga Manila, Filipina

Di antara kota-kota besar tadi, ada satu tempat yang paling bikin saya gagal paham kebiasaan warga lokalnya, yaitu Jogja. 

Di sana ada saja hal yang nggak masuk akal sehat manusia waras. Tapi, saya rasa karma memang ada. Setelah bertahun-tahun lebur dengan dinamika Jogja, saya yang dulu hobi misuh-misuh melihat keanehannya, sekarang justru menjelma jadi pelaku utama yang melakukan kebiasaan khas orang Jogja itu saban hari.

#1 Nrimo ing pandum ala orang Jogja mengajarkan saya jadi orang yang lebih maklum

Lahir sebagai anak perempuan sulung yang dibesarkan di lingkungan akademis dan terbiasa hidup dalam ekosistem serba kompetitif membuat saya tumbuh jadi manusia yang hobi hidup serba efisien. Semuanya harus sat-set, terukur, dan tepat waktu. Apalagi hiruk-pikuk Semarang, kerasnya Surabaya, hingga ritme kilat Manila sangat mendukung idealisme saya itu.

Itu mengapa, wajar saja kalau di awal-awal kepindahan ke Kota Gudeg dulu, tabiat orang Jogja yang terkesan gampang memaklumi kekhilafan sering saya cap sebagai sikap kurang profesional. Tapi, seiring usia mendekati kepala empat dan digulung berbagai ujian hidup, pandangan kaku itu mulai bergeser. Prinsip nrimo ing pandum yang dulunya saya cela, justru jadi penyelamat utama kewarasan saya.

Sekarang, kalau ada rencana meleset, alih-alih meledak-ledak, saya sudah bisa menghela napas panjang dan menerimanya dengan ikhlas. Toh, hidup ini ternyata memang nggak bisa seratus persen disetir sesuai kemauan diri. Berdamai dengan keadaan lewat filosofi Jogja itu ternyata jauh lebih menenangkan daripada terus-terusan ngotot melawan arus.

Baca halaman selanjutnya: alon-alon asal kelakon …

Terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2026 oleh .

Paula Gianita Primasari

Kontributor aktif media opini dan satir.