Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
22 Agustus 2026
A A
Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai seseorang yang kerap merantau untuk studi, saya punya banyak pengalaman ngekos. Saya besar dan tinggal di Semarang, tapi pernah mencicipi tinggal di Surabaya, Jogja, hingga Manila, Filipina. 

Di antara kota-kota besar tadi, ada satu tempat yang paling bikin saya gagal paham kebiasaan warga lokalnya, yaitu Jogja. 

Di sana ada saja hal yang nggak masuk akal sehat manusia waras. Tapi, saya rasa karma memang ada. Setelah bertahun-tahun lebur dengan dinamika Jogja, saya yang dulu hobi misuh-misuh melihat keanehannya, sekarang justru menjelma jadi pelaku utama yang melakukan kebiasaan khas orang Jogja itu saban hari.

#1 Nrimo ing pandum ala orang Jogja mengajarkan saya jadi orang yang lebih maklum

Lahir sebagai anak perempuan sulung yang dibesarkan di lingkungan akademis dan terbiasa hidup dalam ekosistem serba kompetitif membuat saya tumbuh jadi manusia yang hobi hidup serba efisien. Semuanya harus sat-set, terukur, dan tepat waktu. Apalagi hiruk-pikuk Semarang, kerasnya Surabaya, hingga ritme kilat Manila sangat mendukung idealisme saya itu.

Itu mengapa, wajar saja kalau di awal-awal kepindahan ke Kota Gudeg dulu, tabiat orang Jogja yang terkesan gampang memaklumi kekhilafan sering saya cap sebagai sikap kurang profesional. Tapi, seiring usia mendekati kepala empat dan digulung berbagai ujian hidup, pandangan kaku itu mulai bergeser. Prinsip nrimo ing pandum yang dulunya saya cela, justru jadi penyelamat utama kewarasan saya.

Sekarang, kalau ada rencana meleset, alih-alih meledak-ledak, saya sudah bisa menghela napas panjang dan menerimanya dengan ikhlas. Toh, hidup ini ternyata memang nggak bisa seratus persen disetir sesuai kemauan diri. Berdamai dengan keadaan lewat filosofi Jogja itu ternyata jauh lebih menenangkan daripada terus-terusan ngotot melawan arus.

#2 Alon-alon asal kelakon bukan sekadar pembenaran buat malas-malasan

Jujur saja, filosofi ini dulu adalah juara yang paling sering bikin saya jengkel. Sebagai orang yang terbiasa hidup dengan jadwal teratur, prinsip berjalan pelan asal terlaksana ini sempat saya cap sebagai dalih buat bermalas-malasan dan menunda pekerjaan. 

Cuma buang-buang waktu yang nggak bisa diulang atau dibeli dengan uang. Lucunya, semakin menua, saya jadi paham bahwa kalimat yang tadinya saya anggap omong kosong itu ternyata menyimpan kearifan untuk meredam emosi negatif.

Baca Juga:

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

Buktinya, jurus pelan tapi pasti ini saya pakai buat urusan berkendara dan mengambil keputusan-keputusan krusial. Menghadapi jalanan Semarang yang bikin emosi, saya kini jauh lebih legawa buat mengalah. Memilih jalan santai dan mengutamakan selamat sampai tujuan terbukti jauh lebih bijak ketimbang mengebut demi gengsi tapi berujung celaka. 

Begitu juga dalam urusan kuliah, pekerjaan, maupun rumah tangga. Pelan-pelan saya sadar bahwa nggak semua hal di dunia ini bisa dipaksa selesai dalam semalam seperti legenda Roro Jonggrang. Hidup ini rupanya memang bukan ajang lari sprint. Dan, kalau kata orang, pada akhirnya semua memang akan indah tepat pada waktunya. Jadi, biarkan saja mengalir dulu tanpa perlu diburu-buru.

#3 Berbasa-basi dan mengucap salam ke orang itu perlu meski nggak kenal

Orang Jogja itu terkenal punya level kesopanan setebal ensiklopedia. Lengkap dengan lapisan ewuh pakewuh yang kadang bikin saya salah paham dan menilainya sebagai sifat munafik. 

Maklum, sebagai bocah Semarang yang terbiasa ceplas-ceplos, gaya komunikasi warga Jogja yang berputar-putar dan penuh kiasan itu sempat berhasil bikin darah tinggi. Mau menolak ajakan nongkrong saja, susahnya minta ampun. Harus menyusun kalimat tersirat padahal maksudnya cuma mau bilang “tidak”.

Belum lagi, ritual wajib tiap kali lewat di depan orang. Membungkukkan badan sedikit sambil mengucapkan salam. Saya sempat heran. Buat apa sok sopan kepada orang yang bahkan nggak kenal? 

Faktanya, basa-basi itu ternyata berfungsi sebagai pelumas sosial yang bikin persoalan hidup jadi jauh lebih lancar. Belakangan, saya sadar pentingnya terbiasa meredam intonasi. Pendekatan yang sabar, lembut, dan pandai menjaga perasaan orang lain ternyata jauh lebih ampuh buat meredam konflik ketimbang ngotot hanya demi kemenangan semu. Lagipula, bukankah kejujuran jika tanpa empati adalah perbuatan yang keji?

Hidup memang suka melempar lelucon paling ironis ke orang-orang yang egois. Kota yang dulu sering saya hujat dengan seabrek komentar pedas, kini justru sukses melunturkan ego saya hingga tandas. Mungkin, Jogja tercipta memang untuk melambatkan hidup orang-orang yang kelewat tergesa-gesa di era yang serba instan ini. 

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2026 oleh

Tags: Jogjakebiasaankebiasaan anehOrang Jogjawarlokwarlok Jogja
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Saking Ndesonya Soal Jogja, Saya Pernah Beli Pecel di Angkringan terminal mojok.co

Saking Ndesonya Soal Jogja, Saya Pernah Beli Pecel di Angkringan

3 April 2020
4 Adab Tanya Alamat ke Orang Jogja biar Nggak Nyasar selain Buka Helm Terminal Mojok

4 Adab Tanya Alamat ke Orang Jogja biar Nggak Nyasar selain Buka Helm

2 Februari 2022
Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik Mojok.co

Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik

19 Januari 2026
7 Luka Kota Jogja Warisan Haryadi Suyuti, Eks Wali Kota Pesakitan KPK

7 Luka Kota Jogja Warisan Haryadi Suyuti, Eks Wali Kota Pesakitan KPK

8 Oktober 2024
Kiat Menghindari Macet di Jogja selain dengan Rebahan Terminal Mojok

Jogja Bukan Lagi tentang Pariwisata dan Budaya tapi Macet dan Pengendara Mobil yang Lelet!

29 Agustus 2023
Jogja, Kota Pelajar yang Mengajarkan Saya Ikhlas Menderita

Jogja, Kota Pelajar yang Mengajarkan Saya Ikhlas Menderita

26 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

21 Agustus 2026
5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini (Mojok.co)

5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini 

16 Agustus 2026
Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku Mojok.co

Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku

18 Agustus 2026
Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026
7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan Mojok.co

7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan

21 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.