Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Sekolah Favorit dan Sikap Para Orang Tua Pencandunya

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
5 Februari 2021
A A
Menyelisik Sikap Orang Tua Pencandu Sekolah Favorit Terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Semester akhir sekolah adalah momen genting, terutama di masa seperti sekarang ini. Yang selalu saya tekankan soal genting adalah bayar duit sekolah. Memang pada kenyataannya menghitung biaya sekolah tak selalu asyik. Belum buku tulis baru, belum kuota internet, belum beli LKS, pokoknya bikin kantung menipis. Yang mau menghadapi kelulusan lebih gawat lagi. Harus ujian dan nggak boleh punya utang ke sekolah, nanti nggak bisa ambil ijazah. Pilih sekolah juga harusnya sekarang lebih mudah berkat sistem zonasi. Tapi, apakah sistem ini benar-benar efektif?

Salah satu tujuan dari adanya sistem zonasi adalah agar tak ada hierarki dalam sistem persekolahan duniawi. Seperti yang kita tahu ada sekolah favorit alias sekolah keren, beken, dan penuh prestasi. Sekolah yang diserbu oleh banyak orang tua dan siswa-siswa pintar dan kebanyakan kaya. Ada juga sekolah biasa, yang biasa saja gitu lah. Standar masuk sekolah favorit itu kayak gimana sih sebenarnya? Apa hanya karena nilai matematika yang baik? Pada kenyataannya, itu yang biasanya dicari sekolah favorit.

Saya nggak bilang sekolah favorit itu buruk, hanya saja wagu rasanya. Ada sekolah yang sama-sama punya pemerintah, tapi kok perlakuannya beda, pilih kasih gitu. Banyak anggota keluarga saya yang berlomba agar bisa memasukkan anaknya ke sekolah favorit, padahal bayaran yang diminta nggak masuk akal dan ngawur. Dalih fasilitas lengkap tak terelakkan lagi, ditambah nilai prestise tersendiri saat anaknya bisa punya seragam dari sekolah favorit.

Misalnya ada tetangga bertanya, “Anaknya sekolah di mana, Bu?” Tentu dijawab dengan nggleleng dan disertai tawa wangun khas ibu-ibu. “SMA favorit itu. Anaknya yang ngeyel, saya cuma manut.”

Sistem zonasi itulah yang diharapkan mampu menghilangkan hierarki dari sekolah. Belum lagi hierarki di dalam sekolah favorit itu sendiri, kelas reguler dan kelas berstandar internasional (RSBI), yang lagi-lagi menarik bayaran yang wow, berjuta-juta. Tapi, sampai hari ini masih banyak orang tua yang berharap anaknya masuk ke sekolah yang dianggap masih favorit itu.

Lantaran sistem zonasi, beberapa saudara saya bahkan sampai bikin kartu keluarga dan KTP baru alias pindah administrasi, agar dekat dengan sekolah yang dianggap favorit dan bisa diterima di sana. Sistem zonasi sepertinya sedang dicurangi. Rupanya, banyak yang melakukan hal semacam itu, buanyak buanget. Saya beruntung orang tua saya memegang prinsip “di manapun sekolah, yang menentukan masa depan adalah diri sendiri” (dibaca: dekat dari rumah biar irit).

Saat itu belum ada zonasi, namun bisa dibilang itulah yang saya lakukan. Pernah dan sering saya dengar dari mulut para siswa sekolah favorit, “Fasilitas dan kehebatan sekolah tak menentukan nilai dan kesempatan siswa.” Masalahnya, semua beasiswa masuknya ke sekolah itu, mulai dari pemerintah sampai perusahaan-perusahaan besar. Di sekolah negeri yang B saja, paling mentok bidikmisi. Ketimpangan inilah yang diharapkan bisa hilang. Tapi sayangnya, perkembangan dan pembangunan sekolah yang tak merata, membuat sistem sekolah favorit seperti tak bisa hilang 100%.

Sekolah yang masih dinilai favorit, atau kini favorit tipis-tipis, masih banyak peminat. Segala cara akan dihalalkan agar bisa masuk sekolah itu. Saya tak bisa menyalahkan para siswa dan orang tua. Memang pada kenyataannya, fasilitas sekolah favorit jauh lebih baik. Ekskul komplit, pelatih pun mumpuni. Semua jenis fasilitas, olahraga, laboratorium, seni, pokoknya semua ada. Siapa yang nggak mau coba?

Baca Juga:

Nasib Anak Seni di Sekolah Favorit Bagai Acar di Nasi Goreng: Ada, tapi Dilupakan dan Akan Selalu Diabaikan

Mas Wapres Benar, Sistem Zonasi Memang Sebaiknya Dihapus Saja karena Banyak Masalah

Jadi, para orang tua pencandu sekolah favorit ini tak bisa disalahkan juga. Kebanyakan yang terjadi itu sudah merupakan sekolah turun temurun. Semua anggota keluarganya banyak yang merasakan enaknya sekolah di situ. Ada juga yang memang mengejar nilai prestisiusnya, dan itu nggak salah, boleh-boleh saja. Apalagi sekarang nggak ada lagi uang gedung dan pungutan khas sekolah favorit lainya, lebih irit.

Yang menurut saya tak tepat adalah sistem zonasi yang nyatanya tetap tak mampu menyelenggarakan sekolah yang adil merata, baik kualitas maupun pembangunannya. Di banyak tempat, khususnya luar Jawa, mereka nggak perlu zonasi-zonasian, apalagi favorit-favoritan. Sekolah cuma ada itu-itu saja, bangunan banyak yang hampir rusak, guru kurang, buku kurang, jauh dari rumah, dan benar-benar harus menembus sungai, hutan, gunung, hingga laut hanya agar bisa pergi ke sekolah. Jangankan memikirkan sekolah favorit, besok sekolah apa nggak saja belum tahu, mau melanjutkan juga susah, lebih jauh dan lebih mahal lagi tentunya.

Yang terpenting, para anak harus diberi pengertian perihal sekolah yang tepat. Bukan hanya perkara nilai rapor, nilai prestisius sebuah sekolah, tapi tentang karakter dan kesadaran diri, betapa pentingnya belajar dan berpendidikan agar bermanfaat untuk orang lain. Sehingga peran orang tua bukan hanya untuk membiayai saja, namun ikut membentuk karakter para anaknya.

BACA JUGA Menurut Saya, Menjadi Sekretaris Adalah Cobaan Terberat di Masa Sekolah dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2022 oleh

Tags: pemerataan pendidikansekolah favoritsistem zonasi
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

Apa Betul Sekolah Favorit Memang Begitu Menjanjikan?

Apa Betul Sekolah Favorit Memang Begitu Menjanjikan?

14 Februari 2020
belajar dan sekolah

Sekolah Tidak Lebih Penting dari Belajar

3 Juli 2019
Sistem Zonasi Cuma Bentuk Kemalasan Pemerintah. Hapus Saja! (Unsplash)

Sistem Zonasi Cuma Bentuk Kemalasan Pemerintah untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan. Sudah, Hapus Saja!

30 Agustus 2023
Masih Ada Sekolah Favorit dan Orang Tua Pindah KK Anak, Sistem Zonasi Gagal Total!

Masih Ada Sekolah Favorit dan Orang Tua Pindah KK Anak, Sistem Zonasi Gagal Total!

29 Juni 2023
gerakan literasi

Gerakan Literasi Jangan Sebatas Gaya-Gayaan

21 Agustus 2019
Apa Betul Sekolah Favorit Memang Begitu Menjanjikan?

Jangan Mudah Termakan Embel-embel Sekolah Favorit, Nanti Nyesel

22 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.