Sekolah Bukan Cuma Formalitas, Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

Sekolah Bukan Cuma Formalitas. Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

Sekolah Bukan Cuma Formalitas. Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah (Unsplash)

Kalau les atau bimbel memang lebih efektif mencerdaskan siswa, lalu sebenarnya sekolah itu fungsinya apa?

Itulah pertanyaan Mas Supriyadi yang dia sematkan di tulisannya tentang bimbel vs sekolah yang terbit kemarin di Terminal Mojok. Sudah baca? Saya sudah. Itu sebabnya saya tergerak untuk membuat tulisan balasan.

Sebagai guru yang menghabiskan belasan tahun berdiri di depan kelas, saya mengerti keresahan penulis. Apa yang Mas Supriyadi sebutkan dalam tulisannya, beberapa memang fakta yang terjadi di lapangan.

Tapi, Mas Supriyadi, dengan segala hormat, menyimpulkan bahwa mending ikut bimbel untuk cari ilmu, sedangkan sekolah buat cari ijazah saja, adalah cacat logika yang berbahaya. Ibarat dokter yang frustrasi dengan sistem RS yang buruk, lalu menyimpulkan, “Dah lah, nggak usah berobat ke dokter. Ke dukun aja sekalian!”

Bukan kompetitor, tapi saling melengkapi

Cacat logika pertama dari argumen “lebih baik bimbel daripada sekolah” adalah persepsi seolah sekolah dan bimbel adalah dua hal yang harus diadu. Padahal, hubungan keduanya adalah simbiotik mutualisme yang saling melengkapi.

Kenapa bimbel bisa terlihat begitu sakti? Kita semua tahu jawabannya karena bimbel penuh dengan trik cepat yang membuat siswa bisa menjawab soal dengan cepat. Tapi, dari mana siswa mendapatkan fondasi dasarnya? Tentu saja dari apa yang mereka pelajari pagi harinya bersama guru di sekolah.

Singkatnya, sekolah berperan menanam bibitnya, sedangkan bimbel yang memetik buahnya.

BACA JUGA: 4 Dosa Bimbel terhadap Dunia Pendidikan: Kesejahteraan Guru Diabaikan, Esensi Belajar Dilupakan

Tidak semua orang mampu ikut bimbel

Narasi “Mending ikut bimbel” juga menyimpan bias kelas sosial. Maaf aja, nih, biaya ikut bimbel itu mahal, Bro! Saya tahu karena beberapa waktu lalu, anak saya mendaftar bimbel. Biayanya, nyaris 8 juta untuk satu tahun. Angka ini jelas bukan nominal yang mudah bagi banyak orang. Jangankan untuk mendaftar bimbel, pernah kejadian, ada siswa saya yang tidak berangkat sekolah karena tidak punya uang untuk naik angkutan umum.

Itu sebabnya, sekolah negeri yang gratis jadi benteng pertahanan untuk mengenyam hak pendidikan dan tentu saja, harapan untuk memperbaiki nasib. Maka, mengerdilkan peran sekolah dengan menyebut “mending bimbel saja” itu seperti menaburkan garam di atas luka. Perih.

Sekolah tidak pernah menjanjikan akan pintar

Bagian lain dari tulisan Mas Supriyadi menurut saya juga perlu diluruskan yaitu, bagian yang menyebut bahwa sekolah itu membosankan, tidak ada jaminan pintar atau cerdas.

Sekarang saya balik tanya. Memangnya ada ya sekolah yang menjanjikan siswanya akan jadi anak yang pintar, cerdas dan bisa membelah Laut Merah? Kan tidak ada. Tidak di zaman ketika piket kelas harus menepuk penghapus kapur sampai batuk-batuk, maupun di zaman sekarang ketika kelas sudah dipasangi Papan Tulis Digital (Interactive Flat Panel / IFP).

Lagipula, agaknya Mas Supriyadi ini lupa (atau bahkan nggak tau?), kalau pintar itu bukan hanya tentang nilai yang tertera di rapor. Jika standar cuma nilai rapor, ya tentu saja bimbel pemenangnya. Kan bimbel memang didesain untuk orientasi jangka pendek: kasih pola, hajar soal, lulus ujian. Selesai.

Sementara sekolah? Dia adalah kawah candradimuka.

Hal-hal yang tidak ditemukan di bimbel

Biar saya ingatkan lagi. Di sekolah formal, ada banyak ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi mereka. Ada wadah organisasi seperti OSIS, berbagai ekstrakurikuler, hingga kompetisi bergengsi seperti Olimpiade Olahraga Sains Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N), Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), dan masih banyak lagi lainnya.

Secara pragmatis, keaktifan dan prestasi di sekolah formal ini menghasilkan portofolio yang konkret. Sertifikat organisasi atau piagam kejuaraannya diakui legal oleh negara untuk mendaftar ke jenjang berikutnya. Ini, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh lembaga bimbel mana pun.

Lebih dari itu, ada momen emosional yang mahal harganya di sekolah. Misalnya, saat kelas mendapat giliran menjadi petugas upacara bendera, diskusi alot untuk menentukan tema mading kelas, momen mendadak insaf jelang ujian, termasuk keseruan mengikuti lomba saat class meeting atau perayaan Hari Kemerdekaan.

Saya jadi ingat ketika ada lomba tarik tambang di sekolah. Ada siswa yang sehari-hari dikenal sangat pendiam. Tapi, ketika dia diikutsertakan dalam lomba tarik tambang, dia jadi kunci kemenangan kelas. Dan meledaklah sorak sorai mengelu-elukan di anak pendiam ini. Dinamika emosional dan sosial seperti ini, tidak akan pernah bisa dibeli di bimbel.

Sekolah memang punya PR, tapi bukan berarti bisa diganti

Saya tidak akan berpura-pura bahwa sekolah sudah baik-baik saja. Tidak akan pula bilang bahwa pendidikan kita baik-baik saja. Tidak. Sekolah memang punya banyak PR. Masih banyak yang harus dibenahi.

Tapi, belasan tahun menjadi guru mengajarkan saya bahwa anak-anak yang tumbuh menjadi manusia yang baik bukan semata-mata karena nilai rapornya tinggi. Mereka tumbuh demikian karena pernah duduk di ruang kelas yang tidak sempurna, bersama teman-teman yang kadang nyengiti, menghadapi guru yang kadang masih text book, tapi, mereka memilih untuk tetap bertahan dan terus maju.

Pengalaman itu yang kemudian membentuk toleransi, empati, dan kemampuan hidup mereka dalam masyarakat yang majemuk. Dan itulah yang dinamakan dengan pendidikan sejati.

Maka, terjawablah pertanyaan yang jadi pembuka tulisan ini: Kalau les atau bimbel memang lebih efektif mencerdaskan siswa, lalu sebenarnya sekolah itu fungsinya apa?

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menjamurnya Bimbel Bukan karena Pendidikan Kita Ampas, tapi karena Mengajar di Bimbel Memang Lebih Mudah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version