Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Sekolah Bukan Cuma Formalitas, Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
25 Mei 2026
A A
Sekolah Bukan Cuma Formalitas. Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

Sekolah Bukan Cuma Formalitas. Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau les atau bimbel memang lebih efektif mencerdaskan siswa, lalu sebenarnya sekolah itu fungsinya apa?

Itulah pertanyaan Mas Supriyadi yang dia sematkan di tulisannya tentang bimbel vs sekolah yang terbit kemarin di Terminal Mojok. Sudah baca? Saya sudah. Itu sebabnya saya tergerak untuk membuat tulisan balasan.

Sebagai guru yang menghabiskan belasan tahun berdiri di depan kelas, saya mengerti keresahan penulis. Apa yang Mas Supriyadi sebutkan dalam tulisannya, beberapa memang fakta yang terjadi di lapangan.

Tapi, Mas Supriyadi, dengan segala hormat, menyimpulkan bahwa mending ikut bimbel untuk cari ilmu, sedangkan sekolah buat cari ijazah saja, adalah cacat logika yang berbahaya. Ibarat dokter yang frustrasi dengan sistem RS yang buruk, lalu menyimpulkan, “Dah lah, nggak usah berobat ke dokter. Ke dukun aja sekalian!”

Bukan kompetitor, tapi saling melengkapi

Cacat logika pertama dari argumen “lebih baik bimbel daripada sekolah” adalah persepsi seolah sekolah dan bimbel adalah dua hal yang harus diadu. Padahal, hubungan keduanya adalah simbiotik mutualisme yang saling melengkapi.

Kenapa bimbel bisa terlihat begitu sakti? Kita semua tahu jawabannya karena bimbel penuh dengan trik cepat yang membuat siswa bisa menjawab soal dengan cepat. Tapi, dari mana siswa mendapatkan fondasi dasarnya? Tentu saja dari apa yang mereka pelajari pagi harinya bersama guru di sekolah.

Singkatnya, sekolah berperan menanam bibitnya, sedangkan bimbel yang memetik buahnya.

BACA JUGA: 4 Dosa Bimbel terhadap Dunia Pendidikan: Kesejahteraan Guru Diabaikan, Esensi Belajar Dilupakan

Tidak semua orang mampu ikut bimbel

Narasi “Mending ikut bimbel” juga menyimpan bias kelas sosial. Maaf aja, nih, biaya ikut bimbel itu mahal, Bro! Saya tahu karena beberapa waktu lalu, anak saya mendaftar bimbel. Biayanya, nyaris 8 juta untuk satu tahun. Angka ini jelas bukan nominal yang mudah bagi banyak orang. Jangankan untuk mendaftar bimbel, pernah kejadian, ada siswa saya yang tidak berangkat sekolah karena tidak punya uang untuk naik angkutan umum.

Baca Juga:

Kalau Mau Anak Pintar Cukup Ikut Les atau Bimbel Saja, Sekolah Cuma buat Formalitas

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game

Itu sebabnya, sekolah negeri yang gratis jadi benteng pertahanan untuk mengenyam hak pendidikan dan tentu saja, harapan untuk memperbaiki nasib. Maka, mengerdilkan peran sekolah dengan menyebut “mending bimbel saja” itu seperti menaburkan garam di atas luka. Perih.

Sekolah tidak pernah menjanjikan akan pintar

Bagian lain dari tulisan Mas Supriyadi menurut saya juga perlu diluruskan yaitu, bagian yang menyebut bahwa sekolah itu membosankan, tidak ada jaminan pintar atau cerdas.

Sekarang saya balik tanya. Memangnya ada ya sekolah yang menjanjikan siswanya akan jadi anak yang pintar, cerdas dan bisa membelah Laut Merah? Kan tidak ada. Tidak di zaman ketika piket kelas harus menepuk penghapus kapur sampai batuk-batuk, maupun di zaman sekarang ketika kelas sudah dipasangi Papan Tulis Digital (Interactive Flat Panel / IFP).

Lagipula, agaknya Mas Supriyadi ini lupa (atau bahkan nggak tau?), kalau pintar itu bukan hanya tentang nilai yang tertera di rapor. Jika standar cuma nilai rapor, ya tentu saja bimbel pemenangnya. Kan bimbel memang didesain untuk orientasi jangka pendek: kasih pola, hajar soal, lulus ujian. Selesai.

Sementara sekolah? Dia adalah kawah candradimuka.

Hal-hal yang tidak ditemukan di bimbel

Biar saya ingatkan lagi. Di sekolah formal, ada banyak ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi mereka. Ada wadah organisasi seperti OSIS, berbagai ekstrakurikuler, hingga kompetisi bergengsi seperti Olimpiade Olahraga Sains Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N), Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), dan masih banyak lagi lainnya.

Secara pragmatis, keaktifan dan prestasi di sekolah formal ini menghasilkan portofolio yang konkret. Sertifikat organisasi atau piagam kejuaraannya diakui legal oleh negara untuk mendaftar ke jenjang berikutnya. Ini, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh lembaga bimbel mana pun.

Lebih dari itu, ada momen emosional yang mahal harganya di sekolah. Misalnya, saat kelas mendapat giliran menjadi petugas upacara bendera, diskusi alot untuk menentukan tema mading kelas, momen mendadak insaf jelang ujian, termasuk keseruan mengikuti lomba saat class meeting atau perayaan Hari Kemerdekaan.

Saya jadi ingat ketika ada lomba tarik tambang di sekolah. Ada siswa yang sehari-hari dikenal sangat pendiam. Tapi, ketika dia diikutsertakan dalam lomba tarik tambang, dia jadi kunci kemenangan kelas. Dan meledaklah sorak sorai mengelu-elukan di anak pendiam ini. Dinamika emosional dan sosial seperti ini, tidak akan pernah bisa dibeli di bimbel.

Sekolah memang punya PR, tapi bukan berarti bisa diganti

Saya tidak akan berpura-pura bahwa sekolah sudah baik-baik saja. Tidak akan pula bilang bahwa pendidikan kita baik-baik saja. Tidak. Sekolah memang punya banyak PR. Masih banyak yang harus dibenahi.

Tapi, belasan tahun menjadi guru mengajarkan saya bahwa anak-anak yang tumbuh menjadi manusia yang baik bukan semata-mata karena nilai rapornya tinggi. Mereka tumbuh demikian karena pernah duduk di ruang kelas yang tidak sempurna, bersama teman-teman yang kadang nyengiti, menghadapi guru yang kadang masih text book, tapi, mereka memilih untuk tetap bertahan dan terus maju.

Pengalaman itu yang kemudian membentuk toleransi, empati, dan kemampuan hidup mereka dalam masyarakat yang majemuk. Dan itulah yang dinamakan dengan pendidikan sejati.

Maka, terjawablah pertanyaan yang jadi pembuka tulisan ini: Kalau les atau bimbel memang lebih efektif mencerdaskan siswa, lalu sebenarnya sekolah itu fungsinya apa?

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menjamurnya Bimbel Bukan karena Pendidikan Kita Ampas, tapi karena Mengajar di Bimbel Memang Lebih Mudah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Mei 2026 oleh

Tags: bimbelguru sekolahkurikulum sekolahSekolah
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

3 Keunggulan Sekolah di Desa yang Jarang Disadari Orang

3 Keunggulan Sekolah di Desa yang Jarang Disadari Orang

25 Mei 2025
5 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan di Sekolahnya Jan Ethes

5 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan di Sekolahnya Jan Ethes

9 Agustus 2022
Cooking Class buat Anak Kecil, Kegiatan dengan Dalih Life Skill yang Ngadi-ngadi

Kelas Memasak buat Anak Kecil, Kegiatan dengan Dalih Life Skill yang Ngadi-ngadi

3 Maret 2023
Sisi Gelap Pemasangan Banner Daftar Siswa Diterima PTN oleh Sekolah

Sisi Gelap Pemasangan Banner Daftar Siswa yang Diterima PTN oleh Sekolah

29 Juli 2023
Bukannya Meringankan, Kerja Kelompok Malah Menambah Beban

Bukannya Meringankan, Kerja Kelompok Malah Menambah Beban

9 Desember 2022
Jam ke-0 untuk Bimbel Sekolah Cuma Bikin Siswa Capek, Nggak Tambah Pintar Mojok.co

Jam ke-0 untuk Bimbel Sekolah Cuma Bikin Siswa Capek, Nggak Tambah Pintar 

13 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beli Lauk di Luar dan Memasak Nasi Sendiri, Siasat Hidup Hemat In This Economy Mojok.co

Siasat Hidup Hemat In This Economy, Beli Lauk di Luar dan Memasak Nasi Sendiri

21 Mei 2026
Makam Kembang Kuning, Solusi Healing di Tengah Keterbatasan Lahan Surabaya yang Bikin Pening

Makam Kembang Kuning, Solusi Healing di Tengah Keterbatasan Lahan Surabaya yang Bikin Pening

22 Mei 2026
Anak Muda Muak Hidup di Wonogiri, Cari Kerja Susah apalagi yang Memberi Upah Layak Mojok.co

Anak Muda Muak Hidup di Wonogiri, Cari Kerja Susah apalagi yang Memberi Upah Layak

23 Mei 2026
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Seni Bertahan Hidup di Musim Kondangan: Panduan Strategis agar Dompet Tak Sekarat dan Berakhir Melarat

24 Mei 2026
Sentolo Kulon Progo Banyak Berubah dan Warlok Kebagian Jadi Penonton Aja Mojok.co

Sentolo Kulon Progo Banyak Berubah dan Warlok Kebagian Jadi Penonton Aja 

22 Mei 2026
Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

19 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.