Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Sebat

Sejak Kapan Rokok Punya Gender?

Nadya Rizqi Aditya oleh Nadya Rizqi Aditya
30 September 2019
A A
gender rokok

gender rokok

Share on FacebookShare on Twitter

“Ih, cewek tuh kalo udah ngerokok pasti nakal banget! Pasti etikanya bobrok, deh.”  WHOAAAA! Stop! Hold my beer for a little while, please? Let me tell you a story and a conspiracy.

Saya adalah seorang maba yang berasal dari suatu daerah kecil di Jawa Timur yaitu Mojokerto. Kebetulannya, saya diberi kesempatan untuk mengemban pendidikan tinggi di Jogjakarta. Tentunya kultur tempat saya yang notabenenya adalah kota kecil amat jauh berbeda dengan Jogjakarta, kota destinasi favorit mayoritas turis sekaligus kota pendidikan. Mungkin karena ruang lingkupnya masih sama-sama Jawa, perbedaannya bukan bahasa dan sikap sopannya, ya. Tetapi mari kita coba lihat dari perspektif yang berbeda yaitu dari lifestyle pemudanya.

Yhaaa kalau perihal pemudanya, saya rasa mau di kota besar atau kota kecil, mungkin hampir sama. Ada yang memilih rajin dirumah, ada yang memilih untuk ngopa ngopi ngopa ngopi. Dan dalam dunia perngopian, pasti juga diarungi dengan per-udud-an. Nah, ini nih. Beberapa maba (terutama yang berasal dari kota kecil) mungkin masih merasakan culture shock kalau tahu sudah banyak wanita yang sebal-sebul di tempat ngopi. Kayak kaget aja gitu. Pasti tanpa disadari ada pemikiran, “wih, ini nih, cewek ngudud.” Ada yang menganggap keren, ada juga yang menganggap ‘apa-apaan sih?!’.

Tahun sudah beranjak menjadi 2019, permasalahan emansipasi wanita tetap saja menjadi masalah sejak jaman Raden Ajeng Kartini. Dari yang awalnya hanya perihal pekerjaan yang hanya boleh dikerjakan oleh kaum pria, hingga rokok yang seolah punya gender untuk penikmatnya. Padahal, tidak sedikit pula kaum wanita yang kini juga merokok. Eh sedari dulu, mbah-mbah putri kita juga ada yang merokok lo padahal. Tetapi, permasalahannya, menjadi seorang wanita perokok tidak semudah para pria yang bisa bal bul di mana saja tanpa dipandang sebelah mata, apalagi sampai mengaitkan dengan etika dan moralnya.

Saya sendiri juga heran dan bertanya-tanya, sejak kapan sih ya, stigma mayoritas masyarakat perihal perempuan yang merokok ini negatif? Tak sedikit pula lho, masyarakat yang menganggap seorang perokok perempuan ini cewek nakal dan cewek loss nggak ada rem. hihi, miris ya ketika standardisasi moral hanya dilihat berdasarkan apa yang dikonsumsi seseorang. Iya sih, memang tak jarang juga seseorang yang tidak pegang rokok atau memilih untuk tidak merokok (mau itu cewek atau cowok) dianggap lebih keren karena tidak tergoda dengan kenikmatan inspirasi saat menghisap setiap puntungnya.

Saya pun akui, kalau saya ketemu yang begitu, saya juga menganggap mereka keren. Tapi, kalo kata Yura Yunita nih cuy, tapi keren nggak cukup, yang paling penting kita harus bahagia! Kalau boleh jujur nih, saya yakin, kebanyakan alasan mereka merokok pasti bukan karena mereka ingin terlihat keren atau numpang beken. Pasti ada alasan bijak dan dewasa di balik itu.

Ketika saya bertanya kepada beberapa teman dengan persepsi atau pun prinsip yang berbeda-beda tentang perokok perempuan, kebanyakan dari mereka menjawab, “sebenarnya, bebas saja, kan ya. Itulah kenapa ada human rights. Pasti ada alasan di balik itu dan mereka hebat karena pasti merokok nggak cuma sekedar hisap sebul hisap sebul aja tapi ada banyak resiko dibalik itu yang mereka berani terima.” Eits, jangan salah. Tidak semua menjawab seperti itu, ada juga yang bilang, “harusnya sih, jangan ya. Lagian ngapain sih, ngerokok kalo emang nggak terlalu butuh? Kesehatan itu lho, yang lebih penting.”

Malah ada jawaban dari seorang teman yang sangat saya pakemkan dalam pikiran. Dialognya kira-kira begini,

Baca Juga:

Tulungagung, Kota yang Siap Bersaing dan Menggeser Kudus sebagai Pemilik Takhta Kota Kretek

Kemasan Rokok Polos Bukti Pemerintah Tidak Mengenal Rakyatnya. Pasti Gagal, dan yang Untung Justru Rokok Ilegal!

“Emang menurutmu, cewek ngerokok iku nakal?” tanya saya.

“Yo jelas ogak! Enak banget langsung ngejudge nakal gak e tekan opo sing dikonsumsi. (Ya jelas enggak! Enak aja langsung ngejudge nakal tidaknya dari apa yang dikonsumsi)”

Dilanjutkan, “lho, tapi selama iki lho, nek ono wedok sing ngudud, mesti diarani ndableg. Padahal kan wedok-wedok sing rokokan iki gak tau lapo-lapo? Zina misale. Mereka lak rokokan tok se?   (Lho, tapi selama ini lho, kalo ada cewek yang ngerokok, pasti dibilang nakal. Padahal kan, cewek-cewek yang ngerokok ini nggak pernah ngapa-ngapain? Zina misalnya. Mereka kan cuma rokokan?”)

“Lha, iku mek bedo pilihan ae kan berarti? Gak onok sing suci. Kabeh wong iku pendosa, mek bedo dalan tok ae.” (Lha, itu cuma beda pilihan aja kan berarti? Nggak ada yang suci. Semua orang itu pendosa, cuma beda jalan aja.)

Kalau dipikir-pikir, setiap manusia itu pasti punya jalan masing-masing, kan ya? Termasuk jalan dalam memilih dosa. Ada wanita yang dia nggak merokok, tapi dia berpakaian ketat. Ada wanita yang dia berhijab, tapi dia ngerokok. Sebenarnya, kalau ada papan skor, mereka semua seimbang kali yhaaa.

Eits, tapi hidup ini bukan perihal melihat siapa yang benar dan salah, kan? Einstein aja bilang, “everything is relative.” Saya setuju banget. Nggak cuma cantik atau ganteng aja yang relatif, tapi semua hal. Baik dan buruk, benar dan salah, itu relatif juga. Sama halnya dengan stigma merokok ini. Nggak adil dong, ketika rokok dianggap biasa saja jika dikonsumsi oleh kaum pria. Tetapi, benar-benar menjadi objek yang tabu jika dikonsumsi oleh kaum wanita.

Adapula argumen seperti ini, “tapi rokok itu bener-bener nggak sehat kan kalo kamu konsumsi!” Gini lho, apa bedanya sama kalau kita konsumsi gula dan micin tiap hari? Sama-sama nggak sehat, kan ya? Kalau boleh dikata, kita ini sama-sama nggak sehat, cuma medianya beda aja. Perokok memilih rokok sebagai media yang tidak menyehatkan paru-paru, sedang beberapa penikmat seblak memilih micin dan gula sebagai media yang tidak menyehatkan pencernaan. Substansinya sama, medianya doang yang beda! Hadeeehh sama-sama nggak sehat aja pakai menyalahkan satu sama lain. Ujung-ujungnya juga urusan usia dan mati, itu bukan urusan kita.

Eh, tapi kalau dipikir-pikir, pro kontra ini juga tidak akan ada ujungnya bahkan kalo sampe Firaun bangkit terus join ngopi sambil menikmati senja bareng kita. Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi perokok perempuan memang harus mengalami banyak tantangan. Karena ya itu tadi lho, stigma negatif yang berkembang di masyarakat perihal dengan seorang perempuan perokok. Pada akhirnya, setiap orang juga akan berbusa membela diri sendiri dengan persepsi masing-masing. Setiap orang juga akan menghidupi apa-apa yang mereka yakini.

Untungnya, kita hidup di negara demokrasi, dengan banyak orang-orang yang cukup dewasa dalam berpikir. Saatnya buka-bukaan  buka mata dan juga buka pikiran. Semua orang punya hak untuk bebas, menghidupi keputusan yang mereka pilih tanpa perlu menggubris apa kata orang. Jangan menganggap seorang wanita perokok sebagai orang yang hina dan nakal sedunia ya, karena sebenarnya rokok juga nggak punya gender, gengs~  (*)

BACA JUGA Inilah Lima Aliran Perokok Dalam Menghadapi Kenaikan Harga Rokok atau tulisan Nadya Rizqi Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2022 oleh

Tags: budaya ketimuranemansipasi wanitaetika dan moralgenderKritik SosialRokok
Nadya Rizqi Aditya

Nadya Rizqi Aditya

ArtikelTerkait

receh

Pertanyaan-Pertanyaan Receh Namun Sangat Berkesan Buat Orang Lain

31 Mei 2019
Iklan Indomilk Gemas 2022 Iklan Cerdas yang Sarat Kritik Sosial Terminal Mojok

Iklan Indomilk Gemas 2022: Iklan Cerdas yang Tampar Masyarakat Indonesia

22 Agustus 2022
patriarkis

Memilih Hidup Sendiri Ketimbang Tunduk pada Budaya Patriarkis

19 Juli 2019
selesai dari masalah

Kita Tidak Akan Pernah Selesai dari Masalah-Masalah

25 Mei 2019
7 Rokok Enak yang Tidak Dijual Di Indomaret

7 Rokok Enak yang Tidak Dijual Di Indomaret

15 Januari 2023
Jadi Perempuan Sulit? Maaf, Jadi Pria Juga Ada Kalanya Sulit, Nona terminal mojok.co

Perempuan dan Laki-laki Bisa Memilih untuk Tidak Tunduk dengan Patriarki

5 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda PCX 160 Dibuat Ceper, Modifikasi Motor yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda PCX 160 Dibuat Ceper, Modifikasi Motor yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan

19 Januari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis ketika Naik Transjakarta (Unsplash)

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

16 Januari 2026
5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

17 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
4 Momen Beloon Jarjit di Serial TV Upin Ipin yang Malah Menghidupkan Cerita Mojok.co

4 Momen Beloon Jarjit di Serial TV Upin Ipin yang Malah Menghidupkan Cerita

18 Januari 2026
Sebagai Warga Pati, Saya Tidak Kaget Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK, karena Selama 24 Tahun Dipimpin 3 Bupati yang Terjerat Skandal

Sebagai Warga Pati, Saya Tidak Kaget Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK, karena Selama 24 Tahun Dipimpin 3 Bupati yang Terjerat Skandal

20 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora
  • Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali
  • Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat
  • Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.